Jumat 03 September 2021, 14:15 WIB

Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Tidak Cukup dengan Pemberian Bansos

Atalya Puspa | Humaniora
Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Tidak Cukup dengan Pemberian Bansos

Antara
Ilustrasi kemiskinan

 

KEMISKINAN ekstrem masih jadi tantangan berat dalam pembangunan manusia Indonesia dan tidak cukup diatasi dengan pemberian bantuan sosial (bansos).

"Penanganan kemiskinan ekstrem tidak cukup dengan skema bantuan sosial, tetapi juga harus ditangani dengan pendekatan lingkungan," kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam rilisnya, Jumat (3/9).

Hal itu disampaikan Menko Muhadjir saat mengecek pembangunan wilayah kumuh dengan program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh), RW 23 Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, bersama Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, Kamis (2/9).

Presiden RI Joko Widodo menargetkan tingkat kemiskinan ekstrem bisa mencapai nol persen pada 2024. Saat ini pemerintah berupaya keras mengatasi kemiskinan ekstrem dengan beragam skema.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), disebutkan bahwa saat ini angka kemiskinan ekstrem mencapai 10,86 juta jiwa, atau sebanyak 4% dari jumlah penduduk Indonesia.

Masyarakat dengan kemiskinan ekstrem ini, terang Muhadjir, cenderung membentuk kelompok dan tinggal di satu kawasan kumuh (slum). Karena itu, menurut Muhadjir, untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem perlu dilakukan pembangunan wilayah dengan membangun lingkungan layak huni.

"Jadi karena itu penanganan daerah kemiskinan ekstrem ini nanti akan ditangani secara terintegrasi, termasuk pendekatan lingkungan, penanganan rumahnya yang betul-betul layak huni, kemudian sanitasi dan juga air bersih juga akan diperhatikan," ujarnya.

Program Kotaku
Program Kotaku ini merupakan salah satu dari sejumlah upaya strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia dan mendukung Gerakan 100-0-100, yaitu 100% akses universal air minum, 0% permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak.

Muhadjir mengapresiasi pembangunan Kotaku di kawasan Semanggi. Menurutnya, upaya pengentasan wilayah kumuh itu akan dijadikan model percontohan untuk penanganan wilayah kumuh perkotaan di tempat lain.

"Jadi nanti Pak Wali akan terus melanjutkan relokasi dan tempat itu akan dibikin jalur hijau dan rumah-rumahnya akan dibangun yang lebih layak huni sampai tahun depan. Stafnya pak Menteri PUPR sudah jamin sampai tahun depan selesai," tuturnya.

"Karena itu saya berkunjung ke sini untuk melihat seperti apa penanganannya dan ini saya kira suatu hal yang bagus untuk bisa dicontoh dan direplikasikan di tempat lain," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Menko PMK bersama Walikota Surakarta juga mengecek Rusunawa Semanggi. Rencananya Rusunawa Semanggi akan dirobohkan dan dibangun ulang karena kondisi bangunannya sudah tidak layak huni.

"Kebijakan ini sangat bagus. Karena bangunan ini sudah tidak layak untuk dihuni. Sangat berbahaya karena sudah ada korosi. Saya dukung," ujar Muhadjir.

Selain itu, Menko PMK juga mengecek penataan ulang wilayah kumuh bagi 569 warga kurang mampu di lahan hak pakai (HP 001) Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasarkliwon. Pembangunan itu sebagai komitmen Pemkot dalam menata kawasan kumuh, sekaligus menjadi proyek percontohan tingkat nasional. (H-2)

Baca Juga

Dok. pribadi

Pakar : Asal Tidak Berlebihan, MSG Aman Dikonsumsi 

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Desember 2021, 23:38 WIB
"Melalui peraturan no.23 MSG dinyatakan aman dikonsumsi sebagai bahan penguat rasa, dengan penggunaan secukupnya dan tidak...
Antara/Akbar Nugorho Gumay

Sandiaga Dorong Kolaborasi dengan UT untuk Tingkatkan Sektor Pariwisata 

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Desember 2021, 23:18 WIB
"Saya ingin mengajak UT untuk meningkatkan kecakapan dan kompetensi para pekerja di sektor pariwisata, ekonomi dan kreatif dalam...
Dok. Pahamifi

Gelar Parents Week 2021, Pahamify Dampingi Orang Tua Maksimalkan Potensi Anak di Masa Pandemi 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 02 Desember 2021, 23:01 WIB
Sebanyak 44,4% ibu dan 38,5% ayah menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka dibandingkan dengan sebelum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya