Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Informasi Geospasial (BIG) telah melakukan survei dan pemetaan potensi longsor di Desa Cihanjuang, Kabupaten Sumedang. BIG menemukan sejumlah faktor yang menjadi penyebab longsor dan berpotensi terjadi longsor susulan.
"Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa faktor-faktor yang dominan dan mendukung terjadinya longsor di Desa Cihanjuang adalah kelerengan, curah hujan tinggi, drainase dan keairan, batuan dan tanah, tutupan lahan," ujar koordinator IGT Bidang Kebencanaan BIG Ferrari Pinem dalam keterangan tertulis, Rabu (20/1).
Dijelaskannya, pada wilayah longsor terdapat banyak permukiman yang dibangun di atas tanah urukan. Tanah urukan itu memiliki ikatan partikel yang lemah sehingga sangat besar berpotensi longsor.
Di wilayah terjadinya longsor, tanahnya juga relatif terbuka tanpa adanya vegetasi dengan kemiringan lereng lebih dari 30° yang terjal. Drainase yang tidak baik juga menjadi faktor yang mengakibatkan mudahnya kemungkinan longsor apabila terjadi curah hujan yang tinggi.
"Selain itu pada daerah longsor tersebut terbentuk lereng-lereng baru yang memiliki potensi untuk longsor kembali, sehingga harus lebih berhati-hati untuk berada di sekitar wilayah yang terdampak longsor," tambahnya.
Hasil observasi di lapangan juga menunjukkan adanya aliran air yang sudah mengikis tanah di dekat kejadian longsor. Hal itu bisa dijadikan sebagai warning akan potensi adanya longsor susulan, apalagi jika terjadi curah hujan yang tinggi.
Dengan mengacu pada kondisi fisik di area yang sudah terjadi longsor, tim melakukan observasi di seluruh area desa Cihanjuang dengan menitikberatkan pada aspek kelerengan, tekstur dan ketebalan tanah, batuan penyusun, tutupan lahan dan juga adanya aliran air atau mata air. Hasil observasi menunjukkan bahwa wilayah sekitar longsor dan juga wilayah yang letaknya lebih tinggi memiliki potensi longsor ditambah lagi banyak ditemukan rekahan tanah dan aliran air di area yang lebih tinggi.
Lebih jauh, Ferrai mengatakan, kondisi kelerengan di daerah terdampak longsor Desa Cihanjuang berada di kisaran 25-45%, yakni terjal/ curam. Gaya gravitasi berpotensi untuk membawa material yang terkelupas dan akan memberikan dampak yang cukup besar bagi kerusakan. "Selain itu dari peta rawan gerakan tanah, wilayah ini berada pada zona rawan menengah hingga tinggi yang artinya potensi longsor mudah terjadi," imbuhnya.
Kemudian, berdasarkan profil melintang yang dibuat dari rekontruksi informasi kemiringan lereng dan rawan gerakan tanah perlu diperhatikan wilayah-wilayah yang berada di bawah perbukitan. Pasalnya, area tersebut memiliki tingkat kemiringan lereng terjal dan gerakan tanah menengah hingga tinggi, sehingga bagian yang rawan akan terdampak longsor.
Mitigasi
Berdasarkan kondisi tersebut, BIG merekomendasikan penguatan aspek mitigasi sebagai prioritas yang harus diutamakan. Mitigasi, menurut Ferrari yang bisa diupayakan dari sekarang ialah mitigasi mencegah terjadinya longsor susulan yang mungkin secara teknis sudah banyak dilakukan selama ini.
Seperti memperbaiki fungsi drainase untuk menghindari air meresap kedalam lereng atau mengeluarkan air keluar dari lereng sehingga potensi longsor dapat dieliminir, disertai dengan pembuatan terasering dengan sistem drainase yang tepat. Melakukan penghijauan dengan sistem tanaman yang berakar kuat menghujam ke tanah, khususnya pada daerah yang memiliki tingkat kecuraman diatas 30°.
Selain itu, juga melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan, terutama yang paling dekat dengan wilayah longsor. Menutup rekahan di atas lereng yang banyak ditemukan disekitar lokasi untuk mencegah air masuk secara cepat ke tanah. Membuat selokan yang bisa mengalirkan air hujan. Membangun tanggul penahan untuk menahan runtuhan material. "Dan tentunya sosialisasi kepada masyarakat akan adanya potensi bencana disekitarnya dan tak ketinggalan membuat rambu-rambu di lokasi yang memiliki ancaman bencana," tandasnya.(H-1)
PUNCAK arus mudik lebaran 2026 di Jalan Raya Nagreg, Jawa Barat, diperkirakan akan terjadi hari ini (19/3).
KEBAKARAN hutan dan lahan atau karhutla mulai mengintai di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di Kecamatan Cireunghas, dilaporkan terjadi kebakaran hutan di lahan sekitar 2.000 meter persegi.
TIGA hari menjelang Hari Raya Idulfitri, harga kebutuhan pokok terutama daging sapi 19 Maret 2026 di Pasar Pamanukan, Subang, Jawa Barat, mengalami kenaikan yakni Rp180 ribu per kilogram.
Keberadaan cosplayer merupakan hak istimewa yang diberikan oleh pemerintah kota yang harus dijaga keberlangsungannya.
DINAS Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat (Jabar) menerima aduan terkait masalah tunjangan hari raya (THR) Idulfitri 2026.
Bagi mereka, ini bukan sekadar agenda rutin, tapi cara menjaga ingatan
Pemprov DKI mitigasi risiko di TPST Bantargebang pascalongsor dan salurkan santunan BPJS Ketenagakerjaan ratusan juta bagi ahli waris serta beasiswa anak korban.
Pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan harapan publik.
BADAN Penanggulangan bencana daerah (BPBD) Jawa Timur melakukan i pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai daerah di Jatim
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved