Minggu 08 Agustus 2021, 13:10 WIB

Bahasa Daerah Cerminan Kekayaan Bangsa Berbineka

Faustinus Nua | Humaniora
Bahasa Daerah Cerminan Kekayaan Bangsa Berbineka

MI/Faustinus Nua
Masyarakat menarikan tarian Ja'i diiringi musik tradisional dan teriakan syair berbahasa daerah dalam upacara adat di Ngada, NTT.

 

SEBAGAI negara multikultural, Indonesia terdiri dari sekitar 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS 2010.

Dengan banyaknya suku bangsa tersebut, bahasa daerah yang digunakan juga beragam dan berbeda satu sama lain. Indonesia memiliki 718 bahasa daerah atau terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini.

Layaknya hutan tropis Nusantara yang memiliki keanekargamanan hayati, bahasa daerah pun demikian. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur sebagai identitas, karakter dan kekayaan bangsa berbineka.

Baca juga: Kuatkan Warga Terpapar Covid-19, Ganip: Jaga Pikiran, Semangat Terus

"Keragaman bahasa daerah adalah refleksi atau cerminan kekayaan bangsa yang berbineka," ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Endang Aminudin Aziz kepada Media Indonesia, Kamis (5/8).

Dijelaskannya, bahasa daerah memiliki nilai sosiologis yang sangat lekat kepada penuturnya. Semua penutur bahasa daerah hidup, berkembang dan berpikir dalam bahasa daerah. Bahasa daerah juga memiliki nilai emosional bagi para penuturnya.

"Dalam konteks inilah bangsa Indonesia melihat bahasa daerah sebagai salah satu bentuk kekayaan tak benda bagi masyarakat dan bangsa," tutur Endang.

Sebagai bahasa lokal, bahasa daerah bukanlah penghambat perkembangan Bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa daerah bukan berarti tidak menghargai Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

Salah satu sumber pengayaan kosa kata Bahasa Indonesia berasal dari bahasa daerah. Dari 114.665 entri di dalam KBBI, 6.075 atau 5,3% diantaranya berasal dari bahasa daerah. Sampai saat ini hadir sekitar 228 kamus dwibahasa daerah. "Ini adalah wujud dari rekaman kekayaan dan peradaban dari masyarakat bangsa Indonesia," kata dia.

Meski demikian, seiring berkembangnya zaman, eksistensi bahasa daerah kian terancam dan beberapa bahasa daerah di Indonesia pun sudah dinyatakan punah. Pada Februari 2020, Badan Bahasa mencatat sedikitnya ada 11 bahasa daerah sudah punah dan 25 lainnya terancam punah.

Baca jugaIni 3 Penyebab Harimau ke Luar Hutan

Bahasa yang punah dan terancam punah banyak terdapat di wilayah Indonesia timur. Mengingat, dari 718 bahasa daerah, sebanyak 428 bahasa daerah berasal dari Papua dan pada kenyataannya nyaris tidak dijumpai aksara lokal.

Menurut ahli bahasa Universitas Indonesia (UI) Multamia Lauder, masalah kepunahan bahasa dan bahasa yang terancam punah merupakan topik hangat yang diperbincangkan para pakar bahasa di seluruh dunia. Akan tetapi, masalah ini kurang dipahami orang awan dan para petinggi pengambil keputusan.

"Secara umum jika kita membicarakan masalah bahasa dan budaya, acap kali dianggap tidak penting atau tidak ada urgensinya. Padahal, apabila sebuah bahasa punah, secara otomatis kebudayaannya akan ikut punah," ungkapnya.

Sementara itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Alie Humaedi menerangkan bahasa daerah menjadi identitas kebudayaan suku bangsa dan penyusun khazanah kebudayaan nasional Indonesia.

"Perkembangan bahasa dan budaya daerah seolah dilemahkan dan menjadi lemah karena berbagai faktor internal dan eksternal," tuturnya.

Faktor internal datang dari masyarakat penuturnya, seperti berkurangnya penutur dan ketidakpedulian generasi penerus untuk melestarikan bahasa daerah. Faktor eksternal datang dari kebijakan pemerintah yang tidak melindungi bahasa daerah dan pengaruh budaya serta bahasa asing.

Lantas, menjaga dan melestarikan bahasa daerah merupakan tanggup jawab bersama. Bahasa daerah merupakan identitas dan karakter dari bangsa yang berbineka.

Melestarikan bahasa daerah menjadi bagian penting untuk menjaga kekayaan bangsa. Bagi generasi penerus pesannya masih sama utamakan Bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing dan lestarikan bahasa daerah. (H-3)

Baca Juga

MI/Wandari Putri

Dulu Ditakuti, Kini Disegani

👤MI 🕔Jumat 03 Desember 2021, 06:20 WIB
DI teras bengkelnya, Indra memamerkan beberapa kaki palsu buatannya, termasuk kaki yang selalu ia gunakan untuk...
MI/Wandari Putri

Tumpuan Hidup di Kaki Palsu

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Jumat 03 Desember 2021, 06:00 WIB
TANGAN kekar bertato milik Indra Sumedi, 48, cekatan membuka laci meja pendek berwarna hitam yang ditempatkan di teras...
Dok. pribadi

Pakar : Asal Tidak Berlebihan, MSG Aman Dikonsumsi 

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Desember 2021, 23:38 WIB
"Melalui peraturan no.23 MSG dinyatakan aman dikonsumsi sebagai bahan penguat rasa, dengan penggunaan secukupnya dan tidak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya