Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan peneliti-peneliti Eijkman saat ini terus berupaya membuat vaksin covid-19. Pekerjaan yang tidak mudah itu dilakukan demi menghasilkan vaksin yang sesuai untuk mengatasi virus yang berkembang di Indonesia.
“Vaksin yang kami kembangkan inilah vaksin merah putih. Jadi dikembangkan oleh Indonesia sendiri, untuk Indonesia sendiri, berasal dari virus yang ada di Indonesia sendiri,” ujar Amin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Amin mengatakan saat ini Eijkman sudah pada tahap melakukan sekuensing DNA atau pengurutan DNA virus-virus yang ada di Indonesia. Dengan begitu, nantinya diharapkan vaksin yang tercipta benar-benar efektif melawan covid-19 yang berkembang di Indonesia.
Menurut Amin, sejauh ini para peneliti telah berhasil melakukan ampflifikasi atau duplikasi gen virus. Selanjutnya tahapan lain akan dilakukan sebelum nanti hasil akhir diuji klinis.
“Kami hanya diberi waktu sampai Maret tahun depan untuk bisa hasilnya diberikan kepada Biofarma guna dilanjutkan ke uji klinis,” ujar Amin.
Saat ini, hambatan yang paling besar ialah mendatangkan reagen dari luar negeri. Persaingan ketat terjadi di antara negara-negara dalam mendapatkan reagen tersebut. Tantangan lainnya ialah mulai banyak pihak asing yang ingin mengujicobakan vaksin buatan mereka di Indonesia.
“Padahal belum tentu vaksin yang dikembangkan di negara lain itu bisa dikembangkan di Indonesia karena ada perbedaan karakteristik virus dan sebagainya,” jelasnya.
Pada kesempatan berbeda, Amin juga mengatakan terapi plasma konvalesen bukan merupakan metode pencegahan terhadap covid-19. “Kita tidak boleh menganggap ini metode pencegahan. Itu anggapan yang keliru. Karena kalau masih sehat nggak perlu dikasih apa-apa,” kata Amin di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan masih belum pasti para ilmuwan bisa membuat vaksin yang efektif melawan covid-19.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, jika vaksin seperti itu menjadi kenyataan, harus menjadi barang publik yang tersedia untuk semua. “Akan sangat sulit untuk mengatakan dengan pasti bahwa kita akan memiliki vaksin,” kata dia.(Pro/Ata/CNA/Nur/X-10)
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved