Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MATA perempuan itu terus memperhatikan sebuah bangku bulat besar berbentuk koin. Nyaris tak sedetik pun ia melewatkan peluang untuk bisa duduk di bangku tersebut.
Padahal di ruangan saat itu ada beberapa orang sedang berdiri. Selain itu ada enam orang lainnya sedang duduk melingkar di atas sebuah bangku bulat besar berbentuk koin, dengan bagian tengahnya terdapat lubang berbentuk heksagonal.
Ruangan ini tampak berbeda dengan lainnya. Namanya ruang jeda numismatik yang berada di Museum Bank Indonesia, Jakarta. Kondisinya cukup ramai. Yang menarik adalah ketika salah satu orang yang sedang duduk tadi bangkit dan meninggalkan bangku bulat itu, seketika itu pula ada orang lain yang langsung mengisi tempat yang kosong tersebut. Ia pun mencoba untuk mengambil peluang itu.
"Yaaah.... gagal lagi deh," gerutunya karena untuk kali kedua dia gagal, beberapa waktu lalu. Bukan cuma perempuan ini saja gagal, karena beberapa orang pun mengalami hal serupa. Hal yang sama terjadi beberapa kali. Kondisi ini tak urung membuat tanya dalam hati, apa gerangan yang sedang terjadi?
Rupanya, bangku bulat tersebut merupakan replika koin Kasha dalam bentuk besar. Koin Kasha merupakan koin yang berasal dari Kesultanan Banten abad ke-16. Aslinya koin ini terbuat dari tembaga dengan diameter keseluruhan mencapai 2,6 cm dan diameter lubang 1,5 cm.
Lalu apa yang menyebabkan mereka ingin sekali bahkan tampak seperti 'berebut' untuk duduk di atas bangku replika koin Kasha ini? Usut punya usut terkuak fakta bahwa koin ini disebut juga dengan keping cinta. Pada awalnya koin cinta tidak dipergunakan sebagai alat tukar melainkan sebagai persembahan cinta sang sultan kepada permaisuri, sang pujaan hati. Bahkan, di atas permukaan koin Kasha terdapat inskripsi dalam bahasa Jawa yaitu 'Pangeran Ratu'.
Kisah ini tersohor di Museum Bank Indonesia, seiring dengan mitos yang berkembang hingga saat ini. Konon untuk pemuda-pemudi yang masih sendiri, apabila duduk di atas koin cinta akan segera bertemu dengan jodohnya. Wah, terjawab sudah mengapa banyak pengunjung yang betah duduk berlama-lama di atas replika koin ini. Kalau seperti ini ceritanya, jadi ingin coba juga.
Terkait dengan museum ini, seperti disitat dari laman https://www.bi.go.id menempati gedung BI Kota yang sebelumnya digunakan oleh De Javasche Bank, gedung yang mempunyai nilai sejarah tinggi. Pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.475 tahun 1993.
Pelestarian gedung BI Kota sejalan dengan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang mencanangkan daerah Kota Tua sebagai salah satu daerah bersejarah di Jakarta. Sebagai salah satu pelopor revitalisasi gedung-gedung bersejarah di Kota Tua, BI bermaksud menyajikan pengetahuan terkait peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memaparkan latar belakang kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu. Hal inilah yang menjadi pertimbangan munculnya gagasan pentingnya keberadaan Museum Bank Indonesia.
Museum BI memiliki fungsi untuk mensosialisakan berbagai kebijakan yang dikeluarkan BI sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengetahui dan memahami kebijakan BI terkini. Selain itu juga sebagai tempat mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda numismatik ataupun dokumen bersejarah BI.
Yang tak kalah penting, museum ini juga berfungsi sebagai sarana rekreasi literasi yang menghibur/edutainmen (education-entertainment) dengan menyediakan fasilitas pengetahuan kebanksentralan berbasis teknologi terkini.
Sry Noven Dolok Saribu, Peserta Worskhop Penulisan Majalah Fokus BI 2021
KEBIJAKAN kenaikan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia mendapat kritikan tajam Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Edy Budi Santoso.
Ketiga destinasi wisata sejarah tersebut adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, serta Museum Tekstil.
Selama pengelola museum masih menerima dana dari APBN, masyarakat tidak seharusnya dibebani biaya tinggi untuk mengakses fasilitas negara.
Kenaikan tarif Museum Nasional dari sebelumnya yang sebesar Rp25.000 merupakan langkah krusial untuk memenuhi standar pemeliharaan internasional.
Sebagai lembaga yang dikelola pemerintah, Museum Nasional mengemban tanggung jawab moral untuk mempermudah akses pendidikan bagi warga negara.
Fosil legendaris Homo erectus atau yang dikenal luas sebagai Java Man kini telah resmi dipamerkan untuk publik di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan alasan nama Thomas Djiwandono menjadi salah satu yang disebut mengisi posisi deputi gubernur BI
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan mendukung wacana Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Thomas keponakan Prabowo Subianto
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu oleh spekulasi pasar mengenai potensi terganggunya independensi Bank Indonesia.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan rencana pertukaran pejabat antara sektor fiskal dan moneter tidak akan mengganggu independensi Bank Indonesia atau BI
Ini kata ekonom terkait pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang juga merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto sebagai deputi gubernur BI.
KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) merespons kabar yang menyebut Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono digadang-gadang mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved