Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BUDAYAWAN Ngatawi Al Zastrouw mengatakan pentingnya masyarakat untuk membangun aliansi anti narasi radikal dan anti tindakan anarkisme dengan memperkuat konter narasi dan menyuburkannya di ruang-ruang publik.
Ngatawi meminta masyarakat untuk memperkuat diri dengan cara menggali, mengeksplorasi suatu nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para leluhur bangsa ini dahulu.
“Hal ini pada dasarnya watak dari konstruksi budaya tradisi nusantara itu adalah tradisi integratif dan harmoni. Hal inilah yang membuat kita bisa bertahan sampai sekarang ini. Nah dari harmoni dan integrasi inilah yang sebetulnya bisa menyebabkan resiliensi, daya lenting, daya suspensif dari masyarakat kita agar terhindar dari narasi-narasi radikal,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (18/10).
Namun demikian, menurut dia, agar masyarakat dapat membuat konter narasi terhadap narasi-narasi radikalisme ataupun narasi intoleransi, maka masyarakat harus memperkuat khazanah dan contoh-contohnya, baik perspektif yang hidup dalam tradisi, maupun dalam sistem nilai yang berkembang di masyarakat.
Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini menilai bahwa selama ini yang menjadi penyebab suburnya narasi radikal dan tindakan anarkis ini dikarenakan kelompok-kelompok yang suka menyebarkan narasi radikal dan tindakan anarkis ini sudah menguasai ruang media.
Baca juga: Kominfo Temukan 2.020 Berita Hoaks Korona, 104 Jadi Tersangka
“Ini disebabkan ruang media itu tidak ada yang bisa mengontrol, sehingga mereka ini sangat produktif dalam memproduksi narasi radikal tersebut. Akhirnya seolah-olah menjadi subur. Karena hampir setiap hari dia (kelompok radikal) mengisi ruang itu,” ujar alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Maka dari itu supaya kelompok tersebut tidak kelihatan subur, dirinya meminta kepada orang-orang atau masyarakat yang punya kepedulian untuk melawan kelompok tersebut juga harus mengembangkan narasi-narasi positif. Karena sebetulnya orang yang bisa mengkonter hal itu sebenarnya sangat banyak sekali di masyarakat.
“Kita kelihatan tidak subur itu bukannya tidak ada, tetapi kita ini tidak membiasakan diri untuk me-mainstraimingkan atau mengarusutamakan melalui media sosial dari gagasan-gagasan positif ini. Saya melihat salah satunya Duta Damai Dunia Maya BNPT itu bisa berperan serta untuk memberikan counter narasi melalui media sosial dan bahkan harus mengajak masyarakat untuk turut berperan serta,” kata mantan asisten pribadi Presiden ke-4 RI alm KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu.
Selain itu dirinya mencontohkan apa yang menjadi pemikiran-pemikiran posiitif para ulama seperti KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Bahauddin Nursalim Gus Baha' ataupun Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dan ulama moderat lainnya itu banyak sekali. Tetapi sayangnya pemikiran positif itu tidak di mainstreaming-kan melalui media sosial, sehingga seolah-olah menjadi tidak subur.
“Maka dari itu kita harus mengimbangi gerak mereka dengan mengupload atau memposting dan mempublikasikan dari narasi-narasi positif ini ke publik atau ranah publik melalui media social dan media lainnya. Karena selama ini saya lihat masih kurang dipublikasikan. Padahal orang-orang yang memiliki pemikiran positif itu sejatinya lebih banyak dibanding orang-orang dari kelompok-kelompok itu,” kata mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU ini. (OL-15)
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menurut Edi Hartono, media sosial dan game online telah terbukti menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku terorisme untuk melakukan perekrutan.
Program ini memberikan edukasi mendalam mengenai upaya mitigasi penyebaran paham radikal terorisme di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved