Sabtu 06 Juli 2019, 10:30 WIB

Menimbang Mobil Listrik dan Hibrid

Siti Retno Wulandari | Humaniora
Menimbang Mobil Listrik dan Hibrid

MI/Siti Retno Wulandari
Mobil listrik jenis hibrid (listrik dan mesin) buatan Tim Mobil Listrik ITB.

 

TIDAK ada bising yang terdengar di dalam maupun di luar mobil. Saat berkendara, pedal gas tidak perlu diinjak dalam untuk mendapatkan tarikan yang cepat. Dua pembeda itulah yang paling terasa saat menjajal mobil listrik dan membandingkannya dengan mobil konvensional.

Agus Purwadi, yang berada di balik kemudi, menjelaskan mobil tersebut memiliki indikator yang menginformasikan jika sudah siap berkendara. Indikator itu ada pada tulisan ready di layar spedometer. Indikator itu dibuat karena tak ada suara mesin yang kerap menjadi penanda kesiapan mobil.

Agus yang merupakan Ketua Tim Mobil Listrik ITB ini pun merinci jenis mobil dengan teknologi hybrid electric vehicle (HEV) yakni mobil dengan mode listrik dan mesin. Ketika daya baterai habis, mobil tetap bisa dioperasikan dengan mesin, sekaligus melakukan penambahan daya pada baterai. Kedua, mobil plug-in hybrid electric vehicle, serupa dengan HEV, namun untuk mengisi daya baterai juga bisa menggunakan colokan layaknya mengisi daya baterai ponsel. Kemudian, battery electric vehicle (BEV) yang murni menggunakan colokan sebagai piranti pengisian baterai.

“Kelebihannya, mobil jenis BEV itu nggak ada emisi pembakaran mesin hanya emisi pembangkit sebagai sumber listrik. Sementara itu, HEV dan HEV tetap memiliki emisi mesin, namun besarannya tidak seperti mobil konvensional. Karena itu ramah lingkungan,” kata pria yang merupakan Tim Mobil Listrik ITB dalam pemaparan hasil riset mobil listrik di Bali, beberapa waktu lalu.

Terkait emisi, tim penguji menggunakan delapan mobil yang disediakan Toyota untuk empat tipe mulai dari konvensional, HEV, PHEV, dan BEV. Kapasitas untuk kendaraan bermesin yakni 1.800 cc, sedangkan besar kapasitas baterai berbeda di setiap tingkatan. Untuk HEV memiliki besar kapasitas baterai 4,4 KwH, PHEV 8,8 KwH, dan BEV 40 KwH.

Uji coba dilakukan selama enam bulan dengan jarak tempuh berdasarkan rata-rata jarak pengguna mobil dalam satu tahun, 12.000 kilometer. Dari situ diketahui besar penurunan penggunaan bahan bakar dan emisi CO2 yang dihasilkan.

“Penurunan emisi CO2 dari mesin akan berkurang 49% untuk jenis HEV. Kalau PHEV emisinya ada dua, mesin dan pembangkit listrik, namun tetap berkurang hingga 58%. Adapun BEV emisi hanya dari pembangkit dan tetap lebih kecil dibandingkan konvensional, menurun 67% dari emisi mobil mesin,” terang Agus.

Untuk besaran emisi pembangkit, Agus mengacu pada data Indonesia 2015 yakni 733 gram CO2 per KwH. Sehingga untuk mengetahui detail besar emisi listrik hanya perlu mengalikan kapasitas baterai dengan acuan emisi per KwH.

“Ya semisal kapasitas 40 KwH, kalikan saja dengan 733 gram CO2. Itu emisi yang dihasilkan dalam satu baterai. Namun, tetap lebih kecil jika dibandingkan dengan emisi mesin,” terangnya.

Terkait efisiensi bahan bakar minyak, Agus menjelaskan untuk HEV perbandingannya 1 liter bensin untuk jarak 10 kilometer.

Adapun PHEV lebih efisien, karena 1 liter bensin bisa dipakai untuk jarak 30 kilometer. Namun, ia memastikan agar menggunakan bensin jenis terbaik sehingga maksimal dalam pengiritan dan pengisian baterai.

“Nah nanti kalau bensin yang digunakan biofuel bisa semakin berkurang emisinya, lebih ramah lingkungan,” imbuh Agus.

Ia pun menyarankan kepada pemerintah untuk lebih dulu mencontohkan penggunaan mobil bertenaga listrik kepada masyarakat, dimulai dari penggantian mobil dinas, operasional, dan angkutan umum. Untuk jenisnya pun, Agus menyebut akan lebih efektif dimulai dengan hybrid. Selain masalah harga yang tinggi, ada juga persoalan infrastruktur yang belum dimiliki terkait charging station.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kemperin Harjanto mengungkapkantarget pemerintah pada 2030, Indonesia dapat menjadi pusat produksi mobil bertenaga internal combustion engine (ICE) maupun listrik untuk pasar domestik sampai ekspor.

Sementara itu, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menambahkan pihaknya saat ini menunggu penandatanganan revisi PP 41/2013 tentang PPnBM Kendaraan Bermotor. Pihaknya bersama sejumlah perguruan tinggi terus melakukan penelitian komprehensif dalam rangka pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

“Dari hasil studi bersama enam universitas (UI, ITB, UNS, Udayana, ITBB dan UGM) direkomendasikan memulai pengenalan teknologi hybrid tanpa menutup kemungkinan pengenalan kendaraan listrik lain. Untuk hybrid tidak perlu menunggu pembangunan infrastruktur,” terangnya.(Wnd/M-1)

Baca Juga

DOK MI

Untar Kembali Raih Penghargaan Internasional

👤Widhoroso 🕔Jumat 30 September 2022, 20:23 WIB
Untar meraih penghargaan The Third Asia Pacific Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) yang berlangsung di...
Jack GUEZ / AFP

Produk Berbasis Nabati lebih Sehat dan Berkelanjutan

👤Siswantini Suryandari 🕔Jumat 30 September 2022, 19:41 WIB
Makanan berbasis nabati yang diformulasi untuk menggantikan rasa produk hewani ternyata lebih efisien mengurangi permintaan daging dan...
Ist

Peristiwa Sekitar Berpengaruh pada Pola Memasak

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 September 2022, 19:40 WIB
Selain perubahan frekuensi, preferensi jenis masakan juga berubah seiring dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya