Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dari Imajinasi Kasur Kamar Andien ke Panggung Konser Suarasmara

Fathurrozak
16/11/2025 13:00
Dari Imajinasi Kasur Kamar Andien ke Panggung Konser Suarasmara
Konser Suarasmara Andien.(Dok. MI/Fathurrozak)

SEMALAM, Sabtu, (15/11), Andien merampungkan hajatan kenduri 25 tahunnya bermusik melalui tajuk Konser Suarasmara. Ia memulai dari usia sangat belia, saat masih remaja. Hingga kini ia telah melintas berbagai masa.

Mulai dari berguru ke Elfa Secioria dan debut albumnya diproduseri oleh sang guru vokal itu, lalu bersama maestro jazz Indra Lesmana di album kedua, hingga setidaknya kini Andien telah merilis sekitar delapan album studio.

Di panggung Konser Suarasmara, Andien tampil dengan sangat percaya diri. Membuka panggung yang menghentak dengan Moving On, dari album Kirana, Andien seperti segera ingin menyergap perhatian penonton yang memenuhi Istora Senayan.

Dengan latar papan-papan lampu neon bak Broadway, dipadukan dengan dandanan dan tata rambutnya yang mengingatkan pada Betty Boop, Andien mengajak penontonnya malam itu untuk ikut merayakan perjalanannya. Sebab, baginya, ia bukan siapa-siapa tanpa mereka yang mendengarkan lagu-lagunya.

Setelah membuka dengan nomor-nomor upbeat, Andien lalu membawa penonton untuk melambat dengan balada Detik Tak Bertepi yang juga menjadi penghormatan untuk gurunya, Elfa Secioria.

Tata panggung yang dirancang direktur kreatif Shadtoto Prasetyo juga cukup tepat dengan memanfaatkan pembagian blocking panggung menempatkan semacam tangga dan bagian panggung lebih tinggi untuk eksplorasi gerak penampil. Sementara di bawahnya, Tohpati sebagai pengarah musiknya mengaba-aba tim orkestra yang tampil prima malam itu.

Di bagian kanan panggung, Shadtoto memanfaatkan ruang panggung untuk menaruh semacam billboard. Bagian itu juga berfungsi untuk menunjukkan pembabakan tematik konser. Dari ala Broadway menuju era Y2K.

Malam itu, Andien juga mengundang Indra Lesmana untuk sedikit unjuk solo pianonya. Sebagai interlude dua nomor yang dibawakan Andien bersama Indra, My Funny Valentine dan Gemilang. Indra sendiri adalah sosok yang memproduseri Andien di album keduanya, Kinanti.

Ia lalu mengajak kolaborator lain untuk naik panggung. Salah satu lagu ‘centil’ yang melintas zaman, Didadaku Ada Kamu dinyanyikan lebih dulu oleh Andien. Hingga akhirnya menuju ujung akhir lagu tersebut si penyanyi awal, Vina Panduwinata muncul.

Keduanya lalu berduet menyanyikan itu, sebelum akhirnya Andien meninggalkan Vina yang diakuinya sebagai salah satu sosok inspirasi, menyanyi sendiri di panggung. Vina lalu membawa keriuhan penonton dengan lagu Kumpul Bocah. Lagu yang juga menjadi soundtrack film animasi Jumbo.

Tak cuma para seniornya di musik, Andien juga mengajak mereka yang lebih muda untuk ikut merayakan konser monumentalnya. Wijaya 80, yang dikenal dengan musik-musik homage retro 80-an, kebagian ikut membawakan Saat Bahagia. Sementara, White Chorus, ikut menyanyikan Menjelma dengan sentuhan aransemen baru.

Konser Suarasmara menjadi manifestasi mimpi kecil Andien. Ia tak lagi konser di antara tumpukan bantal dan di atas kasur kamarnya. Kini, yang menyaksikannya bukan kedua orangtuanya saja. Melainkan keluarga, pendengar, fans, hingga bahkan mereka yang usianya belum genap dengan perjalanan bermusik Andien.

“Malam hari ini aku akan mewujudkan manifestasi seorang gadis kecil, gadis berusia 3 sampai 5 tahun yang setiap malam, mungkin mama papaku ingat. Aku selalu membuat kasur di rumah menjadi seolah-olah panggung yang besar dengan ribuan penonton, seolah-olah nyalamin penonton, dan malam hari ini aku berusaha untuk mewujudkan mimpinya,” kata Andien di atas panggung, Sabtu, (15/11). (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya