Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Masyarakat Harus Cerdas Gunakan Medsos demi Merawat Persatuan

MICOM
28/3/2019 23:05
Masyarakat Harus Cerdas Gunakan Medsos demi Merawat Persatuan
Annisa Putri Ayudya(IST)

MASYARAKAT harus bisa berperilaku arif atau cerdas dalam menggunakan media sosial. Hal ini agar masyarakat pengguna media sosial (medsos) tidak mudah menyebarkan berita bohong atau hoaks yang dapat memecah persatuan dan persaudaraan yang ada di masyarakat.

Hal ini disebabkan di era informasi digital yang serbacanggih ini, sumber informasi massa sudah tidak lagi dikuasai oleh media arus utama (mainstream).

Pasalnya, seluruh masyarakat pengguna internet saat ini justru berperan untuk menyumbang informasi, khususnya di medsos. Sayangnya, banyak sekali informasi yang disebar individu dan kelompok tidak bisa dipertanggungjawabkan, bahkan masuk kategori hoaks. Cek dan ricek menjadi sesuatu yang wajib dilakukan para pengguna medsos sebelum menyebarkan informasi yang sudah diterimanya.

"Masyarakat pengguna medsos tentunya tidak terburu-buru mengirimkan informasi yang diterimanya dalam menghadapi isu terkini yang diterimanya. Harus melakukan cek dan ricek dengan orang-orang terdekat atau instansi tepercaya yang menguasai isu yang sedang beredar," ujar artis dan produser film, Annisa Putri Ayudya, di Jakarta, Kamis (28/3).

Wanita yang juga terpilih menjadi Putri Intelegensia Indonesia 2011 ini mencontohkan, info soal barang bantuan yang terlambat dikirimkan ke lokasi bencana yang sering terjadi di Tanah Air masih sering simpang siur. Terutama barang bantuan sering disalahartikan bahwa distribusinya yang kurang jelas atau distribusi pada daerah-daerah terpencil terhambat.

Hal ini tentunya penting sekali untuk dikomunikasikan dengan melakukan kontak ke lembaga-lembaga yang terkait karena setiap bantuan atau penanganan terhadap isu tertentu sebenarnya sudah ada struktur pelaksanaannya.

"Tentunya instansi itu harus bikin informasi dari official sosmed. Ini penting sekali untuk dikelola terus menerus secara rutin juga sehingga masyarakat tahu betul ke mana harus mengecek ulang informasi informasi yang beredar di internet maupun di medsos, agar tidak menimbulkan hoaks yang akhirnya dapat meresahkan dan memprovokasi masyarakat," katanya.

Dikatakannya, ada tiga penyebab atau motif masyarakat pengguna medsos melakukan penyebaran hoaks. Pertama, karena orang tersebut memang tidak tahu sehingga langsung menyebarkan begitu saja misalnya ke grup WhatsApp atau messenger lainnya.

"Ini karena mereka ini merasa berita yang mereka terima itu dianggapnya penting tanpa mereka harus mengecek dulu ke sumber yang bersangkutan, baik sumber primernya maupun sumber sekunder yang sudah mengirimkan berita tersebut," kata perempuan yang juga menjadi Duta Taruna Siaga Bencana (Tagana) ini.


Baca juga: Anak-Anak di Sentani Bersuka Cita Dapat Oleh-Oleh dari Mensos


Lalu, yang kedua, kata Annisa, tidak bisa dimungkiri bahwa masyarakat Indonesia ini suka sekali dengan 'drama'. Sehingga ketika ada hal yang menarik, lalu tanpa cek dan ricek dan langsung men-share informasi tersebut dengan tujuan untuk membikin opini di komunitasnya bahwa si penebar berita itu adalah orang yang paling tahu lebih awal mengenai informasi tersebut.

"Jadi masih ada gengsi tentang keter-update-an  dari masyarakat Indonesia ini yang merasa melakukan up to date informasi itu adalah sesuatu yang mewah atau previllege tertentu. Sehingga kadang-kadang orang tersebut lupa untuk memastikan bahwa berita yang dia sampaikan ternyata tidak sepenuhnya benar," ujar mantan presenter berita dan acara di salah satu TV swasta nasional ini.

Adapun yang ketiga, lanjut dia, bisa jadi memang hoaks itu sengaja disebar karena tujuan tertentu. Dan tentunya ini yang bahaya sekali. Karena ini yang dapat memecah persatuan dan persaudaraan di bangsa kita ini.

"Saya tidak bisa mengerti apa-apa keinginannya, apa tujuannya dia menyebarkan hoaks itu. Tentunya balik ke orangnya masing-masing. Semoga masyarakat Indonesia makin pintar. Jadi bisa ngecek paling tidak ke orang-orang terdekatnya kalau pun bukan ke sumber-sumber terpercaya yang paling dekat," kata gadis kelahiran Jakarta, 20 Mei 1988 ini.

Untuk itu, menurut Annisa, perlu mengedukasi masyarakat untuk cerdas dalam mengonsumsi informasi yang beredar melalui medsos, baik mulai dari keluarga, sesama teman, institusi-institusi formal yang menyadari pentingnya penyebaran berita jujur dan positif serta peran dari pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap publik, dengan kata lain ini tanggung jawab bersama.

"Semua ini adalah tanggung jawab kita bersama. Karena edukasi untuk kecerdasan masyarakat dalam bermedia sosial dan bijaksana dalam menanggapi hoaks adalah salah satu isu yang jadi penting sekali. Keterbukaan terhadap media sosial menjadi wacana yang penting, karena  kalau ada yang dibuka harus ada penanganannya juga. Ada yang memulai harus ada yang mengelola.

"Kita harus memastikan bahwa sistem edukasi ini berjalan dengan baik, yang di edukasi juga benar dan informasi yang disampaikan juga tepat," ujar alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik