Selasa 05 Januari 2021, 14:14 WIB

Garasi 10 Bandung Gelar Acara Virtual Kembara Nusantara

mediaindonesia.com | Humaniora
Garasi 10 Bandung Gelar Acara Virtual Kembara Nusantara

Ist/Kemendikbud
Tokoh maestro seni tari Jawa Barat, Prof Endang Caturwati, dari ISBI Bandung,

 

MAESTRO seni rupa ITB Prof Setiawan Sabana yang telah sukses menggelar karya pameran virtual bertajuk Religiusitas Seni Rupa Kontemporer Nusantara pada bulan lalu kembali menggelar event virtual berkelas di awal 2021 ini.

Kegiatan kali ini menghadirkan tokoh maestro seni tari Jawa Barat Prof Endang Caturwati dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI Bandung, dengan mengangkat tema 'Merajut Kasih, Menyulam Cinta', dan Ki Dalang Kondang Wawan Ajen dari Kota Bekasi, menyuguhkan kupasan seni pertunjukan wayang dengan tema dari renungan 'Dalang Manjing Wayang, Wayang Manjing Dalang' itu akan digelar secara virtual pada Jumat mendatang (8/1).

Dalan keterangannya, Prof Setiawan Sabana menegaskan, "Mari kita jadikan Nusantara sebagai markas besar kreativitas seni kini dan esok". 

Acara ini digarap secara virtual dengan menghadirkan orasi budaya dari Prof Setiawan dengan mengupas Kembara Kriya Sejagat Nusantara, mengenang, merenung, memandang, dan menerawang.

"Kebudayaan Nusantara merupakan cermin diri tentang masa lampau. Curahkan energi kreatif kita sekarang untuk masa  mendatang" ungkap Setiawan.

Endang Caturwati yang juga sebagai Pendiri Ajang Kreativitas Seni Hapsari, yang berkiprah selain  mengadakan pelatihan seni tari dan karawitan pada guru-guru seni budaya.

Endang juga mengadakan berbagai pertunjukan, serta menciptakan beberapa repertoir karya-karya tari dan lagu, menyebutkan, bahwa pada dasarnya setiap  pertunjukan seni autentik, tumbuh dan berkembang sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya yang bisa memenuhi fungsi sosial.

"Pembelajaran seni mampu menjadi media penanaman nilai-nilai kehidupan secara kontekstual sehingga dapat membantu proses terbentuknya kepribadian," jelasnya.

"Ketika anak didik  belajar seni tari misalnya, sebetulnya mereka belajar mengenai  kepekaan  rasa, serta melatih koordinasi antara otak kanan dan otak kiri, irama, dan motorik tubuh. Suatu proses yang menempatkan seni pada bingkai kebudayaan, serta nilai-nilai kearifan lokal, sebagai ketahanan budaya Indonesia," ungkap Endang.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Baparekraf, Wawan Gunawan, menjelaskan, event virtual ini diselenggarakan untuk melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan wayang sebagai warisan budaya sebagimana ditetapkan UNESCO.

Indonesia, lanjut Wawan, memiliki banyak jenis wayang. Sedikitnya ada 100 jenis wayang yang menjadi kekayaan Indonesia. Dari jumlah itu, lima jenis wayang ada lima jenis wayang dijadikan penelitian oleh UNESCO. Kelimanya ialah Wayang Kulit Purwa Jawa, Wayang Parwa dari Bali, Wayang Golek Sunda dari Jawa Barat, Wayang Palembang dari Sumatra Selatan dan Wayang Banjar dari Kalimantan Selatan.

Wawan menambahkan, wayang merupakan nilai luhur adiluhung bangsa. Dalam pengembangan wayang, seluruh unsur yang dimiliki manusia terepresentasi di dalamnya. Tema Dalang Manjing Wayang, Wayang Manjing Dalang adalah kesatuan hubungan yang melebur secara harmonis. 

"Dalam mengembangkan wayang kami membaca tradisi dengan cara-cara modern, mengedepankan konsep 5R dan 5W. 5R yakni Raga, Ruh, Rasa, Rasio dan Rukun. Sedangkan 5W yaitu Wirahma, Wirasa, Wirupa, Wiraga dan Wiwaha," kata Wawan, Sabtu (2/1).

Dijelaskan Wawan, Kemenparekraf/Baparekraf amat concern terhadap pemanfaatan wayang sebagai atraksi pariwisata budaya. "Menjadikan seni pertunjukan wayang sebagai atraksi wisata budaya merupakan hal tepat yang dilakukan karena dapat menarik wisatawan untuk datang," katanya. 

Selain itu, langkah tersebut bisa menjadi ajang pengenalan kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia kepada masyarakat global. "Juga merupakan sarana pelestarian budaya," tuturnya.

Menurut Wawan, dalam perenungannya ada nilai-nilai positif yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan wayang. Ada nilai spiritual, nilai budaya, nilai kreatif, nilai komunikasi,nilai ekonomi, nilai komitmen dan nilai keberlanjutan. 

"Itu yang kami sebut sebagai spirit sapta ajen. Sebagai seni adiluhung, Kemenparekraf/Baparekraf mendorong pemanfaatan wayang sebagai sarana dan prasarana mewujudkan spirit sapta ajen tersebut, bagaimana wayang, baik seni rupanya, pertunjukan sebagai pertunjukan yang lebih atraktif dan komunikatif, khususnya kaum milenial, dan menjadikan seni wayang sebagai atraksi pariwisata yang dapat mensejahterakan masyarakat," kata Wawan.

Di sisi lain, Wawan menilai di tengah keterbatasan pada masa pandemi covid-19 ini pelestarian dan pengembangan wayang sebagai peluang untuk pengembangan kreativitas seni wayang dengan melakukan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. (RO/OL-09)

Baca Juga

Antara/Mohamad Hamzah

Pengawasan Ketat Ternak Impor dan Karantina Hewan Cegah Meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:44 WIB
“Titik-titik pemeriksaan, pengawasan dan karantina untuk sapi impor perlu menjadi fokus pemerintah supaya PMK tidak semakin...
DOK Kemenko PMK

Pemerintah Maksimalkan Perlindungan Bagi Anak dan Penyandang Disabilitas yang Terdampak Pandemi

👤Widhoroso 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:01 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, masa depan anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang kehilangan orang tua pada masa Pandemi...
Antara

14,3 Juta Lansia Rampung Divaksinasi

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:38 WIB
Jumlah itu setara 66,44 persen dari target 21.553.118...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya