Senin 25 Oktober 2021, 17:30 WIB

Epidemiolog: Gelombang Ketiga Covid-19 Merupakan Keniscayaan

Atalya Puspa | Humaniora
Epidemiolog: Gelombang Ketiga Covid-19 Merupakan Keniscayaan

CDC
Ilustrasi virus korona

 

EPIDEMIOLOG Universitas Gadjah Mada Riris Andono Ahmad menegaskan munculnya gelombang ketiga covid-19 merupakan sebuah kenicayaan. Sebab, penularan akan terus terjadi selama virus masih ada.

“Kemungkinan adanya gelombang Covid-19 berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Tinggal pertanyaanya itu kapan terjadi dan seberapa tinggi ini sangat tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat,” kata Riris dalam keterangan resmi, Senin (25/10).

KIa menyebutkan, kemunculan gelombang ketiga bergantung pada kondisi di masyarakat. Mobilitas interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi penerapan protokol kesehatan yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker di masyarakat merupakan situasi yang bisa memicu gelombang covid-19 ketiga nantinya.

“Jadi, tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” terangnya.

Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menyampaikan bahwa virus covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19, kekebalan yang didapat pun akan menurun seiring berjalannya waktu.

Terkait vaksinasi. Beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi seperti Israel, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan Covid-19 akibat varian Delta. Riris menjelaskan saat ada varian Delta dengan tingkat penularan lebih tinggi membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi.

Misalnya sebelum adanya varian Delta untuk mendapatkan kekebalan kelompok sekitar 70% populasi harus sudah divaksin. Namun, sejak adanya varian Delta, maka cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80%. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100%.

Ia menjelaskan dengan kondisi itu artinya vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80% mensyaratkan sekitar 230 juta penduduk harus divaksin. Dalam pelaksanaannya pun seyogianya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kelompok.

“Ini kan sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Riris meminta masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Sebab, risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat.

“Saat penularan tinggi dilakukan intervensi besar-besaran dengan PPKM. Begitu terkendali aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun, pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi,” urainya.

Karenanya Riris kembali mengimbau masyarakat untuk tetap patuh menerapkan protokol kesehatan. Sementara pemerintah diminta untuk memperkuat 3T yakni testing, tracing, dan treatment. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Teknologi Buat Anak Muda Makin Dekat dengan Literasi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 09 Desember 2021, 06:45 WIB
"Jadi (dulu) kalau mau ngerumpiin buku kesulitan. Sekarang ngomongin buku lewat direct message (DM) juga bisa, kita punya forum di...
Dok. Istimewa

Merawat Kucing Liar di Kampus

👤MI 🕔Kamis 09 Desember 2021, 06:20 WIB
DI luar kegiatannya mengelola akun @infovaksindiy dan bekerja di salah satu kampus di...
ANTARA

Berbagi Info Seputar Vaksin

👤Fathurrozak 🕔Kamis 09 Desember 2021, 06:10 WIB
SOLIDARITAS masyarakat menjadi salah satu kunci untuk di tengah pandemi covid-19, mulai saling bantu menyediakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya