Kamis 17 September 2020, 16:55 WIB

Hari Konservasi Alam Nasional: Jaga Alam, Jaga Peradaban

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Hari Konservasi Alam Nasional: Jaga Alam, Jaga Peradaban

Dok Humas KLHK
Wakil Menteri LHK Alue Dohong dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (16/9).

 

Tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun ini, acara puncaknya digelar di Taman Nasional Kutai, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (16/9). Dengan mengambil tema “Nagari Rimba Nusa-Merawat Peradaban Menjaga Alam”, pelaksanaan acara ini tetap menerapkan protokol kesehatan covid-19, dan disiarkan secara virtual, menghubungkan berbagai elemen anak Bangsa dari berbagai penjuru Indonesia.

Selain bertujuan mengampanyekan semangat konservasi, pelaksanaan HKAN 2020 diharapkan dapat mendukung langkah-langkah penyiapan dan pemantapan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru, dengan proyeksi area-coverage seluas ± 256 ribu ha, pada wilayah amdinistratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara.

Baca juga: Tiga Kekuatan Indonesia Membangun Lingkungan Hidup dan Kehutanan

"Sangat jelas pesan dari Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa kita akan menyiapkan calon Ibu Kota Negara seraya melakukan pemulihan lingkungan. Artinya penyiapan dan pembangunan IKN menerapkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan," kata Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, membacakan Sambutan Menteri LHK pada Puncak Peringatan HKAN Tahun 2020 di Bontang Mangrove Park, Kota Bontang, Kaltim, Rabu (16/9).

Pada kesempatan tersebut, Wamen Alue menyampaikan harapan adanya kesungguhan dari seluruh jajaran teknis pemerintah, pusat dan daerah untuk stick dan committed memberi pengabdian kepada Negara dan Bangsa. Muara utamanya adalah terjaganya alam dan sumberdaya alam, karena di situlah peradaban Indonesia akan terus terpelihara.

"Saya juga menekankan sungguh-sungguh pada semua jajaran aparat untuk bisa sensitif dan memahami prinsip-prinsip yurisdiksi negara, tidak saja yurisdiksi dalam arti wilayah, kawasan yang dipangkunya, namun dan lebih dari itu, juga yurisdiksi dalam urusan yang sama sekali tidak boleh kita lengah, tidak boleh dilepaskan tanggung jawab pelaksanaanya atas alasan apapun," ujarnya.

Seluruh jajaran aparat dan kader konservasi Indonesia juga harus betul-betul memahami bahwa sumberdaya alam merupakan modal dasar pembangunan nasional, bagi bangsa saat ini dan generasi mendatang.

"Untuk itu sekali lagi kita tidak boleh lengah dan harus ada kesungguhan menjaga sumber daya alam Republik ini dengan sebaik-baiknya. Saya juga berharap seluruh aparat pusat dan daerah, juga para kader bangsa bidang koservasi, tidak pernah luput atau alpa akan tugas menjaga tumpah darah dan bangsa ini," pesan Wamen Alue.

Menjaga kelestarian konservasi alam juga merupakan tanggung jawab kita sebagai manusia untuk menjaga peradaban. Hal ini dapat memberikan contoh kepada generasi muda bahwa aktualisasi menjaga sumberdaya alam kekayaan bangsa ini membutuhkan aksi nyata dengan pemahaman yang tepat. Kekayaan alam ini telah begitu rupa diingatkan oleh founding father dan ditorehkan dalam konstitusi negara ini.

"Kita bisa memberikan keteladanan dan aksi-aksi nyata, yang melibatkan dan menggerakkan seluruh elemen bangsa untuk berkomitmen menjadi bagian tak terpisahkan dari konservasi alam, untuk hidup harmoni dan semakin lebih menghargai alam," papar Wamen Alue.

Bersinergi dengan berbagai pihak lainnya di Indonesia menjadi kunci lain dalam penerapan makna dan pesan konservasi dalam melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan, dengan menerapkan tiga prinsip konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.

Mendukung hal tersebut, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor mendukung penuh Peringatan Puncak HKAN Tahun 2020 yang digelar di wilayahnya. Dalam sambutannya, dia menyampaikan hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia yang harus dijaga. Kaltim juga salah satu yang terbaik dalam upaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca.

"Yang paling penting, alam harus tetap kita jaga di tengah pandemi ini. Karena sebetulnya vaksin covid-19 paling tepat untuk saat ini yaitu dengan pola 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak," ungkapnya.

Harapan lain yang juga penting, HKAN Tahun 2020 sekaligus juga menjadi momentum reaktivasi kawasan konservasi sebagai destinasi wisata konservasi. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno menyampaikan pandemi juga berdampak terhadap kawasan konservasi dan aktivitas wisata alam.

"Ditjen KSDAE tengah bekerja keras memulihkan pariwisata alam d kawasan konservasi, dengan menerapkan protokol Covid-19 yang ketat," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Wamen Alue Dohong menyerahkan Anugerah Konservasi kepada 19 orang penerima, yang telah berperan dalam upaya konservasi alam. Mengakhiri kegiatan, Wamen Alue melakukan penanaman pohon dan pelepasliaran satwa burung.

Pada kunjungan kerjanya di Kaltim, Wamen Alue Dohong juga meninjau persemaian mangrove di Muara Badak, Kabupaten Kukar yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Ramah Lingkungan S.B. Lokasinya yang berada di delta Sungai Mahakam menjadikannya areal yang penting dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai peredam angin dan gelombang laut, serta pelindung abrasi.

Mangrove juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang, udang dan lainnya. Selain itu, mengrove merupakan tempat untuk perkembangbiakan dan pembesaran yang bagus untuk udang.

"Kami tengah menggalakkan padat karya penanaman mangrove dengan model silvofishery. Jadi mangrovenya kita rehabilitasi agar udang, bandengnya jadi banyak, masyarakat pun mendapat penghasilan dari sana," kata Wamen Alue.

Selanjutnya, Wamen Alue mengunjungi Pusat Konservasi Mangrove yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Bontang. Selain program konservasi kawasan mangrove, Kelompok Tani Lestari Indah yang mengelola kawasan ini juga memberdayakan ibu rumah tangga dalam program diversifikasi buah mangrove.

Mereka dibina dan diberi bekal keterampilan untuk memanfaatkan  buah mangrove menjadi produk sirup mangrove yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Saat ini, mereka juga tengah mengembangkan ekowisata mangrove dan pembudidayaan kepiting bakau. 

Baca Juga

ANTARA/Adnan

Gaya Hidup Masa Depan Utamakan yang Berkelanjutan

👤Ata/H-1 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:00 WIB
VISI gaya hidup masyarakat ke depan sudah seharusnya mengarah pada prinsip sustainable atau berkelanjutan yang jika tidak dilakukan dapat...
 Medcom.id

RI Belajar dari Jepang Mitigasi Gempa Megathrust

👤Wan/X-11 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:00 WIB
Jepang berhasil memitigasi bencana dengan memberlakukan protokol yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan masyarakat saat bencana...
MI/Ricky Julian

Dapat Izin BPOM, Obat Covid-19 Covitor Siap Edar

👤Ata/Fer/X-7 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 04:29 WIB
Ada sejumlah persyaratan spesifik dalam penggunaan obat tersebut, di antaranya digunakan pada pasien covid-19 berusia 12 tahun ke atas,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya