Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Indonesia akan Punya Ekosistem Baterai Terintegrasi, Nilai Investasi hingga Rp130 T

Ihfa Firdausya
31/1/2026 04:05
Indonesia akan Punya Ekosistem Baterai Terintegrasi, Nilai Investasi hingga Rp130 T
Penandatanganan Framework Agreement Konsorsium Antam-IBI-HYD di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1).(MI/Ihfa Firdausya)

KONSORSIUM yang terdiri PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBI), dan perusahaan global HYD resmi menandatangani framework agreement untuk pengembangan ekosistem baterai terintegrasi. 

Penandatanganan tersebut turut disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1).

Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir. Mulai dari penambangan nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi sel baterai dan daur ulang.

"Ini dia akan membangun prekursor, katoda baterai sel, dari hulu ke hilir. Kapasitas pertama dia akan membangun adalah 20 gigawatt," kata Bahlil.

"Ekosistem baterai dan katodanya di Jawa Barat. Tambang, smelter, HPAL, prekursor, akan dibangun di Maluku Utara, yaitu di Halmahera Timur," jelasnya.

Ia menyebut proyek tersebut memiliki nilai investasi US$7 miliar-US$8 miliar (sekitar Rp117 triliun-134 triliun). Rencananya, proyek tersebut akan groundbreaking pada semester pertama tahun ini.

Untuk proyek di hulu, Bahlil menyebut saham mayoritas akan dimiliki negara melalui Antam. "Nanti di hilirnya, teman-teman yang punya teknologi harus mayoritas, karena dia yang menguasai teknologinya. Perbedaannya tidak berbeda jauh, hampir sama saja," katanya.

Menteri ESDM menyebut melalui proyek ini, Indonesia ingin menjadi hub ekosistem baterai mobil, terutama bahan baterai mobilnya.

"Kalau ini mampu kita lakukan, Indonesia salah satu negara setelah Tiongkok yang membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Di dunia belum ada. Itu baru dari Tiongkok dan Indonesia. Dan untuk nikel, kita yang paling besar," ungkapnya.

Harapannya ke depan, Indonesia akan menjadi salah satu pemain besar di dunia terkait dengan bahan baku dan baterai mobil. Bahlil mengatakan proyek ini untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus berorientasi ekspor.

"Ini sekaligus output-nya untuk merespons terhadap program 100GW PLTS. Karena baterainya langsung produk Indonesia. Nah ini bahan bakunya. Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga didesain untuk baterai panel surya," pungkasnya. (Ifa/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya