Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI kemerdekaan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia tidak banyak kemajuan dan cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, riset Wahid Foundation terhadap peristiwa pelanggaran KBB selama satu dekade terakhir menunjukkan angka pelanggaran yang masih tinggi.
"Tidak banyak perbedaan antara sepuluh tahun lalu dengan tahun ini. Aktornya saja yang banyak berubah. Beberapa tahun terakhir, aktor non-negara melakukan pelanggaran KBB lebih tinggi dibanding aktor negara. Ini khususnya ditambah dengan menguatkan siar kebencian (hate speech) di ranah platform digital," kata Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi kepada mediaindonesia.com, Jumat (24/7).
Di saat yang sama, lanjutnya, kasus-kasus lama pelanggaran KBB banyak yang mangkrak. Mujtaba mencontohkan kasus-kasus mangkrak tersebut di antaranya kekerasaran terhadap Ahmadiyah dan Syiah, penyegelan gereja, dan lain-lain.
"Tidak ada terobosan yang serius dari para pengurus negara untuk menuntaskan kasus-kasus tersebut," ujarnya.
Belum lama ini, kasus pelanggaran KBB juga terjadi di Kuningan, Jawa Barat. Pembangunan pemakaman masyarakat adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan, Cigugur, Kabupaten Kuningan, dihentikan pemda setempat. Alasannya, pembangunan makam untuk sesepuh adat Sunda Wiwitan dinilai meresahkan warga.
Baca juga : Muhammadiyah: Kekerasan Atas Nama Agama Dilakukan Elite Politik
"Peristiwa di Cigugur hanya menambah daftar pelanggaran KBB, yang angkanya masih tinggi dari tahun ke tahun, dan ini tidak bisa terus menerus dibiarkan. Semakin dibiarkan, akan semakin banyak pula pelanggaran terjadi," ujar Mujtaba.
Di satu sisi, katanya, memang ada beberapa perkembangan baik yang juga tak lepas dari dorongan tiada henti dari gerakan masyarakat sipil. Misalnya, dalam hal direkognisinya kepercayaan lokal dalam kolom identitas KTP, masuknya representasi kelompok masyarakat kepercayaan lokal dalam lembaga-lembaga negara, dan lain-lain.
Namun, berbagai pelanggaran KBB yang ada tetap harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.
"Negara, khususnya pemerintah (eksekutif), tidak bisa terus-menerus beralibi bahwa pelanggaran yang terjadi dilakulan oleh aktor pemerintah lokal--atas kerja sama dengan komponen masyarakat yang berpikiran mayoritarian, bukan kebinekaan," pungkasnya. (OL-2)
SATU tahun perjalanan Kabinet Merah Putih, 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025, menjadi tonggak penting bagi Kementerian Agama (Kemenag)
Keberagaman adalah kerukunan yang harus terus dijaga semua pemuka agama, maupun masyarakat yang ada di Tangerang Selatan (Tangsel)
Organisasi Banom Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dihadiri oleh Pengurus DPP PKB, Daniel johan
Sebuah gagasan yang dinilai baik bagi pemerintah, penerapannya pun harus benar dengan mempertimbangan obyek yang akan terkena kebijakan negara. Jangan sampai justru kontraproduktif.
Isra Mikraj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk menjaga kerukunan umat beragama.
Kemenag menghimbau para aktor dakwah dan layanan keagamaan serukan seluruh umat dan jemaahnya menjaga kerukunan dan kedamaian pada Pemilu 2024.
Film Patah Hati yang Kupilih berfokus pada hubungan Alya dan Ben, yang terbentur tembok besar perbedaan agama yang diperparah oleh penolakan restu orangtua.
MENTERI Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan akan terus berusaha agar umat semakin dekat dengan ajaran agamanya.
MENTERI Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama harus memainkan peran strategis sebagai jembatan dan mediator antara negara dan civil society.
MEDIA (cetak, elektronik, dan digital) disadari atau tidak bukan semata penyampai pesan.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, kegiatan Ngaji Budaya menjadi sarana efektif untuk mengajak generasi muda mencintai seni dan budaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
Bermain pada film yang mengangkat kisah pernikahan beda agama, siapa sangka ternyata hal itu pernah dirasakan langsung oleh Michelle Ziudith.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved