Kamis 17 September 2020, 22:26 WIB

Dorong Kolaborasi Riset Keanekaragaman Hayati di Pesisir dan Laut

Atikah IshmahWinahyu | Humaniora
Dorong Kolaborasi Riset Keanekaragaman Hayati di Pesisir dan Laut

Antara/Seno
Penanaman terumbu karang di Situbondo, Jawa Timur

 

SEBAGAI salah satu negara maritim terbesar di dunia yang sebagian besar wilayahnya terletak di kawasan segitiga terumbu karang (Coral Triangle Area), Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang begitu kaya.

Peningkatan tekanan lingkungan, kerusakan alam akibat ulah manusia, serta pemanfaatan sumber daya laut yang berlebih menjadi ancaman besar bagi kelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut di Tanah Air.

Oleh sebab itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pengetahuan serta pemahaman nilai dan potensi sumber daya laut dan pesisir penting sebagai dasar pelaksanaan tata kelola.

“Penelitian akan keanekaragaman hayati di pesisir dan laut perlu ditingkatkan untuk kepentingan keilmuan, serta demi melindungi hilangnya ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati di laut,” kata Bambang dalam Webinar International Symposium on Coastal and Marine Biodiversity (ISCOMBIO) 2020, Kamis (17/9).

Sebagai negara kepulauan, perairan laut Indonesia meliputi 20 persen total ekosistem terumbu karang dunia, 5 persen ekosistem padang lamun, dan 20 persen ekosistem hutan bakau serta dikelilingi oleh berbagai ekosistem laut tropis termasuk laguna, teluk, selat, laut terbuka, dan laut dalam.

Baca juga : Hari Konservasi Alam Nasional: Jaga Alam, Jaga Peradaban

Ekosistem laut dan pesisir Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan merupakan habitat bagi 75 persen spesies terumbu karang dan 37 persen spesies ikan dunia.

Namun Bambang menuturkan, masih banyak hal terkait keanekargaman hayati pesisir dan laut di Indonesia yang belum tergali dan terpetakan akibat perkembangan sains dan teknologi di bidang kelautan dan kemaritiman masih rendah jika dibandingkan dengan di wilayah daratan.

“Kolaborasi penelitian bersama luar dan dalam negeri di kawasan ini adalah salah satu solusinya dan sangat penting karena semakin sedikitnya ahli taksonomi kelautan atau ahli biologi yang tertarik melakukan kajian tentang keanekaragaman hayati pesisir dan laut. Kolaborasi dan kerja sama masih dibutuhkan, Indonesia sangat terbuka akan kerja sama penelitian internasional,” ujarnya.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan, riset memiliki peran penting sebagai landasan dalam identifikasi, pengelolaan serta pemanfaatan keberlanjutan sosial, ekonomi dan lingkungan sumber daya pesisir dan laut. Menurutnya, eksplorasi ilmiah dibutuhkan untuk memahami secara utuh struktur kompleks proses bioekologi di berbagai ekosistem laut Indonesia.

“Masih banyak eksplorasi ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan model yang ideal dan representatif. Hal itu untuk pengelolaan sumber daya laut yang berbasis sains dan teknologi, baik untuk saat ini dan di masa depan,” ujar Handoko. (OL-7)

Baca Juga

Antara/Syaiful Arif.

Penjelasan Proses, Jenis, dan Macam-Macam Penyerbukan Tumbuhan

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 21:32 WIB
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, penyerbukan merupakan proses pembuahan atau hal melekatkan tepung sari ke kepala...
Antara

Update 10 Agustus: 34 Ribu Orang Terima Vaksinasi Kedua

👤MGN 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 21:21 WIB
Di sisi lain, Kemenkes mencatat 41.301 ribu orang disuntik vaksin covid-19 dosis pertama hari...
Dok, AQUA Japan

AQUA Japan Dorong Inovasi dan Kembangkan Fasilitas Pendidikan SMK di Jakarta

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 21:20 WIB
Dalam program itu, AQUA Japan mengadakan Kelas Inspirasi secara tatap muka dan daring di beberapa Sekolah Menengah Kejuruan di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya