Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT kesadaran masyarakat untuk membaca label pangan masih rendah karena sulitnya memahami pesan yang ingin disampaikannya.
Padahal, informasi kandungan gizi yang terdapat dalam label produk merupakan pedoman agar konsumen terhindar dari material yang memicu munculnya kekurangan gizi maupun gizi berlebih.
Demikian hasil survei pembacaan label pangan olahan yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) selama 2016 dan 2017.
Dengan merujuk pada survei itu, Badan POM akhirnya menerbitkan Peraturan Badan POM Nomor 22 Tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan yang diundangkan pada 21 Agustus 2019. Regulasi yang ada diubah agar bentuk penyampaian gizi produk olahan pada kemasan lebih mudah dipahami konsumen.
"Lewat label itu, Badan POM memberikan, memformulasikan, dan melengkapi regulasi yang ada sebagai bentuk penyampaian informasi yang harus dibaca konsumen, terutama kandungan gula, garam, dan lemak sebagai panduan nutrisi," kata Kepala Badan POM Penny K Lukito saat acara Sosialisasi Pelabelan Gizi Pangan Olahan di Jakarta, kemarin.
Lantas, kemudahan apa yang diperoleh konsumen? Penny menjelaskan, dalam memilih produk, konsumen dapat mengenali desain monokrom informasi nilai gizi dan logo Pilihan Lebih Sehat atau Healthy Choice yang dicantumkan pada bagian utama label.
Desain monokrom pada dasarnya sama dengan informasi nilai gizi yang ada di belakang label. Namun, desain ini hanya sebagai highlight dari beberapa zat gizi yang terkait dengan penyakit tidak menular (PTM), seperti energi, lemak, lemak jenuh, gula, dan garam.
Produk yang mencantumkan logo Pilihan Lebih Sehat berarti telah memenuhi kriteria untuk menjadi pilihan produk dengan kandungan yang sehat berdasarkan kandungan gula, garam, atau lemaknya.
"Untuk tahap awal, baru diberlakukan untuk produk minuman siap konsumsi dan pasta atau mi instan," cetus Penny.
Meski begitu, imbuhnya, masyarakat harus memahami bahwa pilihan lebih sehat ini jika dibandingkan dengan produk sejenis dan dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
"Jadi, silakan masyarakat memilih yang terbaik demi kesehatan dan juga untuk mendukung visi ke depan, yaitu menciptakan sumber daya manusia unggul dan Indonesia maju. Dan itu hanya diciptakan dari masyarakat yang sehat," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, semakin banyak masyarakat yang mengonsumsi pangan tinggi gula, garam dan lemak (GGL) turut memicu meningkatnya kasus penyakit tidak menular, merujuk pada Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018.
Dari data tersebut diketahui angka prevalensi kanker meningkat dari 1,4% menjadi 1,8%. Prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%. Penyakit ginjal kronis naik dari 2% menjadi 3,8%. Pun demikian diabetes, naik dari 6,9% menjadi 8,5%. Hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. (Aiw/H-2)
Cek kesehatan berkala sangat dianjurkan untuk masyarakat dengan tujuan mengetahui status kesehatan, mendeteksi dini gangguan kesehatan, dan meningkatkan pemahaman tentang kesehatan.
MEMASUKI tahun 2026, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan preventif semakin meningkat, termasuk dengan mengonsumsi suplemen kesehatan.
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved