Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dalam program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) selama lima tahun yakni pada 2015-2020.
Program ini dilaksanakan guna mendorong pengembangan ekosistem terkait produksi obat di Indonesia.
Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan mengatakan program SATREPS telah berjalan baik dan lancar. Saat ini, program itu tengah memasuki tahap akhir.
"BPPT mendapatkan banyak manfaat dari SATREPS. Tidak hanya meningkatkan kapasitas lab berupa peralatan, program ini juga membantu meningkatkan kualitas SDM, terutama dalam kemampuan mendesign dan mengembangkan penelitian dari penemuan obat," kata Soni di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/10).
Baca juga: Badan POM Tarik Obat Ranitidin
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Bioteknologi Agung Eru Wibowo mengatakan, hal utama yang perlu dibangun yakni kesiapan infrastruktur baik dari segi SDM hingga fasilitas.
"Jadi program SATREP untuk lima tahun ini arah utamanya adalah capacity building. Pertama fasilitas risetnya dilengkapi, beberapa peralatan kita dapatkan dari JICA dan AMED. SDM dilatih dan disiapkan bagaimana mampu meng-handle resources kemudian memanfaatkan melakukan isolasi senyawa," tuturnya.
Dalam program ini, resources yang dikembangkan BPPT yakni mikroba. Terdapat sekitar 25 ribu mikroba yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat-obatan yang melimpah.
"Sehingga teman-teman dilatih bagaimana memelihara mikroba, mengoleksi, mengkarakterisasi mengidentifikasi, kemudian nanti mencari senyawanya," imbuhnya.
Agung mengatakan, dalam lima tahun ini terdapat beberapa senyawa yang sudah terkarakterisasi. Salah satunya yakni penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria atau Searching Lead Compound of Anti-Malarial and Anti-Amoebic Agents by Utilizing Diversity of Indonesian Bio-resources (SleCAMA project).
"Dari 20 senyawa sudah diisolasi, mungkin sekitar 10 potensinya sudah cukup kuat. Ini yang terus akan dilanjutkan," ujarnya.
Namun, Soni mengungkapkan, program selama lima tahun ini belum dapat menghasilkan produk jadi. Sebab, dibutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk dapat menghasilkan produk obat yang siap pakai.
"Program lima tahun ini nggak selesai, nggak sampai output keluar bahan, itu baru persiapan-persiapannya karena kalau selesai mungkin butuh waktu 10-15 tahun," tandas Soni. (OL-2)
Ajang ini diikuti oleh 25 perusahaan nasional dari berbagai sektor yang dinilai aktif berperan dalam pengendalian penyakit ATM selama tiga tahun terakhir.
Peneliti internasional menciptakan jamur Metarhizium beraroma bunga yang mampu menarik dan membunuh nyamuk pembawa penyakit seperti malaria dan demam berdarah.
Penemuan ini menjadi yang pertama kali teridentifikasi pada kerangka dari periode logam, membuka bab baru dalam studi hubungan antara penyakit dan evolusi manusia.
Dilansir dari laman Gavi, the Vaccine Alliance, salah satu penyakit yang sudah ada sejak zaman dulu ialah malaria. Dalam catatan medis Tiongkok kuno dari tahun 270 SM
Munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menjadi peringatan serius bagi seluruh daerah di Indonesia.
Sejak Januari sampai Agustus 2025, pihaknya mencatat ada sekitar 39 kasus malaria impor di Kota Yogyakarta
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved