Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SISTEM tembakau yang dipanaskan secara elektrik IQOS dari Philip Morris International (PMI) disebut telah mendapat izin pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (BPOM AS) atau US FDA.
Chief Executive Officer PMI, André Calantzopoulos, mengatakan, US FDA menemukan modifikasi paparan IQOS sejalan dengan upaya mendukung kesehatan masyarakat untuk segera beralih ke produk alternatif bebas asap yang telah terbukti secara ilmiah.
Baca juga: Dear Perokok, IDI Bilang Asap Rokok tidak Menyebarkan Covid-19
Ia menambahkan, keputusan tersebut tonggak bersejarah bagi kesehatan masyarakat yang menunjukkan IQOS merupakan produk tembakau yang secara fundamental berbeda dengan rokok dan merupakan pilihan lebih baik bagi perokok dewasa yang mengalami kesulitan untuk berhenti merokok.
"Hal mendesak yang sangat diperlukan adalah diskusi sosial serta arah kebijakan yang secara mendasar berbeda sehingga dapat membuat para perokok dewasa pria maupun wanita yang memilih untuk tetap merokok untuk segera beralih ke produk alternatif bebas asap yang telah terbukti secara ilmiah," ujar Calantzopoulos dalam siaran persnya, Kamis (9/7).
Ia menambahkan, IQOS adalah produk yang secara fundamental berbeda dari rokok yang dibakar dan harus diregulasi dengan cara yang juga berbeda. Mereka yang tidak dapat berhenti merokok dapat beralih ke produk bebas asap yang telah diuji dan dibuktikan secara ilmiah.
"Pilihan terbaik untuk kesehatan adalah tidak pernah mulai merokok atau berhenti sama sekali. Bagi mereka yang tidak berhenti merokok, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah beralih ke produk bebas asap yang telah diuji dan dibuktikan secara ilmiah," tegasnya.
Baca juga: Remaja Indonesia sudah Konsumsi Rokok Elektrik
Calantzopoulos juga memuji pemerintah dan organisasi kesehatan masyarakat yang terbukti dapat mengatur produk alternatif bebas asap dengan cara membedakannya dari rokok konvensional guna melindungi dan mendukung kesehatan masyarakat. (RO/A-3)
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa aerosol dari vape mengandung zat berbahaya seperti partikel halus, logam berat, dan senyawa organik volatil yang dapat masuk
Kajian BRIN yang dirilis pada November 2025 menjadi rujukan awal penting dalam memperkuat landasan ilmiah bagi kebijakan pengendalian tembakau.
INDONESIA saat ini sedang menghadapi situasi meningkatnya jumlah perokok dengan prevalensi mencapai 7,2% dari jumlah penduduk. I
Maladewa resmi melarang generasi muda lahir setelah 2007 merokok, membeli, atau menjual tembakau.
Vape atau rokok elektrik kini menjadi tren populer, terutama di kalangan anak muda, karena desainnya yang menarik dan berbagai pilihan rasa cairan
Vape memang menyimpan banyak risiko kesehatan, bahkan lebih berbahaya daripada rokok konvensional dalam beberapa aspek.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved