Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan menyerukan adanya tindakan segera agar dapat meningkatkan kepercayaan publik pada vaksinasi. Mengingat, penelitian menunjukkan minoritas yang cukup besar di beberapa negara mungkin enggan divaksinasi covid-19.
Dengan sedikitnya perawatan yang efektif dan belum adanya obat untuk covid-19, perusahaan dan pemerintah berlomba mengembangkan vaksin dalam upaya untuk menghentikan pandemi.
Tetapi ada kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa keraguan pada vaksin juga meningkat. Dengan informasi yang salah dan ketidakpercayaan, hal itu mewarnai penerimaan masyarakat terhadap kemajuan ilmiah.
Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 Turun 6,7 Persen
Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan, Selasa (20/10), di jurnal Nature Medicine, para peneliti di Spanyol, Amerika Serikat, dan Inggris melakukan survei terhadap 13.400 orang di 19 negara yang terpukul parah oleh covid-19.
Studi menemukan bahwa saat 72% responden mengatakan mereka mau divaksinasi, 14% menolak, dan 14% lainnya ragu-ragu.
Ketika diekstrapolasi di seluruh populasi, ini bisa berjumlah puluhan juta orang yang mungkin menghindari vaksinasi, kata para penulis.
"Temuan ini harus menjadi seruan untuk bertindak bagi komunitas kesehatan internasional," kata salah satu penulis, Heidi Larson, yang menjalankan Proyek Kepercayaan Vaksin di London School of Hygiene and Tropical Medicine.
"Jika kita tidak mulai membangun literasi vaksin dan memulihkan kepercayaan publik pada sains saat ini, kita tidak dapat berharap untuk menahan pandemi ini," lanjutnya.
Para peneliti menemukan orang-orang yang paling tidak percaya pada pemerintah adalah mereka cenderung tidak mau divaksin. Bahkan, mereka yang pernah sakit dengan covid-19 tidak lebih mungkin merespons secara positif.
Sementara di Tiongkok, 88% responden mengatakan mereka akan menerima vaksin yang terbukti, aman, dan efektif. Angka itu merupakan yang tertinggi dari semua negara yang disurvei, proporsinya turun menjadi 75% di AS dan serendah 55% di Rusia.
"Kami menemukan masalah keragu-raguan vaksin sangat terkait dengan kurangnya kepercayaan pada pemerintah," kata koordinator studi Jeffrey Lazarus, dari Institut Barcelona untuk Kesehatan Global.
Ketika ditanya apakah mereka akan menerima vaksin yang disetujui dan aman yang direkomendasikan pemberi kerja mereka, hanya 32% responden yang sepenuhnya setuju.
Tingkat penerimaan sangat bervariasi di setiap negara, dengan Tiongkok sekali lagi memiliki tanggapan positif yang paling jelas (84% baik sepenuhnya atau agak setuju) dan Rusia dengan paling rendah (27%).
Orang-orang cenderung tidak menerima vaksin jika itu diamanatkan pemberi kerja mereka, kata penulis.
Penelitian tersebut, yang dirilis pada Konferensi Dunia Persatuan tentang Kesehatan Paru, menemukan penerimaan yang lebih besar atas vaksin di antara orang-orang yang berpenghasilan lebih dari US$32 per hari. Mereka juga menemukan orang tua lebih mungkin menerima vaksin daripada mereka yang berusia di bawah 22 tahun.
Bangun Kepercayaan
Dalam inisiatif baru yang diluncurkan pada Selasa (20/10) dan didukung Vaccine Alliance Gavi, para ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan vaksin akan muncul dalam serangkaian video di media sosial untuk membantu meningkatkan kepercayaan publik terhadap pekerjaan mereka.
Para peneliti dan dokter di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, India, dan Brasil akan mengunggah dengan tagar #TeamHalo - referensi ke lingkaran upaya ilmiah global - di TikTok, Twitter, dan Instagram.
"Saya terbiasa menghabiskan waktu memipet sampel dan menganalisa data," kata Anna Blakney, seorang bioteknologi yang berpartisipasi dan merupakan bagian dari tim pengembangan vaksin di Imperial College di London.
"TikTok adalah batas baru bagi saya, tetapi saya antusias untuk mengungkap karya kami dan membuatnya dapat diakses oleh dunia."
Awal bulan ini, sebuah studi di jurnal Royal Society Open Science menemukan sepertiga orang di beberapa negara mungkin percaya informasi yang salah mengenai virus korona dan pada gilirannya kurang terbuka untuk vaksinasi.
Dan penelitian terbaru dari Cornell University menemukan bahwa Presiden AS Donald Trump adalah pendorong kesalahan informasi covid-19 terbesar di dunia, karena promosinya tentang obat ajaib.
Sementara itu, kecepatan perkembangan telah menimbulkan kekhawatiran di beberapa negara.
Pengumuman Rusia pada Agustus bahwa mereka akan mulai meluncurkan vaksin Sputnik V sebelum uji coba fase 3 menuai kritikan karena dianggap prematur. (AFP/OL-1)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
PEMERINTAH Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, masih menunggu instruksi Pemerintah Pusat untuk melakukan penanganan Covid-19.
KETUA Satgas covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Erlina Burhan, menyarankan masyarakat untuk tetap melaksanakan vaksinasi ke-4 atau booster ke-2.
Achmad menyebut bahwa pemberian uang jasa pelayanan medis Covid-19 tidak berpedoman pada aturan yang berlaku
Presiden Joko Widodo akan membubarkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 setelah pemerintah resmi mencabut status kedaruratan pandemi di Indonesia.
Kasus covid-19 di Indonesia bertambah 565 pada Minggu, 9 April 2023. Total kasus konfirmasi positif di Indonesia mencapai 6.751.168 orang.
Coba ingat-ingat lagi wajah orang terdekat kita yang telah tiada. Begitu pula deretan angka yang hingga kini masih terpampang di laman situs covid19.go.id. Mereka bukan statistik belaka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved