Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Harga Sawit Terbang, Konflik Global Jadi Pemicu

M Ilham Ramadhan Avisena
03/4/2026 15:41
Harga Sawit Terbang, Konflik Global Jadi Pemicu
Harga sawit melonjak tajam hingga Juni 2026 dipicu konflik geopolitik global.(Antara)

KENAIKAN harga minyak sawit mentah (CPO) pada triwulan II 2026 diperkirakan tidak sekadar dipicu faktor pasar biasa, melainkan dipengaruhi dinamika energi global dan konflik geopolitik. Indonesia Palm Oil Strategic Studies mencatat, tren tersebut menandai pergeseran posisi sawit dari komoditas pangan menjadi bagian dari sistem energi global.

Dalam Outlook Sawit Q2 2026, harga CPO diproyeksikan melonjak signifikan dalam beberapa bulan. Dari sekitar US$1.165 per ton pada Maret 2026, naik menjadi US$1.440 per ton pada April, lalu kembali naik menjadi kemudian US$1.701 pada Mei, dan menyentuh US$1.783 per ton pada Juni 2026.

IPOSS menilai penguatan itu berkaitan erat dengan kenaikan harga energi global, terutama di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

"Dalam situasi seperti ini, CPO semakin dipersepsikan bukan hanya sebagai komoditas pangan dan industri, tetapi juga sebagai komoditas yang memiliki fungsi strategis dalam sistem energi," demikian petikan siaran pers IPOSS, dikutip pada Jumat (3/4). 

Kondisi global juga diperkirakan berdampak langsung ke pasar domestik. Harga CPO dalam negeri diproyeksikan ikut naik dari sekitar Rp15.065 per kilogram pada Maret menjadi Rp18.776 per kilogram pada April, dengan tren penguatan berlanjut hingga pertengahan tahun. Namun, pembentukan harga tetap dipengaruhi kebijakan dalam negeri seperti pungutan ekspor dan bea keluar.

Di sisi pasokan, situasi tidak sepenuhnya longgar. Produksi nasional CPO dan turunannya hingga akhir triwulan II 2026 diperkirakan mencapai 23,7 juta ton, sedikit di bawah periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor juga diproyeksikan turun menjadi 6,70 juta ton, dari 7,22 juta ton pada 2025. Artinya, kenaikan harga terjadi dalam kondisi pasokan yang relatif lebih ketat.

IPOSS juga menyoroti faktor lain yang memperumit kondisi pasar, mulai dari peralihan musim yang berpotensi memicu kekeringan di sentra produksi hingga peran konsumsi biodiesel dalam negeri yang tetap tinggi. Kombinasi faktor iklim, energi, dan geopolitik membuat pergerakan harga sawit semakin sensitif terhadap perubahan eksternal.

Situasi ini dinilai menjadi pengingat bahwa ketahanan industri sawit tidak bisa hanya bergantung pada momentum harga. IPOSS menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor, sekaligus memperkuat fondasi produksi jangka panjang.

Isu produktivitas kebun rakyat dan percepatan program peremajaan sawit rakyat disebut tetap krusial untuk menjaga pasokan di tengah permintaan yang terus meningkat. Tanpa pembenahan struktural, kenaikan harga berisiko tidak berkelanjutan. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya