Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
INFLUENCER sekaligus relawan, Tirta Mandira Hudhi alias dokter Tirta menganggap bagi masyarakat yang menolak vaksinasi covid-19 merupakan seorang pembangkang.
Dia berpendapat, mereka yang menentang vaksin karena dianggap meragukan keamanan vaksin dan bentuk rasa ketidakpercayaan terhadap pemerintah selama ini.
"Kenapa ada rakyat anti vaksin, selain meragukan keamanan, mereka cenderung mengalami penurunan trust issuea ke pemerintah. Jadi orang-orang yang selalu dianggap bebal ini, yang menolak vaksin itu adalah sebuah bentuk pembakangan sipil mereka," ungkap Tirta dalam webinar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi (KPCPEN), Selasa (26/1)
Dia mengatakan, mereka yang menentang vaksin dapat menghambat penanganan wabah, di mana bakal dikenakan sanksi. Hal itu mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yang menyebut setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan atau menghalangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan bisa dipidana.
Baca juga : Penerima Vaksinasi yang Positif Dipastikan bukan dari Virus Vaksin
Rendahnya kepercayaan masyarakat ke pemerintah ini, sebut Tirta, sebuah ungkapan rasa kelelahan atas masalah yang dialami selama pandemi. Seperti pendapatan yang menurun, kehilangan pekerjaan atau lainnya.
Selain itu dia juga menerangkan, berdasarkan analisisnya, banyak warganet yang cenderung memberikan pendapat atau opini yang negatif terhadap vaksinasi covid-19 oleh pemerintah.
"Jadi munculnya gerakan anti-vaksin, kita lihat di media sosial. Sentimen negatif vaksinasi lebih tinggi daripada sentimen positif. Sementara sentimen netral hanya 50%," ucapnya.
Oleh karenanya dia menegaskan, pentingnya edukasi soal vaksinasi covid-19. Tirta mengatakan, dengan menggratiskan vaksin ke masyarakat dan para pejabat termasuk Presiden Joko Widodo yang sudah disuntik vaksin, dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat atas layanan kesehatan itu. (OL-7)
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
Vaksinolog dan internis sekaligus Chief Medical Advisor Imuni, dr. Dirga Sakti Rambe, mengatakan bahwa vaksin tidak melulu hanya diberikan untuk anak-anak.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus campak (measles) pada awal tahun 2026.
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved