Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah di Sektor Keuangan, OJK Lakukan Ini

Ihfa Firdausya
06/4/2026 11:13
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah di Sektor Keuangan, OJK Lakukan Ini
ilustrasi(Antara)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai eskalasi konflik Iran dengan AS-Israel berpotensi meningkatkan risiko transmisi ke sektor keuangan melalui tiga kanal utama. Pertama financial market channel, kedua kenaikan harga energi dan direct channel di dalam trade, ketiga investment exposure.

Untuk itu, OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan asesmen lanjutan secara forward looking. Selain itu memperkuat langkah antisipatif termasuk melali penguatan manajemen risiko, mencermati secara intensif kinerja debitur, serta menjaga kecukupan likuiditas dan juga permodalan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.

“Kami menilai sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar saham masih tetap relevan, yaitu buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham, penundaan implementasi pembiayaan transaksi short-selling, kebijakan trading halt, dan juga batasan auto-rejection. Pada 13 Maret 2026, OJK dan Bursa Efek Indonesia telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut,” kata Friderica dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026, Senin (6/4).

Friderica menyebut eskalasi tensi geopolitik di kawasan teluk telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas global. Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Namun Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan yang dilangsungkan pada 1 April 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.

Friderica menyampaikan, untuk kondisi perekonomian di dalam negeri, inflasi inti Maret 2026 mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi juga tetap kuat di awal tahun. Hal itu tercermin dari pertumbuhan penjualan retail yang diperkirakan mencapai 6,89% year-on-year, serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang solid.

“Dari sisi penawaran, PMI Manufaktur juga masih ekspansif. Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan divisa pada Februari 2026 di level memandai dan mencatatkan surplus neraca perdagangan,” tegasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik