Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Siapa Saja Selebritas yang Gaungkan Suarakan Pesan Antiperang dan Dukungan untuk Palestina di Oscar 2026?

Haufan Hasyim Salengke
17/3/2026 09:47
Siapa Saja Selebritas yang Gaungkan Suarakan Pesan Antiperang dan Dukungan untuk Palestina di Oscar 2026?
David Borenstein, mengenakan pakaian putih, dan Pavel Talankin, kiri, di Oscar pada Minggu (15/3), menerima penghargaan untuk Mr. Nobody Against Putin.(Philip Cheung untuk The New York Times)

MALAM puncak Academy Awards atau Oscars tahun ini tak hanya menjadi panggung apresiasi film, tetapi juga ruang ekspresi politik sejumlah selebritas. Beberapa bintang Hollywood mengenakan pin bertuliskan 'Free Palestine', 'ICE OUT', hingga simbol dukungan gencatan senjata di Gaza.

Di karpet merah dan panggung utama ajang yang digelar di Dolby Theatre, Los Angeles, sejumlah selebritas menyuarakan sikap mereka terhadap isu global, mulai dari perang di Gaza hingga kebijakan imigrasi Amerika Serikat (AS).

Aktor Spanyol Javier Bardem (foto:  X/leylahamed) tampil mengenakan emblem bordir bertuliskan No a la Guerra (Tidak pada Perang) saat naik panggung untuk membacakan nominasi film internasional terbaik. Ia juga mengenakan lencana bergambar Handala, karakter kartun yang menjadi simbol identitas Palestina. Aktor F1 ini menyinggung pin yang sama yang ia pakai pada 2003 saat mengecam serangan AS terhadap Irak.

“Tolak perang dan Free Palestine,” ujar Bardem dari atas panggung.

Aktor Australia Guy Pearce (foto: Angela Weiss/AFP) juga terlihat mengenakan pin 'Free Palestine'. Sebelumnya, ia sempat meminta maaf atas unggahan media sosial yang dinilai antisemit dan dikatakannya terunggah tanpa sengaja dalam konteks dukungannya terhadap perjuangan Palestina.

Selain itu, sejumlah tamu yang mewakili film dokumenter The Voice of Hind Rajab mengenakan pin merah 'Artists4Ceasefire', mengingatkan publik pada tragedi kemanusiaan yang menimpa warga sipil Gaza. Film tersebut mengisahkan upaya penyelamatan seorang gadis Palestina yang tewas di Gaza dan masuk nominasi film internasional terbaik.

Saja Kilani, salah satu pemeran film tersebut, mengatakan solidaritas lintas isu menjadi pesan utama yang ingin disampaikan. “Perjuangan kita saling terhubung. Begitu juga pembebasan kita,” ujarnya di karpet merah.

Aktivisme Kian Menguat 

Kehadiran pin protes di Oscars memang tak sebanyak di ajang Grammy Awards sebelumnya, tetapi tetap menandai menguatnya aktivisme di kalangan seniman selama musim penghargaan tahun ini.

Jess Morales Rocketto, Direktur Eksekutif Maremoto--organisasi advokasi Latino yang menggagas pin isu imigrasi di Golden Globes--menyebut fenomena ini sebagai “kembalinya tradisi” keterlibatan politik para selebritas atau seniman.

Ia menilai pernyataan aktor Mark Ruffalo di karpet merah Golden Globes Januari lalu menjadi pemicu. Saat itu, Ruffalo mengatakan sulit berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika dunia sedang menghadapi berbagai krisis.

“Ini adalah momen untuk mengambil sikap dan memperjelas posisi kita dalam sejarah,” kata Morales Rocketto.

Di panggung utama, sutradara Paul Thomas Anderson menyebut film politik terbarunya ia tulis sebagai bentuk refleksi terhadap “kekacauan” dunia yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, pembawa acara Conan O'Brien menyelipkan satire mengenai sistem kesehatan AS dan figur konservatif dalam monolognya. Dalam momen yang lebih serius, ia menekankan pentingnya optimisme dan kolaborasi global di tengah berbagai krisis dunia.

Isu Global dan Kritik Sosial

Kategori film dokumenter juga memunculkan komentar politik. David Borenstein, salah satu sutradara Mr. Nobody Against Putin, menyatakan filmnya berbicara tentang bagaimana sebuah negara dapat “hilang” melalui tindakan-tindakan kecil yang kompromistis.

Di luar gedung acara, organisasi advokasi Free Press mengoperasikan papan reklame berjalan yang memprotes kemungkinan pengambilalihan Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance.

Nuansa politis Oscar tahun ini dirasakan jauh lebih kental dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Morales Rocketto mengakui bahwa satu pin tidak serta-merta mengubah kebijakan imigrasi AS. Namun, ia menyebut setiap tindakan individu sebagai tetesan dalam samudra besar perubahan yang ingin digerakkan.

Ia menyebut fenomena ini sebagai "kembalinya kesadaran politik artis". Ia menilai para selebritas kini lebih berani menggunakan platform mereka untuk bersikap secara terbuka di tengah sejarah yang sedang bergejolak.

“Ini hanya terjadi jika para bintang bersedia menggunakan platform mereka untuk menyampaikan lebih dari sekadar busana yang mereka kenakan,” ujarnya.

Musim penghargaan tahun ini menunjukkan bahwa panggung hiburan global kian menjadi arena artikulasi sikap politik, dengan selebritas memanfaatkan sorotan publik untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan kebijakan publik. (Times of Israel/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik