Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PERBEDAAN paham menjadi sebuah keniscayaan. Penelitian studi kasus yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Masjid Agung Mataram, Kotagede, Yogyakarta, menampilkan perspektif baru dalam memandang toleransi beragama.
Penelitian yang dilakukan oleh M. Syamsuddin, Kurniatul Jannah (Fakultas Ilmu Sosial), Novia Indriani (Fakultas Bahasa Seni), Aditia Pramudia, dan M. Insan Fathin (FMIPA) telah menemukan model bertoleransi yang unik dan nantinya dapat diimplementasikan masyarakat pada kehidupannya.
Benni Setiawan, dosen pembimbing dalam penelitian ini mengemukakan bahwa temuan dalam penelitian ini mendorong masyarakat hidup damai dalam bingkai kemanusiaan. Penelitian ini melibatkan abdi dalem Keraton Yogyakarta, takmir masjid, warga Muhammadiyah, dan masyarakat Islam Kejawen di lingkungan Masjid Agung Mataram sebagai narasumber.
Penelitian Riset Humaniora didanai oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) berangkat dari kegelisahan jika selama ini agama dan kebudayaan kerap dipandang melahirkan sebuah pergesekan. Penelitian yang membawa mahasiswa menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-34 di Universitas Sumatera Utara ini, menemukan, bahwa keduanya bisa menciptakan nilai positif untuk mencegah disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
“Temuan pada penelitian ini sesuai dengan konsep-konsep Islam Rahmatan lil 'alamin yang dianut oleh kedua entitas yang sama-sama lahir dari Keraton Yogyakarta. Muhammadiyah dan Islam Kejawen menyatu dalam ruh Yogyakarta yang toleran dan damai” terang M. Syamsuddin, ketua peneliti penelitian ini dalam keterangan tertulisnya, yang diterima mediaindonesia.com, Senin ( 18/10).
Hal itu terbukti bahwa Muhammadiyah dan Islam Kejawen dapat bersama-sama melaksanakan kegiatan pada perayaan Satu Suro di lingkungan Masjid Agung Mataram. Perayaan ini dalam rangka Tahun Baru Jawa. Biasanya masyarakat Jawa yang berpaham Islam Kejawen melakukan sejumlah ritual dan tradisi. Nilai toleransi yang terbangun dalam ritual itu terbangun saat Muhammadiyah di Kotagede yang terlibat sebagai penghulu ritual-ritual Islam Kejawen dan acara Tahlilan. Praktik ini mengubur anggapan bahwa Muhammadiyah anti terhadap ritual dan tahlilan.
Praktik di atas bukan berarti Muhammadiyah melestarikan atau membenarkan hal-hal yang bersifat syirik, bid’ah, tahayul, dan khurafat. Akan tetapi inilah cara Muhammadiyah memahami dan menyikapi dengan pendekatan dakwah, kedewasaan, dan kemodernan Persyarikatan dalam memandang budaya.
“Ini model hubungan toleransi aktif yang ditemukan dalam penelitian ini” tutur Kurniatul Jannah. Model toleransi mensyaratkan keterlibatan seseorang walau ada perbedaan pemahaman namun tetap memiliki tujuan guna menjaga keharmonisan. Saat semua mampu bersikap toleran secara aktif, maka disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara dapat dicegah. “Toleransi tanpa stigma negatif menjadi kekuatan riset ini”, tambah Aditia. (OL-13)
Baca Juga: Kasus Positif Covid-19 di Klaten Bertambah 6 Orang
Menteri Agama mengajak umat Islam menjadikan Ramadan 1447 H/2026 M sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial, toleransi, dan harmoni kebangsaan di tengah perbedaan awal puasa.
Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. KH Anwar Iskandar dari MUI mengimbau umat Islam menyikapi perbedaan awal puasa dengan bijak.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Ia mengajak umat Islam menyikapi perbedaan awal puasa dengan bijak.
Hukum mengucapkan Selamat Natal dari Muslim menurut Islam. Simak dalil Al-Qur’an dan perbedaan pendapat ulama secara lengkap.
Masjid Ramah Pemudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 untuk menghadirkan masjid sebagai ruang layanan publik yang inklusif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Chico ini mengaku bersyukur dengan pengalaman pendidikannya di sekolah Katolik sejak SD hingga SMP, yang membuatnya memahami betul pentingnya toleransi.
Abdul Mu’ti menukil buku Tom Nichols Matinya Kepakaran (The Death Of Expertise) yang menggambarkan ilmuwan itu semakin tersaingi oleh berbagai teknologi.
Bencana yang terjadi dengan demikian bukan sarana memecah belah umat, apalagi provokasi gerakan-gerakan antikeindonesiaan.
Jamaah An-Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan, menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sama dengan Muhammadiyah.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto, Muhammadiyah mendukung penuh tanpa ragu.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat menyikapi perbedaan awal Ramadan dengan bijak serta menjadikan puasa sebagai perekat sosial dan penguat akhlak.
UMAT Islam di berbagai belahan dunia bersiap menyambut puasa Ramadan 1447 H.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved