Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pekerja Perempuan Migran Kerap Terhambat Layanan Kesehatan Reproduksi

Rahmatul Fajri
20/1/2026 19:51
Pekerja Perempuan Migran Kerap Terhambat Layanan Kesehatan Reproduksi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEKERJA Migran Indonesia  merupakan kelompok dominan migrasi tenaga kerja ke luar negeri. Data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan sekitar 66%–67% dari total penempatan pekerja migran adalah perempuan yang menunjukkan tingginya proporsi perempuan dalam pasar kerja internasional.

Sebagai kelompok usia produktif yang bekerja pada sektor domestik, jasa, dan manufaktur, Pekerja migran perempuan menghadapi berbagai tantangan kesehatan reproduksi yang signifikan.

Penelitian pada pekerja migran yang bekerja di Malaysia menunjukkan bahwa masalah kesehatan reproduksi cukup sering dialami. Salah satu studi menemukan hanya sekitar 13,5–22% pekerja migran perempuan yang memakai layanan kesehatan reproduksi saat mengalami gangguan, seperti siklus menstruasi tidak teratur, dismenore berat, dan gejala reproduksi lain.

Kondisi ini menunjukkan adanya hambatan dalam akses dan pemanfaatan layanan kesehatan reproduksi oleh pekerja migran perempuan. Selain itu, masih banyak PMI perempuan belum terpenuhi kebutuhan layanan perencanaan keluarga, yakni sekitar 31,5%.

Di Penang, Malaysia, sebagian besar pekerja migran adalah perempuan usia produktif. Pekerja migran perempuan di Penang juga banyak bekerja dengan jam kerja panjang, serta stres di lingkungan pekerjaan.

Berkaca dari itu, tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Trisakti menggelar progam Peri Cinta (Periksa, Cepat Kenali, Lindungi Kesehatan Wanita) kepada PMI perempuan.

Sebanyak 28 pekerja migran Indonesia perempuan mengikuti program Peri Cinta yang dimulai dengan edukasi dan pelatihan Sadari (Periksa Payudara Sendiri). Laksmi Maharani, salah satu dosen tim PKM Universitas Trisakti, mengatakan melalui edukasi dan pelatihan ini, pengetahuan peserta meningkat 100% dengan rerata peningkatan skor pengetahuan 30%. Adapun untuk keterampilan Sadari, 100% peserta bisa melakukan pemeriksaan Sadari.

Pada PKM ini, jelas dia, setiap peserta juga mendapatkan kesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah dan asam urat, serta konsultasi kesehatan reproduksi perempuan dengan dokter kebidanan dan kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

"Kegiatan ini merupakan solusi kami mengatasi permasalahan rendahnya literasi kesehatan reproduksi perempuan usia produktif," kata Laksmi, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan program PKM Peri Cinta ini merupakan PKM Internasional yang berkolaborasi dengan KJRI Penang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Trisakti. "Ini juga untuk memperkuat jejaring internasional dan berdampak nyata bagi masyarakat Indonesia yang berada di negara lain," kata Laksmi.

Selain Laksmi, tim PKM ini terdiri dari tiga dosen lainnya yaitu Hervi Wiranti, Gita Handayani Tarigan, dan Prof Astri Rinanti, serta mahasiswa Fakultas Kedokteran Raissya Keikazita Arvasabella, Nabilla Dwi Agustin, dan Helvy Nadia Rahma Kirdiat, serta alumni Himawan Jodie.

Mereka bersama-sama menjalankan strategi pencapaian kesehatan reproduksi perempuan seperti edukasi dan promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, advokasi untuk dukungan kebijakan dan kemitraan, serta pemantauan dan evaluasi berkala secara berkelanjutan. "Kami berharap PKM ini bermanfaat bagi perempuan migran Indonesia di Penang terutama dalam mengatasi masalah kesehatan yang dialami pekerja perempuan migran di Penang," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya