Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG klinis Universitas Indonesia Tara de Thouars berpendapat, penting bagi para remaja untuk bisa melewati masa pubertas dengan perilaku yang positif dan tanpa terganggu emosinya (terbawa perasaan) atau baper.
"Penting bagi remaja untuk bisa melewati masa pubertas dengan attitude yang positif dan tanpa baper, agar bisa menemukan purpose serta menjadi versi terbaik dari diri mereka," kata dia dalam siaran persnya, dikutip Rabu (8/12).
Tara merujuk pada teori psikologi perkembangan Erikson's 8 stages of psychosocial development yang mengungkapkan masa remaja menjadi masa pencarian identitas diri.
Baca juga: Ajak Remaja Putri Indonesia Tetap Nyaman dan Gembira meski Pandemi
Pada masa itu, remaja memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi independen dari keluarga, membentuk body image yang positif, diakui, dan diterima lingkungan sosial, serta benar-benar membentuk identitas yang sesuai.
Oleh karena itu, penting sekali bagi remaja untuk bisa diterima, diakui, dan menjadi bagian dari lingkungan sosialnya.
"Sebaliknya, isu-isu seperti perundungan, penolakan, dan juga penilaian negatif dari lingkungannya menjadi hal yang dapat sangat mengganggu emosi atau dalam istilah lain, baper," kata Tara.
Tidak hanya itu, para remaja juga jadi bisa mengalami role confusion. Kondisi ini membuat remaja menjadi tidak bisa menampilkan potensinya secara maksimal, tidak percaya diri, dan menghambat perkembangan secara keseluruhan.
"Apalagi memasuki masa puber yang ditandai dengan menstruasi, secara biologis remaja perempuan pasti mengalami perubahan hormon yang dapat mempengaruhi mood," tutur Tara.
Selebritas Beby Tsabina, termasuk sosok yang juga mendapat komentar negatif. Menurut dia, terutama pada masa menstruasi, hal itu bisa membuatnya baper.
"Untungnya, aku selalu mendapatkan support dari orang-orang di sekitarku. Selain itu, untuk membantuku stay positive serta tetap nyaman seharian," kata Beby. (Ant/OL-1)
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved