Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI dengan wilayah pesisir yang luas Indonesia menjadi harapan dunia dalam upaya pemulihan lingkungan. Lantas, pemerintah menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.
Meski Pertemuan Konferensi Iklim COP-26 di Glasgow, Skotlandia, dinilai kurang memuaskan, komitmen Indonesia tetap dipegang. Bahkan, Indonesia berambisi untuk mempercepat target yang telah ditentukan sebelumnya dengan terus memperluas penanaman kembali mangrove.
"Kita sudah tahu dari para pakar bahwa mangrove mengadung 4-5 karbon. Ini bisa mempercepat ambisi target rumah kaca samapi 2030. Harapan kita dengan pulihnya mangrove target bisa segera tercapai," ujar Direktur Pengendalian Kerusakaan Perairan Darat (PKPD) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sri Handayaningsih dalam konferensi pers Djarum Foundation, Kamis (18/11).
Untuk itu, kata Sri, peran dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk turut serta mendukung pemerintah. Dirinya mengapresiasi Djarum Foundation lewat program Dajrum Trees For Life (DTFL) yang sudah menanam lebih dari satu juta mangrove di pesisir utara Jawa Tengah.
Menurutnya, semangat tersebut harus tetap dijaga. Mengingat Indonesia merupakan paru-paru dunia sehingga menjaga dan melestarikan hutan merupakan tanggung jawab bersama bagi kesejahteraan generasi mendatang.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa dalam 2 tahun terakhir mangrove di Indonesia menjadi ekossitem yang sangat strategis. Lantas, hal itu juga menjadi perhatian yang luar biasa dari Presiden Joko Widodo dan juga dunia internasional.
"Sebetulnya sudah lama sekali kita melakukan upaya-upaya rehabilitasi tapi delam 2 tahun ini kita benar-benar di dorong bersama untuk berkomitmen mencapai keberhasilan mangrove (target penurunan GRK)," ucapnya.
"Terkait pengelolaan mangrove di Indonesia kita memiliki luas mangrove terbesar dunia. Dari pemutahiran yang dikuncurkan seluas 3,36 juta hektare dimana terluas di dunia dengan 20% mangrove dunia atau 36% mangrove Asia," lanjut Sri.
Luas tersebut juga nengandung biodiversity yang sangat penting untuk dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat. Artinya upaya pelestarian mangrove tidak hanya semata-mata untuk lingkungan tetapi juga ada keuntungan secara ekonomi bila dikelola dengan baik.
Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji mengatakan bahwa sejak tahun 2008 pihaknya sudah memulai inisiasi menanam kembali mangrove. Hingga tahun ini, tercatat lebih dari satu Juta mangrove telah ditanam di Desa Mangkang, Jawa Tengah yang merupakan daerah rawan abrasi dan banjir rob.
"Kami sudah melihat sendiri daerah Mangkang menjadi relatif lebih aman dari ancaman banjir rob selama beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Menfaat yang dapat dirasakan tersebut harus menjadi pendoronga bagi semua elemen masyarakat untuk terlibat aktif. Khususnya kaum muda saat ini sudah banyak yang penduli, yang mereka butuhkan adalah arahan.
"Kita semua terpanggil untuk ikut menanam mangrove sehingga masyarakat luas akan bertanggung jawab karena manfaatnya sangat besar," imbuhnya.
"Perjalanan masih panjang dan tentunya tidak dapat kami lakukan sendiri. Kerja selama 13 tahun ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan terus bekerja bersama masyarakat dan semua pihak untuk memulihkan dan menjaga kelestarian lingkungan," kata dia
Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia, Mahawan Karuniasa mengatakan bahwa capaian Indonesia sejauh ini sudah luar biasa. Dibandingkan dengan negara-negara lain, komitmen Indonesia sangat jelas dengan berbagai upaya konkret.
"Kita baru ketemu di konferensi perubahan iklim tapi saya kecewa. Di dunia kita mikir rencananya aja gak nyampai, tapi di sini satu juta sudah tanam," ungkapnya.
Menurutnya, menanam mangrove memang tidak mudah sehingga tidak boleh sembarang menebang. Meski bisa digunakan untuk mendukung ekonomi masyarakat, pilih pilah merupakan langkah bijak yang harus diperhatikan.
"Target sudah kita tetapkan, Indonesia sudah luar biasa 2030. Kita sudah lebih banyak penyerapan. Ini dekade kesempatan kita untuk kembalikan lingkungan dunia. Mari kita lakukan aksi," tandasnya. (Van/OL-09)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Pentingnya sertifikat sebagai perlindungan hukum bagi petani. Menurutnya, tanpa kepastian legal, justru ada risiko lahan diambil pihak lain.
Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
Selain untuk rehabilitasi mangrove, alat yang telah terdaftar sebagai paten sederhana sejak September 2025 ini juga dapat difungsikan untuk penanaman tanaman lumpur lainnya.
Kementerian Kehutanan mencatat capaian positif dalam pelaksanaan rehabilitasi mangrove sepanjang 2025.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
1.000 pohon mangrove yang disiapkan oleh PT Position ini bertujuan untuk menahan abrasi pantai, mengurangi dampak gelombang laut, serta meminimalisasi risiko bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved