Minggu 03 Maret 2019, 17:10 WIB

Ahli Onkologi: Terapi Kanker Sangat Bergantung Respon Pengobatan

Indriyani Astuti | Humaniora
Ahli Onkologi: Terapi Kanker Sangat Bergantung Respon Pengobatan

ANTARA

 

PENGURUS Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat dr Sonar Soni Panigoro mengatakan pengobatan pada kanker payudara tidak bisa disamaratakan. Prinsipnya tergantung respon sensitif atau tidaknya pasien dalam menerima pengobatan tersebut. Jika bagus, maka dilanjutkan, sebaliknya jika pasien tidak merespon baik terhadap obat tersebut maka bisa diganti dengan alternatif obat lain.

"Pertama kalau ditunggu dikhawatirkan hasilnya bertambah buruk, telat. Kedua, efek samping obat-obatan kimiawi bisa memunculkan resistensi. Ketiga, masalah biaya, kalau tidak mempan jangan dipaksakan untuk diberikan," kata Sonar kepada Media Indonesia, Minggu (3/3).

Hal itu ia kemukakan menanggapi gonjang-ganjing ketentuan restriksi pemberian trastuzumab terhadap pasien kanker payudara HER-2 positif. Menurutnya, tidak semua pasien kanker payudara dengan pemeriksaan patologi anatomi HER-2 positif akan gawat jika tidak diberikan trastuzumab. Karena, pengobatan kanker berdasarkan penelitian.

"Pada pasien kanker payudara stadium lanjut yang diberikan trastuzumab kemungkinan daya tahannya menambah 3 bulan. Tetapi pada prosesnya bisa juga pasien tidak merespon baik terhadap pengobatan itu," terang pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama RS Kanker Dharmais.

Baca juga: Berharap Trastuzumab untuk Pasien Kanker Payudara

Dalam aturan penggunaan trastuzumab untuk pasien kanker payudara metastatik dalam pelayanan JKN, lanjut Sonar, ada restriksi terhadap pemberian obat itu. Trastuzumab hanya dapat diberikan pada pasien kanker payudara yang HER-2 positif berdasarkan pemeriksaan hasil patologi anatomi. Selain itu, dilihat juga stadium dan penyebaran sel-sel kankernya.

Spesialis bedah onkologi konsultan itu menyampaikan tidak semua pengobatan kanker akan berhasil 100%. Ia mencontohkan seperti pemberian antibiotik terus menerus pada pasien tuberkolosis, ada kemungkinan timbul resistensi.

Pada pasien kanker, imbuhnya, juga dapat terjadi hal serupa baik pengobatan kemoterapi, trastuzumab, ataupun pengobatan hormonal. Jika sudah berkali-kali diberikan, pasien dapat menunjukan respon sensitif (kebal) terhadap pengobatan itu.

"Jika dokter melihat tidak ada efeknya maka dihentikan. Sebaiknya dicari pengobatan lain. Walaupun sudah ada indikasi HER-2 positif. Dalam pengamatan dokter, jika tidak ada hasilnya harus dicari strategi lain," tuturnya.

Selain bisa menjadi kebal, Sonar mengatakan status HER-2 pasien kanker payudara juga bisa berubah. Pada pemeriksaan pertama status HER-2 positif, kemudian diobati. Lalu beberapa kali kambuh dan ditemukan sel kanker di tempat lain, hasil biopsi bisa menunjukkan status HER-2 negatif. Menurutnya, ada obat lain yang sifatnya anti HER-2 bisa diberikan pada pasien kanker payudara dengan HER-2 positif yaitu lapatinip.

"Obat ini ada dalam daftar formularium nasional dan dijamin oleh BPJS Kesehatan," sambungnya.

Obat trastuzumab merupakan suatu monoclonalantibody yang menargetkan sel kanker payudara dengan over express protein HER-2 (Human Epidermal growth factor Receptor -2), dengan kejadian berkisar 20-30% dari pasien yang baru terdiagnosis kanker payudara. Dengan terikatnya trastuzumab pada reseptor protein HER2, obat tersebut dapat menganggu pertumbuhan dan penyebaran sel kanker payudara.

Sebelum obat tersebut diberikan kepada pasien, jaringan tumor diperiksa di laboratorium patologi anatomi menggunakan teknik imunohistokimia untuk menentukan keberadaan HER2 di dalam sel tumor ganas payudara.(OL-5)

Baca Juga

DOK Universitas Pancasila

Universitas Pancasila Gelar Wisuda secara Daring

👤Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 28 November 2020, 21:17 WIB
Universitas Pancasila hingga kini telah meluluskan 60.608 sumber daya manusia terdidik dari ahli madya, profesi, dan sarjana berbagai...
DOK. Denny JA

8 Serial Film Era Virus Korona Diluncurkan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 November 2020, 20:46 WIB
8 serial film Denny JA ini dibintangi artis dan aktor nasional papan atas, yaitu Christine Hakim, Reza Rahadian, Ine Febriyanti, Ruth...
Kagama

Kemendikbud Ingin Ubah Stigma Pendidikan Vokasi

👤Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 28 November 2020, 20:08 WIB
Stigma pendidikan vokasi yang masih dianggap pilihan kedua dan dipandang sebelah mata diharapkan bisa berubah. Memilih pendidikan hendaknya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya