Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Moscow Fashion Week: Panggung Akulturasi Tradisi dan Inovasi Modern

Basuki Eka Purnama
01/4/2026 03:46
Moscow Fashion Week: Panggung Akulturasi Tradisi dan Inovasi Modern
Koleksi Stas Lopatkin yang ditampilkan di Moscow Fashion Week(MI/HO)

IBU kota Rusia kembali mengukuhkan posisinya dalam peta mode global melalui perhelatan Moscow Fashion Week. Berlangsung hingga 19 Maret, ajang ini melibatkan lebih dari 200 desainer dari berbagai penjuru dunia, termasuk Rusia, Tiongkok, Turki, Spanyol, hingga Armenia. 

Tahun ini, Moscow Fashion Week bukan sekadar pameran gaya, melainkan manifestasi dari pergeseran industri mode yang kini lebih menonjolkan identitas budaya.

Transformasi Identitas dan Kreativitas Global

Industri mode Rusia tengah berada dalam fase transformasi yang dinamis. Brand lokal kini gencar mengeksplorasi kode budaya nasional untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. 

Tren ini memiliki kemiripan dengan lanskap mode di Indonesia, yang juga tengah bertransisi dari sekadar basis manufaktur menjadi pusat kreativitas global dengan menginterpretasikan ulang tradisi dalam konteks kontemporer.

Sebagai platform bagi desainer independen, Moscow Fashion Week musim ini menonjolkan beberapa koleksi yang mencuri perhatian:

  • Sovushkas Bag: Memadukan karpet antik Armenia dengan material denim dan kulit yang modern.
  • Stas Lopatkin: Menggabungkan seni dekoratif Timur dan motif folklor dengan teknik tailoring Eropa yang presisi.
  • Sasha Barabakov: Menghadirkan koleksi bernuansa nostalgia masa kecil melalui detail fringe, patch, dan gaun renda semitransparan.

Perspektif Ahli: Kekayaan Budaya sebagai Fondasi

Potensi besar Rusia dalam mengolah akar budaya diakui oleh Ali Charisma, Advisory Board & Event Director Indonesian Fashion Chamber yang turut hadir sebagai tamu tetap.

“Rusia memiliki warisan budaya yang sangat kaya, mulai dari folklor, tekstil tradisional, hingga teknik craftsmanship dan siluet historis. Terutama di kalangan desainer muda, terdapat potensi besar untuk menafsirkan kembali elemen-elemen tradisional ini secara modern dan menciptakan sesuatu yang benar-benar khas,” ujar Ali.

Dialog Budaya dari Tiongkok hingga Spanyol

Otentisitas serupa juga dibawa oleh desainer internasional lainnya. Brand asal Tiongkok, Xuaujin, menampilkan koleksi yang menghormati komunitas adat Miao dan Buyi dengan menggunakan tekstil tradisional Xiangyunsha serta pewarna alami. 

Sementara itu, label asal Spanyol, Madame & Mister Sibarita, membawa napas inovasi berkelanjutan. Dengan siluet yang mengalir dan palet organik, mereka memadukan motif India yang rumit dengan pendekatan desain kontemporer yang elegan.

Benang Merah Mode Global

Fenomena yang terlihat di Moscow Fashion Week menunjukkan adanya benang merah antara desainer di berbagai negara: dorongan untuk menciptakan solusi kreatif yang berakar kuat pada identitas. 

Tradisi kini bukan lagi sekadar masa lalu yang statis, melainkan fondasi bagi desain modern yang relevan secara global. Melalui panggung ini, warisan budaya dunia diterjemahkan kembali ke dalam bahasa visual kontemporer yang lebih segar. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya