Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
ISU asteroid menghantam bumi pada 8 Mei 2020 tak terbukti. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) juga sebelumnya menyatakan asteroid berukuran raksasa akan menabrak bumi pada pertengahan bulan Ramadan adalah informasi yang tidak benar. Kendati demikian, penduduk bumi masih harus tetap waspada, pasalnya potensi jatuhnya benda langit sehingga mengancam kehidupan di bumi masih tetap ada.
Peneliti Astronomi Imah Noong, Hendro Setyanto menyampaikan, asteroid yang diisukan jatuh ke bumi jaraknya masih sangat jauh dengan bumi sehingga tidak akan membahayakan manusia.
"Kita tahu bahwa hari ini, asteroid berada pada jarak terdekat dengan bumi. Tapi itu bukan berarti membahayakan bumi kita, lintasannya masih cukup jauh dan para ilmuwan mengatakan tidak mungkin menjadikan bencana di bumi," kata Hendro di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/5) malam.
Namun begitu, dia menerangkan, hal itu sebenarnya masih mungkin terjadi. Artinya, kejadian asteroid menghantam bumi adalah sebuah kemungkinan.
"Kita pernah melihat contohnya tahun 1997 kalau saya tidak salah, komet yang terperangkap oleh medan gravitasi planet Jupiter," ujarnya.
Menurut Hendro, asteroid sebetulnya adalah sebuah benda luar angkasa seperti halnya komet, bulan dan bumi yang mengorbit matahari. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan segalanya bisa diprediksi manusia.
"Secara ilmu pengetahuan, dalam hal ini astronom, mampu memprediksi dengan baik apakah benda luar angkasa itu akan menjadi bencana atau tidak di bumi," bebernya.
Dengan banyaknya benda di luar angkasa, salah satunya satelit buatan manusia, Hendro mengungkapkan, benda-benda tersebut sangat berpotensi membahayakan kehidupan di bumi.
"Karena bisa jadi, satelit-satelit yang tidak dipakai itu kemudian jatuh ke bumi," tuturnya.
baca juga: Belajar dari Rumah Bisa Bikin Stres Orangtua dan Anak
Oleh sebab itu, dia melanjutkan, sangat penting sekali bagi Indonesia yang berada di khatulistiwa memiliki fasilitas yang bisa mengantisipasi ancaman jatuhnya benda-benda langit tersebut.
"Jangan sampai kalau misalkan ada suatu benda jatuh, tidak diantisipasi karena dampaknya akan luar biasa. Apalagi kalau itu benda seperti meteor, asteroid yang ukurannya tidak kecil, dan kalau itu jatuh ke bumi, dampaknya luar biasa," jelasnya. (OL-3)
Gerhana Matahari total terjadi ketika Bulan bergerak tepat di antara Bumi dan Matahari, menutupi piringan Matahari sepenuhnya.
Satelit Landsat 8 milik NASA menangkap gambar unik menyerupai manusia salju sepanjang 22 kilometer di Semenanjung Chukchi, Rusia.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Tim ilmuwan di Swedia berhasil menangkap fenomena langka aurora biru di ketinggian 200 kilometer, lebih tinggi dari prediksi model ilmiah.
Fenomena ini akan mencapai puncaknya pada Rabu, 5 November pukul 19:19 WIB, menandai supermoon kedua dari tiga supermoon berturut-turut yang akan menutup tahun 2025.
Riset ilmuwan ungkap bagaimana kegelapan sesaat mampu mengubah ritme biologis burung secara dramatis.
2025 MN45 harus tersusun dari material yang sangat kokoh agar tidak hancur akibat gaya sentrifugal dari putarannya yang ekstrem.
Asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, namun mamalia bertahan. Simak faktor evolusi dan adaptasi yang membuat mamalia selamat dari kepunahan massal.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Para ilmuwan NASA baru saja mengumumkan penemuan sebuah “bulan mini” baru, yaitu sebuah asteroid kecil bernama 2025 PN7 yang akan bergerak seiring dengan Bumi
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari.
Peneliti menemukan jejak mikroba purba di batuan kawah asteroid Danau Lappajärvi, Finlandia. Temuan ini menunjukkan kehidupan bisa muncul kembali beberapa juta tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved