Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP nama tempat punya sejarah, punya awal. Orang senantiasa menggali asal-usul nama suatu tempat. Kadang cerita asal usul nama suatu tempat berupa sejarah, kadang berupa legenda, tidak jarang pula sejarah bercampur legenda. Itulah sebabnya, asal usul nama suatu tempat biasanya tidak tunggal, melainkan jamak.
Begitu pula dengan asal muasal kata 'Medan'. Banyak versi tentangnya.
Dari catatan penulis-penulis Portugis abad ke-16, kata Medan berasal dari 'Medina'. Sumber lain menyebut Medan berasal dari bahasa India 'Meiden'.
Ada pula yang mengatakan nama Medan berawal dari 'Median' yang merupakan ucapan para saudagar Arab yang melihat kontur permukaan tanah Medan yang rata mulai Pantai Belawan sampai Pancur Batu. Seorang Laksamana Turki Sidi Ali Celebi, dalam buku Al Muhit (1554 M) menyebut adanya Aru (Kerajaan Haru) dan Kota 'Medina', yaitu Kota Medan sekarang sebagai pelabuhan (Sinar, 2005).
Dalam Kamus Indonesia-Karo (2002) yang ditulis Darwin Prints, kata 'medan' berarti 'menjadi sehat' atau 'lebih baik.' Asal usul nama medan yang seperti ini terang-benderang terkait erat dengan pendiri Kota Medan, yakni Guru Patimpus, yang berprofesi sebagai tabib.
Medan berawal dari sebuah kampung kecil sebelum menjadi kota besar seperti sekarang ini. Kampung kecil yang teletak di tepi pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli itu bernama Medan Putri. Menurut Mohammad Said (1997), kata Medan diambil dari nama kampung Medan Putri tersebut.
Ada pula yang menyebut asal muasal nama medan terkait dengan lokasi atau lapangan tempat berkumpul atau bertemunya orang-orang. Dalam hal ini, terdapat dua kisah tentang asal-usul nama medan. Kisah pertama menyebutkan daerah yang sekarang disebut Medan tak lain tempat berkumpul atau bertemunya orang-orang dari berbagai suku atau daerah asal.
Menurut bahasa Melayu, medan berarti tempat berkumpul. Sejak zaman dahulu kala ia menjadi tempat bertemunya orang-orang dari Hamparan Perak, Sukapiring, dan daerah lain untuk berdagang, bertaruh atau berjudi, dan kegiatan lain. Ia merupakan kampung biasa yang diselingi kampung-kampung Melayu lain seperti Kesawan, Tebingtinggi, dan Merbau.
Kisah kedua mengatakan kota ini disebut Medan karena dia menjadi arena, lapangan, atau medan pertempuran pasukan Kerajaan Aceh dan Kesultanan Deli. Seorang planter tembakau berkebangsaan Belanda pada 1889 melaporkan bahwa di zaman dahulu kala Medan merupakan pertahanan orang-orang pribumi yang mempertahankan diri dari kemungkinan serangan Aceh.
Peninggalan-peninggalan masa itu ialah sebuah dinding tebal melingkar yang panjangnya sampai seberang sungai dan menggulung delta. Ditemukan juga banyak kuburan di sana, termasuk kuburan seorang yang dianggap keramat yang diteduhi pohon-pohon besar dan di dalam tanah kuburan tersebut pernah ditemukan uang emas Aceh kuno (Sinar, 2005).
Dengan begitu, paling tidak ada empat versi ihwal asal usul kata medan. Pertama, asal-usul yang terkait dengan kondisi fisik atau kontur kota. Dalam hal ini, kata medan berasal dari bahasa India “Meiden” atau sebutan orang Arab 'median.'
Kedua, asal muasal yang terkait dengan nama tempat. Dalam konteks ini, kata Medan diambil dari nama kampung Medan Putri.
Ketiga, asal-usul yang terkait dengan makna lokus atau tempat. Dalam konteks ini, kata medan mengandung makna lokasi 'pertemuan', baik pertemuan berbagai suku maupun pertemuan dua kerajaan untuk bertempur. Keempat, asal-muasal yang terkait dengan sosok pendiri kota Medan, yakni Guru Patimpus sebagai tabib. Dalam hal ini, kata medan berasal dari bahasa Karo yang mengandung makna 'sembuh.'
Berbagai versi tentang asal muasal nama Medan kurang lebih serupa dengan yang disebutkan dalam “Almanak Pemerintah Daerah Sumatra Utara 1969”.
Pertama, Medan ialah daerah pertempuran yang pernah terjadi antara Aceh dan Deli Lama. Peperangan meletus akibat Kerajaan Deli Lama menolak pinangan Raja Aceh untuk mempersunting putri raja, yakni Putri Hijau.
Kedua, asal raja-raja Deli dari Hindustan, India, perkataan ‘medan’ berasal dari perkataan India ‘maiden,” yang berarti tanah datar.
Ketiga, sejak dahulu ada hubungan erat antara Karo dan Deli, maka medan berasal dari bahasa Karo ‘medan” yang berarti sembuh. (Anwar, 1986).
Apa yang tercantum dalam Almanak Pemerintah Daerah Sumatra Utara tentu masih harus dilengkapi dengan versi yang menyebut kata Medan diambil dari nama kampung Medan Putri.
Ulasan menarik soal Medan ini ada di buku Medan: Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, karya terbaru Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong.
Saksikan pembahasannya pada program Dialektika dengan tajuk Peluncuran dan bedah buku Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, pada hari ini (Jumat, 9/10) dari pukul 14.00-16.00 WIB.
Acara yang dipandu presenter Metro TV Yohana Margaretha itu menghadirkan Usman Kansong (penulis buku), Muryanto Amin (Dekan FISIP Universitas Sumatra Utara) dan Mohammad Abdul Gani (Dirut PTPN Holding dan penulis buku Jejak Planters di Tanah Deli)
Acara dapat diikuti melalui live streaming:
1. Youtube Media Indonesia
2. Facebook Media Indonesia
3. IG Media Indonesia
4. Website Media Indonesia
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Dalam memoarnya, Aurelie Maoeremans menceritakan bahwa pertemuannya dengan sosok "Bobby" terjadi saat ia masih berusia 15 tahun di sebuah lokasi syuting iklan.
Sekjen BPP Hipmi Anggawira menghadirkan dua buku yang membahas seputar arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Data BPS dalam Survei Sosial Ekonomi pada Maret 2024, sekitar 22,5 juta orang atau 8,23% penduduk Indonesia menyandang disabilitas.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Suhu udara rata-rata 11 hingga 32 derajat Celcius dengan kelembaban udara 56-99 persen dan angin bertiup dari Selatan hingga Barat dengan kecepatan 3 hingga 7 km per jam.
Pelaku disebut sering melihat ibunya melakukan kekerasan verbal dan fisik terhadap kakaknya, dirinya sendiri, hingga ayahnya.
Cuaca ini disebabkan Bibit Siklon Tropis Bakung di Samudra Hindia barat daya Lampung; Bibit Siklon 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Timur; dan Bibit Siklon 95S
Kota Langsa merupakan penyumbang transaksi terbesar bagi Pasar Induk Lau Cih.
Endipat juga mengkritik pihak-pihak yang hanya sekali datang ke lokasi bencana namun mengklaim paling bekerja. Menurutnya, pemerintah sudah bergerak sejak hari pertama.
Ia menambahkan bahwa Indonesia berupaya memasukkan ketentuan terkait bisnis dan HAM ke dalam revisi Undang-Undang HAM.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved