Jumat 03 September 2021, 23:47 WIB

Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Kerusakan Organ Tubuh pada Pasien Covid-19

Ghani Nurcahyadi | Humaniora
Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Kerusakan Organ Tubuh pada Pasien Covid-19

AFP/Lizabeth Menzies
Morfologi Covid-19

 

BADAI sitokin kembali menjadi topik segar di tengah masih merebaknya covid-19 di Indonesia, setelah presenter dan artis Indonesia Deddy Corbuzier mengaku mengalaminya belum lama ini. 

Deddy Corbuzier mengatakan dirinya hampir meninggal karena Covid-19, sekaligus mengalami badai sitokin yang cukup dahsyat.

Dokter Spesialis Paru Erlang Samoedro pun membenarkan, aktivitas badai sitokin berlebih bisa menyebabkan organ rusak dan kondisi pasien cepat memburuk. Sitokin juga bisa menyerang siapa saja, khususnya yang mengalami peradangan, akibat tubuh telah masuk virus ataupun bakteri. 

"Badai sitokin keluar ketika kita terpapar infeksi, itu adalah proses peradangan, sebagai bagian dari respon tubuh atas ancaman. Ancamannya misalnya Covid-19 atau baktei, virus," kata dia dalam diskusi virtual 'Apa itu Badai Sitokin dan Bagaimana Gejalanya?', Jumat (3/9).

Ia menyebut, pada kasus Covid-19, jika badai sitokin keluar maka organ yang umumnya rusak adalah paru-paru. Namun demikian, selain paru-paru juga dapat menyerang ginjal hingga pengentalan darah dan tentu meningkatkan risiko pada kematian.

"Pada kondisi normal saja sitokin bisa tinggi, apalagi komorbid. Normal saja sudah ada timbulkan peradangan sendiri atas sakitnya itu. Apalagi tambah sakit lain, itu otomatis bisa tambah peradangan. Peradangan lebih tinggi itu timbulkan kematian," ucapnya.

Baca juga : Cakupan Vaksinasi Masyarakat Rentan dan Lansia Masih Rendah

Erlang pun menjelaskan, terapi maupun pengobatan pasien dengan badai sitokin sampai saat ini masih dalam penelitian. Belum ada obat yang bisa dianggap menyembuhkan suatu penyakit 100%.

Namun demikian, lanjut dia, dokter pada umumnya akan memberikan pengobatan sesuai gejala yang timbul. Serta juga bisa memberikan obat antivirus maupun antiperdangan.

"Obat-obat ada, tapi kita enggak bisa jamin 100%, karena itu semua balik lagi ke respon tuhuh. Obat-obat selama ini suportif saja, hanya membantu, tapi belum ada handle 100% sembuh," ungkap Erlang.

Ia pun menyarankan masyarakat agar segera mau divaksin. Ia menilai, dengan divaksin maka tubuh akan mulai bekerja memperkenalkan sistem kekebalan tubuh pada virus corona.

Menurut dia, dengan divaksin memang tidak menyebabkan seseorang bisa terhindari dari infeksi Covid-19, tetapi bisa melengkapi tubuh untuk bisa melawan infeksi virus di kemudian hari. (RO/OL-7)

Baca Juga

AFP/Raymond Roig.

Jalan Kaki usai Makan Bantu Kadar Gula Darah Stabil

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 15:03 WIB
Sekarang ada manfaat lain untuk ditambahkan ke daftar yakni berjalan hanya 2-5 menit setelah makan dapat membantu mencegah lonjakan gula...
Ist

Kemeriahan HUT ke-77 Kemerdekaan RI di Swiss-Belhotel Mangga Besar

👤mediaindonesi.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 14:38 WIB
Menyambut hari ulang tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, Swiss-Belhotel Mangga Besar, Jakarta menawarkan promo menginap...
Ist

Dukung Pelestarian Hutan Melalui Sertifikasi FSC

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 14:29 WIB
Manusia membutuhkan banyak dari hutan dengan sumber dayanya, hutan mampu memberikan begitu banyak untuk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya