Kamis 16 Desember 2021, 09:15 WIB

Penyakit Diabetes Bersifat Progresif

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Penyakit Diabetes Bersifat Progresif

AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
Tenaga kesehatan mengecek gula darah seorang pasien di Banda Aceh.

 

DIABETES sebagai salah satu penyakit kronis yang angka kasusnya tergolong tinggi di Indonesia, yakni hampir mencapai 19 juta kasus dengan pengobatannya yang tergolong tidak mudah, ternyata memiliki sifat yang progresif. Hal iut dikatakan Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof Ketut Suastika.

Prof Suastika mengatakan kendati diabetes termasuk sebagai penyakit yang memiliki sifat progresif, gambaran klinis dan komplikasi yang terjadi berbeda-beda pada setiap orang.

"Mekanismenya kompleks, rumit dan setiap orang berbeda-beda fenotipe-nya. Jadi, gambaran klinisnya berbeda-beda dengan berbagai komplikasi yang berbeda. Jadi, mengobatinya juga tidak gampang," ujar dia dalam Diskusi Publik Layanan Tatalaksana Penyakit Kronis Terintegrasi dan Inovatif yang digelar daring, Rabu (15/12).

Baca juga: Yuk Mengenal Cedera Saraf Tulang Belakang, Penyebab Meninggalnya Laura Anna

Di sisi lain, diabetes juga bisa terkait suatu kegagalan yang disebabkan oleh berbagai aspek seperti dari faktor pasien yang kurang pengetahuan tentang penyakitnya dan akses. Selain itu, faktor dokter yang terlalu banyak pasien.

Menurut Prof Suastika, bila sudah terjadi komplikasi diabetes, tidak hanya akan membawa kesakitan dan risiko kematian yang tinggi pada pasien, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan pemerintah maupun pasien.

Hal lain yang juga menyulitkan pengobatan diabetes, yakni sistem berupa aksesibilitas layanan kesehatan untuk pasien, ditambah ketersediaan obat yang sebenarnya cukup banyak disediakan melalui mekanisme BPJS.

"Sistem ini yakni aksesibilitasnya. Bisa tidak semua orang mengakses pelayanan kesehatan. Lalu ketersediaan obat. Sebenarnya obat dari BPJS cukup banyak, tetapi apakah semua itu ada di seluruh pelosok negeri ini," kata Prof Suastika.

Selain itu, perlu juga ketersediaan laboratorium walau sederhana seperti untuk pemeriksaan gula darah, HbA1C, dan urine.

Terkait telemedisin dalam pengobatan diabetes, Prof Suastika berpendapat kehadiran layanan ini memperbaiki sekaligus mempercepat akses pelayanan kesehatan terutama bagi mereka dengan berbagai kendala.

"Karena diabetes salah satu penyakit kronik yang sifatnya tidak berubah setiap saat, bukan harian, maka tepat sekali pasien-pasien dengan diabetes ini bisa diterapkan layanan yang bersifat telemedisin," pungkas dia. (Ant/Ol-1)

Baca Juga

dok.ist

Harlah ke-51, Hikmahbudhi Ajak Kader Tingkatkan Kontribusi ke Masyarakat

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 29 Mei 2022, 07:10 WIB
PANCASILA yang merupakan dasar negara, menurut dia harus terus dibumikan dan merupakan sesuatu yang sudah final serta tidak bisa diganggu...
Fanny Laurensia

Kegigihan sang Juara Debat

👤Nike Amalia Sari 🕔Minggu 29 Mei 2022, 06:20 WIB
DEBAT menjadi ajang pertukaran pendapat mengenai suatu...
Dok.IPB

Pakar IPB: Risiko Migrasi BPA Paling Tinggi pada Makanan Kaleng

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 29 Mei 2022, 03:13 WIB
Rencana BPOM untuk mencantumkan label BPA pada galon air minum kemasan, yang beredar secara luas di media hingga saat ini, menjadi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya