Rabu 22 April 2020, 07:10 WIB

Plasma Darah Penawar Korona

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Plasma Darah Penawar Korona

Sumber: PMI/Lembaga Biologi Molekuler Eijkman/Tim Riset MI-NRC/Grafis: Seno
Peran plasma dalam darah.

 

Sebelum peradaban dunia mengenal vaksin, pemanfaatan plasma darah sudah digunakan lebih dari 100 tahun yang lalu. Tepatnya, saat epidemi Flu Spanyol pada 1918 atau pada abad ke-21 ketika wabah Ebola dan SARS terjadi.

Aktor Hollywood Tom Hanks dan istri, Rita Wilson, termasuk dalam 658.954 pasien virus korona baru yang sembuh dari 2.501.919 kasus yang terkonfirmasi positif, seperti dilansir dari laman Worldometers, tadi malam. Seusai dinyatakan sembuh pada akhir Maret 2020, mereka ikut berpartisipasi dalam penelitian medis.

“Kami mendonasikan darah kami. Kami menunggu untuk mendengar kembali jika antibodi kami akan membantu dalam mengembangkan vaksin,” kata Rita Wilson, pada 15 April 2020.

Begitulah, karena obat maupun vaksin virus korona baru (covid-19) belum ditemukan, beragam cara dilakukan, termasuk menggunakan plasma darah pasien sembuh sebagai penawarnya.

Saat ini, penggunaan transfusi plasma darah dalam skala kecil telah dilakukan banyak negara, seperti Iran, Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Di Iran, terapi plasma darah bahkan diyakini meningkatkan tingkat pemulih­an di unit perawatan intensif sebesar 40%.

Indonesia pun mengadopsi keberhasilan terapi plasma darah pasien sembuh untuk pasien korona, melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Palang Merah Indonesia (PMI). Diketahui, PMI memiliki 15 laboratorium yang berkompeten melakukan pengambilan plasma darah tersebut.

Lantas, bagaimana cara kerja plasma darah dalam melawan virus itu? Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio menyebut pengambilan plasma darah ‘convalescent’ dari darah pasien covid-19 dilakukan karena di dalam plasma darah itu terkandung antibodi yang dapat menetralkan virus.

“Kami akan menggunakan plasma dari pasien yang sudah sembuh, namanya plasma convalescent. Kira-kira diambil dari pasien 2-4 minggu setelah mereka sembuh. Plasma itu mengandung antibodi sangat baik yang bisa menetralisasi virus. Ini diharapkan bisa membantu perjuangan antara yang mati dan hidup,” kata Amin kepada Media Indonesia, Jumat (17/4).

Pasien-pasien yang dalam kondisi berat, tetapi belum punya antibodi. Sementara itu, pasien yang sudah sembuh sudah mampu menghasilkan antibodi untuk melawan virus itu. “Jumlah virus akan menurun karena akan di­netralisasi oleh antibodi tadi,” terangnya.

Jeda 28 hari

Namun, ada syarat yang harus dipenuhi pasien covid-19 yang sembuh untuk bisa mendonorkan plasma darahnya. Ada jeda waktu 28 hari setelah pasien dinyatakan sembuh.

Lalu, setiap calon pendonor darah harus dicek kembali, ­apakah memiliki antibodi yang cukup tinggi dan tidak ada lagi virus di tubuhnya. “Bisa 2 hingga 3 minggu karena harus dicek laboratorium,” paparnya.

Selain Eijkman, penelitian tentang plasma darah sebagai kemungkinan obat untuk pasien korona juga tengah berlangsung di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, bekerja sama dengan BUMN farmasi Biofarma di Bandung.

Ratri Anindya, salah satu pasien pertama covid-19 di Indonesia, yang kini telah sembuh juga ikut terlibat dalam penelitian itu. Melalui akun Instagram @ratrianindya pada Sabtu (18/4), ia mengunggah foto dirinya yang tengah mendonorkan plasma darahnya di RSPAD Gatot Soebroto.

Ia mengatakan, proses pengambilan 200 cc plasma darah berjalan hampir satu jam dengan alat khusus yang menyaring plasma darah dari darah merahnya.

“Proses pengambilan plasma darahku berhasil dengan lancar dan ternyata enggak begitu menyeramkan lo,” ci­citnya sambil mengajak para penyintas covid-19 lainnya untuk melakukan hal yang sama. (H-2)

Baca Juga

MI/ VICKY GUSTIAWAN

Menimbang Efektivitas PTM di Masa Pandemi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 15:20 WIB
Dengan PTM ini bisa memberi waktu kepada anak-anak, juga karena tidak ada batasan waktu untuk tugas guru akan aktif mengingatkan siswanya...
ANTARA / Nyoman Hendra Wibowo

BMKG Catat Ada 32 Kali Aktivitas Gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga

👤 Atalya Puspa 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 14:45 WIB
Terjadinya fenomena gempa swarm ini setidaknya menjadikan pembelajaran tersendiri untuk masyarakat, karena aktivitas swarm memang jarang...
DOK. ITS

ITS Raih Penghargaan Terbanyak Pada Kontes Kapal Cepat Tak Berawak 2021

👤 Faustinus Nua 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 14:20 WIB
Melalui kontes ini, pemerintah ingin terus menanamkan kesadaran pada generasi muda bahwa kita (Indonesia) adalah negara maritim terbesar di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya