Senin 06 Desember 2021, 07:15 WIB

Dokter Tengah Pelajari Reumatik Autoimun di Penyintas Covid-19

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Dokter Tengah Pelajari Reumatik Autoimun di Penyintas Covid-19

Medcom
Ilustrasi covid-19

 

DOKTER spesialis penyakit dalam kosultan reumatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rudy Hidayat mengungkapkan saat ini belum ada data yang mencukupi untuk memastikan apakah sembuh dari covid-19 bisa memicu penyakit reumatik autoimun.

Menurut dia, para ahli kesehatan masih melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan itu.

Penyakit reumatik autoimun diketahui merupakan hasil interaksi adanya faktor genetik yang memudahkan munculnya kondisi autoimun, ditambah dengan faktor lingkungan.

Baca juga: Risiko ODHA Terinfeksi Covid-19 Sama dengan Orang Lain

"Faktor lingkungan yang banyak diteliti salah satunya adalah infeksi virus, tetapi untuk infeksi covid-19 tentu belum cukup data untuk memastikan hal tersebut," kata Rudy dalam keterangan resmi, dikutip Senin (6/12).

"Beberapa jurnal melaporkan adanya pasien-pasien yang didiagnosaarthritis rheumatoid (RA) pascainfeksi covid-19. Namun, hasil penelitian belum diungkapkan secara luas," tutur Rudy.

Lebih lanjut, terkait kondisi yang terjadi pada pasien reumatik terutama reumatik-autoimun pascainfeksi covid-19, Rudy merujuk berbagai laporan yang mengatakan infeksi covid-19 lebih besar dampaknya pada pasien dengan autoimun, apalagi dengan terapi imunosupresan atau obat yang menekan sistem imun.

Di samping itu, infeksi juga dapat menjadi pemicu aktivitas penyakit autoimun. Hal ini menjadi dasar mengapa pasien autoimun dianjurkan untuk segera melakukan vaksinasi covid-19, terutama pada kondisi autoimun yang terkendali, karena keuntungannya yang lebih besar dibandingkan risikonya.

"Sedangkan untuk kondisi pascainfeksi, nampaknya tidak terdapat perbedaan yang signifikan yang berkaitan dengan kondisi autoimun yang diderita, kecuali adanya post-covid syndrome yang dapat memperberat kondisi autoimun," tutur Rudy.

Dia mengatakan, hal ini perlu dievaluasi dengan baik dan teliti oleh dokter yang menangani untuk membedakan mana yang merupakan manifestasi dari reumatik-autoimun atau merupakan manifestasi post-covid syndrome, atau justru kombinasi dari keduanya.

Rudy menyarankan Anda tidak ragu segera berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi jika mengalami gejala post-covid syndrome yang menuju kepada gejala reumatik, ataupun penyakit reumatik autoimun.

"Penanganan dini pada gejala, dapat membantu mempercepat pemulihan," ujar dia.

Penyakit reumatik terjadi saat ada gangguan yang melibatkan sistem organ muskuloskeletal yakni sendi, otot, tulang, dan struktur jaringan ikat) dan autoimun.

Sementara covid-19 disebabkan infeksi virus severe acute respiratory syndrome 2 (SARS-CoV-2) yang menimbulkan kelainan atau gangguan pada sistem organ pernapasan dan berbagai sistem organ lainnya.

Para pakar kesehatan masih membahas kaitan penyakit reumatik terutama kelompok reumatik-autoimun atau penyakit reumatik yang disebabkan autoimun dengan kondisi pascainfeksi covid-19.

Berbagai laporan dari seluruh pelosok dunia, tentang kondisi individu pasca infeksi covid-19 menunjukkan, lebih dari 50% pasien masih memiliki beberapa gejala gangguan muskuloskeletal yang menetap dalam jangka waktu yang cukup lama hingga 6-9 bulan setelah infeksi.

Kondisi yang dikenal dengan post-covid syndrome atau long-covid condition ini sangat mungkin juga disertai gangguan pada sistem organ yang lain, terutama paru dan jantung.

Beberapa gejala gangguan muskuloskeletal yang dilaporkan antara lain kelemahan lengan atau tungkai, nyeri otot, nyeri sendi, kekakuan, bengkak dan kesemutan, juga keluhan kelelahan.

Pasien-pasien dengan keluhan-keluhan yang menetap ini bukan hanya pasien yang sebelumnya dengan infeksi covid-19 sedang atau berat, tetapi juga pasien dengan infeksi yang ringan.

"Para dokter ditantang untuk dapat mengenali kondisi ini dan membedakan dengan kondisi kronis lain, termasuk reumatik autoimun yang memerlukan terapi jangka panjang," kata Rudy.

Dia mengatakan, terapi pada kondisi post covid-19 nantinya lebih bersifat simtomatik dan rehabilitatif, baik dengan obat-obatan maupun dengan modalitas terapi fisik atau latihan fisik. (Ant/OL-1)

Baca Juga

ANTARA/Anis Efizudin

Ini Beda Intoleransi Laktosa dengan Alergi Susu Sapi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 21 Januari 2022, 13:07 WIB
"Perbedaan nyata antara alergi susu dan intoleran laktosa, yaitu dari respon tubuh...
MI/Bary Fathahilah

Omikron Tembus Seribu Kasus, Wagub DKI Minta Warga Disiplin Prokes

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Jumat 21 Januari 2022, 12:37 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan banyaknya kasus omikron di Jakarta tentunya menjadi perhatian jajaran Pemprov DKI...
ANTARA/BASRI MARZUKI

Menteri LHK: Insan Pers Bagian Penting Percepatan Rehabilitasi Mangrove

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 21 Januari 2022, 12:03 WIB
Keberadaan pers yang profesional akan mendorong keterlibatan publik pada aksi-aksi nyata mengawal implementasi kebijakan di tingkat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya