Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SAHAM PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memasuki fase krusial pada awal 2026. Setelah bertransformasi menjadi entitas yang lebih sehat secara finansial pasca-masuknya Grup Salim, BUMI kini berada di ambang pintu masuk indeks bergengsi MSCI Global Standard.
Di sisi lain, pasar dikejutkan dengan transaksi crossing bernilai triliunan rupiah yang memicu spekulasi restrukturisasi kepemilikan jangka panjang.
Pada Senin (19/1) pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi crossing jumbo saham BUMI senilai Rp6,91 triliun. Transaksi ini melibatkan 18,19 miliar lembar saham pada harga pelaksanaan Rp380 per saham.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pihak penjual teridentifikasi sebagai Treasure Global Investments Limited (TGIL), entitas yang terafiliasi dengan Grup Salim. Pasca-transaksi, kepemilikan TGIL menyusut drastis dari 8,08% menjadi hanya 3,18%. Menariknya, pembeli juga menggunakan broker yang sama, yakni Ina Sekuritas (kode: RB), yang dikenal sebagai broker internal Grup Salim.
Analisis Strategis: Aksi ini diyakini bukan merupakan aksi jual bersih (net sell) ke pasar reguler, melainkan perpindahan kepemilikan internal atau restrukturisasi portofolio antar-afiliasi untuk mengoptimalkan struktur kendali bersama antara Grup Bakrie dan Grup Salim di masa depan.
Katalisator utama yang mendorong harga saham BUMI melambung hingga sempat menyentuh level Rp472 pada awal Januari adalah ekspektasi "naik kelas" dari indeks MSCI Small Cap ke MSCI Global Standard Index. Rebalancing ini dijadwalkan akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif berlaku pada 1 Maret 2026.
BUMI dinilai telah memenuhi kriteria ketat MSCI, antara lain:
| Indikator Utama | Data / Nilai |
|---|---|
| Harga Tertinggi (Januari 2026) | Rp472 per lembar |
| Nilai Transaksi Crossing (19 Jan) | Rp6,91 Triliun |
| Estimasi Free Float | 33,81% |
| Target Produksi Batubara 2026 | 77 - 78 Juta Ton |
| Status Indeks Saat Ini | MSCI Small Cap & FTSE Global |
| Target Harga Konsensus Analis | Rp520 - Rp550 |
Secara fundamental, BUMI tidak lagi hanya bergantung pada batubara termal. Melalui anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), perseroan mulai memanen hasil dari tambang emas dan tembaga. Selain itu, rencana akuisisi Laman Mining untuk proyek alumina pada kuartal II-2026 menjadi bukti nyata transformasi BUMI menuju perusahaan tambang multi-komoditas.
Meskipun harga batubara global diprediksi mengalami normalisasi, efisiensi biaya operasional dan penurunan beban bunga utang secara signifikan membuat laba bersih BUMI diproyeksikan tetap stabil di sepanjang tahun 2026.
Saham BUMI saat ini berada dalam radar beli investor institusi global. Penurunan harga jangka pendek pasca-crossing seringkali menjadi kesempatan akumulasi bagi investor jangka panjang sebelum pengumuman MSCI. Namun, volatilitas tinggi tetap harus diwaspadai mengingat karakter saham BUMI yang sangat sensitif terhadap sentimen makro dan pergerakan harga komoditas. (BEI/KSEI/Riset Analis Michael Yeoh/Laporan Kinerja Keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Q3 2025 dan Outlook 2026/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved