Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Ketua Satgas Covid-19 IDI: Rapid Test 10 Ribu Sehari Per Provinsi

Ferdian Ananda Majni
06/4/2020 17:54
Ketua Satgas Covid-19 IDI: Rapid Test 10 Ribu Sehari Per Provinsi
Rapid test(AFP)

TERKAIT Instruksi Presiden Joko Widodo yang meminta jajaran pemerintah meningkatkan kecepatan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi covis-19 supaya kasus-kasus infeksi virus korona bisa segera dideteksi dan ditangani.

Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban mengatakan rapid test sangat penting dan sekarang ada di Indonesia. Oleh karena itu, segera kerjakan itu sebanyak mungkin dan secepatnya.

“Saya harapkan per provinsi 10 ribu sehari,” kata Zulbairi kepada Media Indonesia, Senin (6/4).

Rapid test penting karena salah satu tata laksana untuk memutus penularan covid-19 itu selain lockdown ataupun karantina wilayah dan physical distancing. Kata dia, dua lain yang penting adalah tes sebanyak mungkin dan secepat mungkin. Artinya rapid test sebanyak mungkin karena itu yang dikerjakan oleh banyak negara sehingga berhasil menangani pendemi Covid-19 tersebut.

“Misalnya Korea Selatan itu telah melakukan rapid test sampai 330 ribu test artinya sekitar 10 perhari paling sedikit. Nah dengan cara itu menemukan yang positif cukup banyak,” sebutnya

Selanjutnya dilakukan isolasi atau karantina untuk memutuskan mata rantai penularan virus tersebut. Lanjut Zubairi, tahapan kedua adalah setelah menemukan positif pada rapid test kemudian ditelusuri atau kontak tracing sehingga apabila ditemukan 10 orang makanya mereka langsung dilakukan rapid test juga.

“Berapa pun ketemu juga diakukan rapid test, dan dilakukan karantina sehingga hasilnya penularan amat sangat berkurang. Itu terjadi di Korea Selatan,” terangnya.

Menurutnya, pemerintah sudah melakukan rapid test di beberapa wilayah bahkan ada yang sampai 20 ribu lebih dalam waktu 2 hingga 3 hari tentunya itu hasil yang sangat baik

“Problemnya adalah setelah test itu langsung harus kontak trasing. Nah itu ketemu berapa harus diumumkan, misaslnya 1 ketemu 5 otang beerapa total yang rapid test awal perlu disampaikan, berikutnya rapid test pada telusur kontak. Ini untuk kepentingan epidemiologi untuk rantai penulran,” paparnya

Dia menambahkan jadi harus dibedakan tata kelola pasien, apabila ada pasien ditemukan positif pada rapid test. Nanti dilihat fase beberapa banyak, seperti gejala panas atau lainya.

Akan tetapi jika panas, batuk dan sesak serta rapid test positif itu kemungkinan benar-benar positf itu tinggi sehigga perlu segera pengobatan dan segera tes PCR yang standar.

“Jadi fasenya lebih cepat setelah tata laksana, sekarang ini misalnya kita test standar PCR yang hanya ada di beberapa rumah sakit, itu hasilnya bisa seminggu bisa dua minggu atau lebih sehingga itu menjadikan tata laksana pasien jadi lebih lambat apalagi untuk masalah epidemiologi menghidari besaran masalah di lapangan itu menjadi lambat banget,” lanjutnya.

Meskipun demikian, rapid test ada beberapa jenis, yang pertama memeriksa bagian antibodi, dan memeriksa PCR.

“PCR itu sedikit lebih baik daripada yang memeriksa antibodi, namun rapid test antibodi itu penting banget. Karena itu juga yang dikerjakan di banyak negera di awal epidemi,” jelasnya.

Dia memamparkan di banyak negara di awal epidemi yakni Januari dan Februari mereka melakukan rapid test yang sekarang ada di Indoensia.

“Perkara saat ini ada rapid test PCR itu belum lama, dan yang terbutkti di Korea selatan waktu mengunakan rapid test yang dikerjakan Februari (belum ada yang PCR), jika melihat website Australia test apa yang diapkai ternyata sama yang dipakai rapid tes antibodi dan rapid test PCR,” tegasnya

Zulbairi membantah anggapan bahwa rapid test antibodi tidak dipakai di negara lain. Sebaliknya, itu digunakan di banyak negara termasuk Australia.

“Jadi jika seorang dites antibodi positif maka ada virus, PCR itu langsung virusnya dan lebih akurat, sensitif serta spesifik dibandingkan dengan test antibodi,” sebutnya

Dia menegaskan test manapun tetap bermanfaat untuk menekan laju penularan. Oleh karena itu, terpenting gunakan apa yang ada sekarang di Indonesia.

“Jangan minta yang amat sangat canggih tetapi tidak ada di Indonesia,” pungkasnya. (OL-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Baharman
Berita Lainnya