Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
STUNTING dapat dipahami sebagai masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Saat ini, sekitar satu dari 3 balita Indonesia masuk dalam kategori stunting. Bila angka stunting tidak membaik maka Indonesia terancam gagal memanfaatkan bonus demografi pada tahun 2030 dan generasi emas di tahun 2045.
Berbagai bukti klinis dan epidemiologis menunjukkan apabila anak balita Indonesia masih banyak mengalami stunting dalam 10 – 20 tahun mendatang.
Para generasi usia produktif negara ini akan memiliki kemampuan kognitif yang kurang, kemampuan produktivitas yang rendah serta sumber daya manusia yang tidak berkualitas.
Dalam keterangan pers, Senin (5/7), praktisi kesehatan komunitas dan kedokteran kerja dari Health Collaborative Center, Dr. dr. Ray W Basrowi, mengatakan bahwa pemanfaatan sumber daya digital dan peran influencer lokal kaum milenial terbukti efektif membangun public awareness sehingga mengubah pola perilaku kesehatan bangsa.
Pernyataan dr.Ray W Basrowi disampaikan saat menjadi narasumber ahli pada webinar Peran Milenial Cegah Stunting BKKBN,
“Banyak penelitian kedokteran komunitas skala kecil di beberapa daerah di Indonesia mampu membuktikan bahwa pendekatan maksimal antara pemanfaatan media digital termasuk media sosial dan influencer," jelasnya.
"Influencer yang dikenal masyarakat lokal mampu meningkatkan pengetahuan ibu serta orangtua muda untuk memperbaiki parenting style termasuk pola asuh makan di keluarga,” ungkap Dr.Ray yang sering memberi edukasi kesehatan di akun Instagram @ray.w.basrowi.
Menurut Dr.Ray, potensi tersebut luar biasa besar untuk membantu pemerintah menurunkan serta mencegah kasus kurang gizi dan salah gizi di seribu hari pertama kehidupan.
Dalam seminar BKKBN yang juga bertema “Sobat Millenial, Yuk Cegah Stunting”, dr. Ray juga menjelaskan bahwa upaya mencegah dan memonitor tumbuh kembang balita, bahkan di beberapa lokasi di Jakarta ada yang menggunakan pendekatan pemantauan tumbuh kembang jarak jauh.
“Banyak bukti inovasi digital anak muda untuk cegah stunting. Misalnya di Probolinggo, ada kelompok jejaring anak muda yang menggunakan local heros untuk menyasar pendidikan gizi ibu-ibu muda," jelasnya.
"Juga ada teman-teman milenial di Kediri yang membuat Apps dan gadget khusus bermuatan lokal untuk mengajari apa itu stunting.” ungkap Ray yang merupakan dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Unsrat dan meraih Doktor Ilmu Kedokteran Komunitas dari Fakultas Kedokteran UI.
Apa yang perlu dimaksimalkan untuk menurunkan angka stunting?
Beberapa kajian kesehatan masyarakat juga menyebut bahwa Generasi Milenial adalah new messengers for public health di dunia, termasuk di Indonesia. Konteks ini relevan untuk diketahui secara publik di Tanah Air.
Menurut Dr.Ray, kalangan milenial di berbagai daerah di Indonesia sudah melakukan beragam inovasi berbasis digital dan teknologi untuk edukasi keluarga muda dalam rangka perbaikan pola asuh dan pola makan yang efektif guna membantu pencegahan dalam mengatasi stunting.
Ada yang menggunakan gadget dengan local hero, penggunaan jargon-jargon anak muda tradisional, bahkan memasukkan konteks cerita rakyat dan konsumsi lokal dalam kegiatan pembelajaran daring di tingkat desa. Seperti Desa Sehat di Purwakarta, kegiatan jejaring milenial cegah stunting di Kalimantan Barat, bahkan local YouTube campaign di Kediri.
“Ini semua terlihat hasil positifnya memperbaiki pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga milenial untuk mengerti tentang gizi dan stunting serta berpotensi memutus mata rantai malnutrisi kronik di komunitas," tuturnya.
"Dan yang paling penting, pendekatan inovatif anak-anak milenial ini sudah memiliki bukti epidemiologis yang sudah dipublikasikan baik di jurnal ilmiah internasional,” ungkap Dr.Ray yang sempat mengerjakan beberapa penelitian di bidang infant and toddler nutrition.
Ray juga mengatakan bahwa pemerintah bisa memanfaatkan jejaring milenial untuk bantu menurunkan angka stunting di Indonesia. Dengan pendekatan efektif berbasis bukti di komunitas, hasilnya akan jauh lebih berdampak besar.
Oleh sebab itu, Ray mengajak pemerintah terutama BKKBN yang telah ditunjuk Presiden Jokowi sebagai leading sector pencegahan stunting di Indonesia.
Hal ini dimaksudkan untuk merangkul hasil inovasi bidang gizi dan pencegahan stunting sahabat milenial di seluruh Indonesia sebagai bagian dari Gerakan 1.000 Mitra untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan, agar Indonesia bisa menurunkan angka stunting lebih cepat dan lebih efektif ke depannya. (RO/OL-09)
Milenial dan Gen Z mulai meninggalkan parameter kesuksesan tradisional seperti kepemilikan rumah atau tabungan jangka panjang, menuju pengelolaan keuangan yang personal dan berbasis nilai.
Bagi Gen Z dan milenial, kost bukan lagi sekadar tempat tinggal sementara. Hunian sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan rutinitas harian.
Ingin melancong ke Uni Emirat Arab? Ini 7 destinasi yang cocok bagi Gen Z dan Milenial yang ingin berkunjung ke Dubai.
Wisatawan Indonesia terus menunjukkan antusiasme untuk bepergian, akan tetapi setiap generasi memiliki cara berwisata dan mencari pengalaman baru yang berbeda.
Remaja masa kini sulit lepas dari ponsel, bahkan di pesta ulang tahun. Simak ide pesta nostalgia tanpa layar yang bisa membuat mereka kembali menikmati kebersamaan.
Riset ini mengungkap perbedaan mencolok dalam cara Gen X dan Millennial mengelola pendidikan, kesejahteraan emosional, pengeluaran, dan waktu bersama keluarga.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Paparan media sosial yang terlalu dini berisiko mengganggu regulasi emosi, pembentukan identitas diri, hingga menurunkan kualitas interaksi sosial nyata.
Pembatasan yang tepat, bukan larangan total, dapat mengurangi risiko overstimulasi akibat konten instan, kecemasan sosial karena sering membandingkan diri serta paparan bahaya.
PP Tunas dapat menjadi tameng bagi orangtua untuk menjaga anak mereka akan bahaya penggunaan media sosial secara berlebih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved