Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas dinilai berpotensi menekan permintaan kredit perbankan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, dampak konflik tersebut berpotensi dirasakan oleh sektor dengan eksposur tinggi terhadap pasar global, seperti ekspor dan impor.
“Ya tentu akan ada gangguan di beberapa sektor tertentu, yang terutama yang sangat internasional exposed, misalnya ekspor, import dan lain sebagainya itu,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (26/3).
Kendati demikian, OJK meyakini stabilitas sistem keuangan domestik tetap dapat terjaga di tengah berbagai tantangan global. Keyakinan ini didukung oleh berbagai langkah antisipatif yang telah disiapkan serta upaya berkelanjutan dalam memperkuat sektor keuangan.
"Ada upaya-upaya yang kita lakukan, paling tidak, untuk mengamankan financial stability itu. Mungkin insyaallah kondisi itu tidak akan terlalu mengganggu, terlalu serius," ucapnya.
Ia menambahkan, dampak konflik saat ini diperkirakan tidak akan sebesar pandemi Covid-19, baik dari sisi durasi maupun tekanan terhadap perekonomian nasional.
“Situasi ini sebetulnya bisa dikatakan, mudah-mudahan tidak akan sama dengan covid-19 dan juga dampaknya terhadap perekonomian kita juga tidak akan sehebat itu,” ramalnya.
Di satu sisi, OJK tetap mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi pemburukan kondisi global. Dian menegaskan, jika situasi semakin memburuk, OJK akan melakukan peninjauan ulang terhadap berbagai kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan eksposur sektor-sektor tertentu.
“Oeh karena itu memang kita harus siap-siap,” kata Dian.
Selain itu, OJK juga telah meminta para pengawas dan industri perbankan untuk menjadikan volatilitas global sebagai sinyal peringatan dini. OJK menekankan pentingnya kewaspadaan dengan melihat dinamika tersebut sebagai warning sign, sehingga seluruh pihak dapat terus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
"Saya juga sudah minta ke teman-teman pengawas dan juga perbankan untuk betul-betul melihat situasi volatilitas global itu sebagai warning sign kepada kita untuk kita selalu mempersiapkan diri untuk for the worst," imbuhnya.
Pihaknya pun berharap konflik tidak berlangsung berkepanjangan mengingat dampaknya yang luas terhadap perekonomian global. Menurut Dian, eskalasi perang berpotensi menekan ekonomi dunia secara keseluruhan, sehingga mendorong adanya tekanan internasional untuk segera mengakhiri konflik.
Ia juga menyoroti dampak yang mulai dirasakan di Amerika Serikat, seperti kenaikan harga yang berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama menjelang agenda politik domestik seperti pemilu paruh waktu (midterm election). Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat dorongan untuk meredakan konflik.
"Di Amerika sendiri, kan ini sudah kelihatan sekarang bagaimana harga naik," tuturnya.
Bagi Indonesia, situasi ini juga menjadi perhatian karena tingginya ketergantungan terhadap impor energi, khususnya minyak dan gas. Oleh karena itu, OJK menegaskan pentingnya kesiapan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi dampak lanjutan dari dinamika global tersebut. (Ins/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved