Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR komunikasi politik, Emrus Sihombing, mengatakan, makna Sumpah Pemuda harus digaungkan kembali agar kesadaran sebagai satu bangsa tetap terjaga sekaligus mewaspadai gangguan yang bisa memecah persatuan.
"Makna Sumpah Pemuda itu sangat efektif untuk melawan berbagai gangguan yang ingin memecah belah bangsa kita," ujar Emrus di Jakarta, Selasa (29/10).
Ia mengungkapkan, saat ini ada sekelompok masyarakat pengikut radikalisme yang ingin mempertajam perbedaan yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia. Mereka menganggap diri paling benar, paling suci, bahkan tak segan menghakimi orang lain yang tidak seiman dengan dia.
"Saya menganggap perilaku radikalisme ini tidak tempatnya di Indonesia. Apalagi negara kita berdiri dengan merujuk pada Sumpah Pemuda,
Pancasila, UUD 45, dan konstitusi kita yang lain," kata dia.
Menurut dia, hal itu pula yang mendasari Presiden Joko Widodo beberapa kali menekankan masalah pemberantasan radikalisme ini kepada para menterinya. Artinya, radikalisme itu masalah yang sangat serius yang menjadi ancaman keutuhan bangsa.
Ia mengusulkan agar Sumpah Pemuda selalu digaungkan di setiap kegiatan seperti lagu Indonesia Raya. Menurut dia, dengan membaca langsung Sumpah Pemuda, setiap warga negara akan lebih menghayati maknanya.
Baca juga: Jambore Pemuda Indonesia (PJI) 2019 Harus Jadi Solusi Kebangsaan
"Dengan diucapkan dan dihayati, pasti isi Sumpah Pemuda itu akan melekat dan meresap dalam diri kita masing-masing. Dari situlah akan terpatri rasa persatuan kita sebangsa dan se-Tanah Air," ujarnya.
Ia menyarankan kepada pemerintah agar sosialisasi dan dialog kebangsaan terus diberikan kepada masyarakat dari desa sampai tingkat nasional.
"Pembangunan suatu negara harus dimulai dari masyarakat kecil, yaitu desa. Kita harus jemput bola untuk memperkuat kebangsaan dan nasionalisme. Apalagi gangguan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sangat nyata di depan kita," kata dia.
Ia tidak sependapat dengan beberapa pihak yang mengatakan radikalisme itu dari satu kelompok kepercayaan tertentu. Menurut dia,
radikalisme juga bisa berasal dari kelompok kepercayaan yang lain.
"Mari kita perkuat jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Kita harus mengikis habis radikalisme dari Indonesia," katanya. (OL-1)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved