Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTIRS sekaligus pemerhati lingkungan, Luna Maya menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi krisis sampah di Indonesia.
Luna dengan tegas mengatakan meski pemerintah telah berupaya memperbaiki sistem pengolahan sampah, akan percuma jika tidak ada dukungan masyarakat.
"Pemerintah sudah berusaha, tapi kesadaran harus datang dari kita sebagai pelaku utama. Kita yang menentukan ke mana sampah ini akan berakhir," ujar Luna di puncak World Cleanup Day (WCD) Indonesia, Minggu (22/09).
Baca juga : World Cleanup Day Indonesia: Kolaborasi Masyarakat dan Pemerintah Menuju Indonesia Bebas Sampah 2025
Sebagai seorang traveler yang kerap bepergian ke berbagai negara, Luna juga berbagi pengamatannya tentang perbandingan pengelolaan sampah di berbagai tempat yang ia kunjungi. "Negara terdekat yang bisa kita jadikan contoh adalah Singapura. Di sana, segalanya lebih tertata. Pengelolaan sampah mereka sangat rapi, dan kebersihan selalu menjadi prioritas utama. Selain itu, masyarakat Singapura juga sangat patuh terhadap hukum," jelas Luna.
Ia menambahkan di Singapura, kebersihan diatur ketat dengan denda dan sanksi yang diberlakukan bagi pelanggar. "Jika ada yang melanggar, mereka langsung dikenakan denda yang cukup besar, dan masyarakatnya sendiri sudah sadar akan pentingnya menjaga kebersihan. Ini sesuatu yang harus kita contoh di Indonesia," tambahnya.
Meski demikian, Luna juga mengakui dibandingkan dengan negara-negara lain yang pernah ia kunjungi, Indonesia saat ini telah menunjukkan banyak perbaikan dalam pengelolaan sampah. Namun, ia menekankan perkembangan ini masih belum maksimal, terutama dalam hal pemilahan sampah serta manajemen pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
Baca juga : Peringati World Cleanup Day, Masyarakat Diimbau Minimalisir Produksi Sampah
"Indonesia sudah banyak mengalami peningkatan, tapi kita belum mencapai tahap optimal. Pemilahan sampah belum maksimal, begitu juga dengan manajemen sampah yang mengatur dari hulu ke hilir. Ini yang masih perlu kita benahi," ungkap Luna.
Lebih lanjut, Luna berpesan kebersihan bukan hanya soal mengingatkan atau memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah. Kebersihan itu harus disertai dengan aksi nyata sebagai solusi atas masalah ini.
"Kita harus bergerak lebih jauh dari sekadar mengingatkan. Edukasi sangat penting, tapi yang lebih penting lagi adalah bergerak sebagai solusi. Bagaimana kita bisa bersama-sama, dari pemerintah hingga masyarakat, menyelesaikan masalah sampah ini," jelas Luna dengan penuh semangat.
Baca juga : Luna Maya Bicara Soal Perawatan Kulit dari Dalam
Menurutnya, perlu ada langkah-langkah yang jelas dan terukur dalam pengelolaan sampah, yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada penyelesaian secara berkelanjutan.
Luna berharap agar kegiatan seperti World Cleanup Day, yang melibatkan banyak negara dan provinsi di Indonesia, dapat membawa dampak yang lebih besar dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. "Aku berharap impact dari kegiatan ini bisa semakin besar, sehingga semua masyarakat, khususnya di Indonesia, sadar akan pentingnya mengelola sampah," tegasnya.
Melalui acara ini, WCD Indonesia berharap partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat akan terus meningkat, sehingga Indonesia dapat menuju visi sebagai negara yang bersih dan bebas sampah di masa depan. Rangkaian kegiatan ini menjadi bukti bahwa aksi nyata dan kolaborasi antara masyarakat serta pemerintah dapat menciptakan perubahan signifikan dalam pengelolaan sampah. (Z-3)
PULUHAN karyawan Harita Nickel berkolaborasi dengan masyarakat Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, menyatukan langkah dalam melakukan aksi bersih sampah dan lingkungan.
Sedikitnya 400 peserta terlibat dalam kegiatan ini
Kegiatan ini bukan hanya dimaknai sebagai aksi bersih-bersih lingkungan, melainkan juga menjadi momentum penting dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan World Cleanup Day (WCD) 2025 yang dipusatkan di kawasan belakang Hotel Pangeran hingga Pantai Muaro Lasak.
World Cleanup Day (WCD) adalah gerakan bersih-bersih global terbesar yang dilakukan serentak di 193 negara, termasuk Indonesia.
Langkah ini sejalan dengan arahan sistem pengelolaan sampah nasional, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari tingkat rumah tangga.
Pendekatan utama yang diusung adalah membangun model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat RT sebagai percontohan.
Selama dua bulan, sejak 10 Januari 2025 hingga 11 Maret 2025, proyek difokuskan di Banjar Pasedana. Di wilayah ini, terdapat 163 KK yang menjadi sasaran langsung edukasi.
Untuk memperkuat sistem ini, Pemda, Kementerian PU dan Kemendagri melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) turut berperan aktif dalam berkolaborasi.
Kondisi geografis Cianjur yang luas dan beragam, meliputi wilayah urban, pedesaan, dan pegunungan, menyulitkan proses pengangkutan dan pengolahan sampah secara merata.
SAENGGOK Land fill atau tempat pembuangan sampah yang berlokasi di Distrik Gangseo, Korea Selatan bisa menjadi salah satu contoh bagaimana tempat pembuangan sampah diubah menjadi aestetik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved