Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Pilih Label Lebih Sehat Mulai Sekarang

(Aiw/H-2)
04/9/2019 03:40
Pilih Label Lebih Sehat Mulai Sekarang
Label Pangan(ANTARA/ADWIT B PRAMONO)

TINGKAT kesadaran masyarakat untuk membaca label pangan masih rendah karena sulitnya memahami pesan yang ingin disampaikannya.

Padahal, informasi kandungan gizi yang terdapat dalam label produk merupakan pedoman agar konsumen terhindar dari material yang memicu munculnya kekurangan gizi maupun gizi berlebih.

Demikian hasil survei pembacaan label pangan olahan yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) selama 2016 dan 2017.

Dengan merujuk pada survei itu, Badan POM akhirnya menerbitkan Peraturan Badan POM Nomor 22 Tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan yang diundangkan pada 21 Agustus 2019. Regulasi yang ada diubah agar bentuk penyampaian gizi produk olahan pada kemasan lebih mudah dipahami konsumen.

"Lewat label itu, Badan POM memberikan, memformulasikan, dan melengkapi regulasi yang ada sebagai bentuk penyampaian informasi yang harus dibaca konsumen, terutama kandungan gula, garam, dan lemak sebagai panduan nutrisi," kata Kepala Badan POM Penny K Lukito saat acara Sosialisasi Pelabelan Gizi Pangan Olahan di Jakarta, kemarin.

Lantas, kemudahan apa yang diperoleh konsumen? Penny menjelaskan, dalam memilih produk, konsumen dapat mengenali desain monokrom informasi nilai gizi dan logo Pilihan Lebih Sehat atau Healthy Choice yang dicantumkan pada bagian utama label.

Desain monokrom pada dasarnya sama dengan informasi nilai gizi yang ada di belakang label. Namun, desain ini hanya sebagai highlight dari beberapa zat gizi yang terkait dengan penyakit tidak menular (PTM), seperti energi, lemak, lemak jenuh, gula, dan garam.

Produk yang mencantumkan logo Pilihan Lebih Sehat berarti telah memenuhi kriteria untuk menjadi pilihan produk dengan kandungan yang sehat berdasarkan kandungan gula, garam, atau lemaknya.

"Untuk tahap awal, baru diberlakukan untuk produk minuman siap konsumsi dan pasta atau mi instan," cetus Penny.

Meski begitu, imbuhnya, masyarakat harus memahami bahwa pilihan lebih sehat ini jika dibandingkan dengan produk sejenis dan dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

"Jadi, silakan masyarakat memilih yang terbaik demi kesehatan dan juga untuk mendukung visi ke depan, yaitu menciptakan sumber daya manusia unggul dan Indonesia maju. Dan itu hanya diciptakan dari masyarakat yang sehat," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, semakin banyak masyarakat yang mengonsumsi pangan tinggi gula, garam dan lemak (GGL) turut memicu meningkatnya kasus penyakit tidak menular, merujuk pada Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018.

Dari data tersebut diketahui angka prevalensi kanker meningkat dari 1,4% menjadi 1,8%. Prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%. Penyakit ginjal kronis naik dari 2% menjadi 3,8%. Pun demikian diabetes, naik dari 6,9% menjadi 8,5%. Hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. (Aiw/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya