Rabu 21 Oktober 2020, 07:05 WIB

Ilmuwan Ingatkan Soal Adanya Keraguan Publik pada Vaksin Covid-19

Faustinus Nua | Humaniora
Ilmuwan Ingatkan Soal Adanya Keraguan Publik pada Vaksin Covid-19

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Tim medis menyuntikkan vaksin kepada sejumlah warga dalam simulasi uji coba vaksinasi covid-19 di Puskesmas Abiansemal I, Badung, Bali.

 

PARA ilmuwan menyerukan adanya tindakan segera agar dapat meningkatkan kepercayaan publik pada vaksinasi. Mengingat, penelitian menunjukkan minoritas yang cukup besar di beberapa negara mungkin enggan divaksinasi covid-19.

Dengan sedikitnya perawatan yang efektif dan belum adanya obat untuk covid-19, perusahaan dan pemerintah berlomba mengembangkan vaksin dalam upaya untuk menghentikan pandemi.

Tetapi ada kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa keraguan pada vaksin juga meningkat. Dengan informasi yang salah dan ketidakpercayaan, hal itu mewarnai penerimaan masyarakat terhadap kemajuan ilmiah.

Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 Turun 6,7 Persen

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan, Selasa (20/10), di jurnal Nature Medicine, para peneliti di Spanyol, Amerika Serikat, dan Inggris melakukan survei terhadap 13.400 orang di 19 negara yang terpukul parah oleh covid-19.

Studi menemukan bahwa saat 72% responden mengatakan mereka mau divaksinasi, 14% menolak, dan 14% lainnya ragu-ragu.

Ketika diekstrapolasi di seluruh populasi, ini bisa berjumlah puluhan juta orang yang mungkin menghindari vaksinasi, kata para penulis.

"Temuan ini harus menjadi seruan untuk bertindak bagi komunitas kesehatan internasional," kata salah satu penulis, Heidi Larson, yang menjalankan Proyek Kepercayaan Vaksin di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

"Jika kita tidak mulai membangun literasi vaksin dan memulihkan kepercayaan publik pada sains saat ini, kita tidak dapat berharap untuk menahan pandemi ini," lanjutnya.

Para peneliti menemukan orang-orang yang paling tidak percaya pada pemerintah adalah mereka cenderung tidak mau divaksin. Bahkan, mereka yang pernah sakit dengan covid-19 tidak lebih mungkin merespons secara positif.

Sementara di Tiongkok, 88% responden mengatakan mereka akan menerima vaksin yang terbukti, aman, dan efektif. Angka itu merupakan yang tertinggi dari semua negara yang disurvei, proporsinya turun menjadi 75% di AS dan serendah 55% di Rusia.

"Kami menemukan masalah keragu-raguan vaksin sangat terkait dengan kurangnya kepercayaan pada pemerintah," kata koordinator studi Jeffrey Lazarus, dari Institut Barcelona untuk Kesehatan Global.

Ketika ditanya apakah mereka akan menerima vaksin yang disetujui dan aman yang direkomendasikan pemberi kerja mereka, hanya 32% responden yang sepenuhnya setuju.

Tingkat penerimaan sangat bervariasi di setiap negara, dengan Tiongkok sekali lagi memiliki tanggapan positif yang paling jelas (84% baik sepenuhnya atau agak setuju) dan Rusia dengan paling rendah (27%).

Orang-orang cenderung tidak menerima vaksin jika itu diamanatkan pemberi kerja mereka, kata penulis.

Penelitian tersebut, yang dirilis pada Konferensi Dunia Persatuan tentang Kesehatan Paru, menemukan penerimaan yang lebih besar atas vaksin di antara orang-orang yang berpenghasilan lebih dari US$32 per hari. Mereka juga menemukan orang tua lebih mungkin menerima vaksin daripada mereka yang berusia di bawah 22 tahun.

Bangun Kepercayaan

Dalam inisiatif baru yang diluncurkan pada Selasa (20/10) dan didukung Vaccine Alliance Gavi, para ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan vaksin akan muncul dalam serangkaian video di media sosial untuk membantu meningkatkan kepercayaan publik terhadap pekerjaan mereka.

Para peneliti dan dokter di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, India, dan Brasil akan mengunggah dengan tagar #TeamHalo - referensi ke lingkaran upaya ilmiah global - di TikTok, Twitter, dan Instagram.

"Saya terbiasa menghabiskan waktu memipet sampel dan menganalisa data," kata Anna Blakney, seorang bioteknologi yang berpartisipasi dan merupakan bagian dari tim pengembangan vaksin di Imperial College di London.

"TikTok adalah batas baru bagi saya, tetapi saya antusias untuk mengungkap karya kami dan membuatnya dapat diakses oleh dunia."

Awal bulan ini, sebuah studi di jurnal Royal Society Open Science menemukan sepertiga orang di beberapa negara mungkin percaya informasi yang salah mengenai virus korona dan pada gilirannya kurang terbuka untuk vaksinasi.

Dan penelitian terbaru dari Cornell University menemukan bahwa Presiden AS Donald Trump adalah pendorong kesalahan informasi covid-19 terbesar di dunia, karena promosinya tentang obat ajaib.

Sementara itu, kecepatan perkembangan telah menimbulkan kekhawatiran di beberapa negara.

Pengumuman Rusia pada Agustus bahwa mereka akan mulai meluncurkan vaksin Sputnik V sebelum uji coba fase 3 menuai kritikan karena dianggap prematur. (AFP/OL-1)

Baca Juga

Dok. Istimewa

Berisiko Terkena Varises, Lakukan USG Skrining

👤MI 🕔Rabu 02 Desember 2020, 01:05 WIB
VARISES terjadi karena pembuluh darah membengkak atau melebar akibat penumpukan darah di pembuluh...
Dok. Istimewa

Seks Bebas Penyebab Terbanyak Penularan HIV/AIDS

👤MI 🕔Rabu 02 Desember 2020, 00:45 WIB
SEBAGIAN besar pasien HIV/AIDS tidak menyangka dan sebagian kecil dari mereka sudah menebak kemungkinan menderita penyakit menular...
DOK MI

WZF Miliki Peran Penting Pulihkan Ekonomi Pascapandemi Covid-19

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 02 Desember 2020, 00:29 WIB
Ekonomi Islam dapat menjadi lokomotif dalam membantu pemulihan ekonomi global. Ia menaruh harapan pada WZF yang kini menjadi wadah bagi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya