Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Dorong Desa Wisata Naik Kelas lewat Pendampingan Berkelanjutan

Naufal Zuhdi
06/1/2026 21:45
Dorong Desa Wisata Naik Kelas lewat Pendampingan Berkelanjutan
Ilustrasi(Dok BCA)

PENGEMBANGAN desa wisata kini tidak lagi semata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan. Di tengah perubahan preferensi wisatawan dan meningkatnya kesadaran terhadap keberlanjutan, kualitas tata kelola, pengalaman wisata, serta dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat lokal menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing destinasi. Pendekatan ini menjadi landasan program pendampingan Desa Bakti BCA, yang kembali diperkuat melalui kegiatan Sharing Session Quality Tourism Desa Bakti BCA pada akhir 2025.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Wisata Taro, Bali, ini melibatkan perwakilan dari 10 desa dan komunitas wisata binaan, serta menghadirkan Duta Bakti BCA Nicholas Saputra sebagai narasumber.

Sebanyak 10 desa dan komunitas wisata yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Desa Wisata Hijau Bilebante di Nusa Tenggara Barat, Kampung Adat Nagari Sijunjung di Sumatra Barat, hingga Desa Wisata Pulau Derawandi Kalimantan Timur dan Desa Wisata Taro di Bali. Forum tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran praktis bagi pengelola desa wisata untuk memperdalam pemahaman tentang tata kelola pariwisata yang bertanggung jawab, berstandar tinggi, dan selaras dengan prinsip Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE).

Dalam konteks ekonomi, peningkatan kapasitas pengelolaan dinilai menjadi kunci agar desa wisata mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa pariwisata berkualitas tidak dapat dilepaskan dari dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan.

“Pariwisata yang berkualitas tidak hanya diukur dari volume kunjungan, tetapi juga dari pengalaman wisata yang bermakna, penerapan standar layanan yang unggul, serta kemampuannya memberikan dampak positif bagi perekonomian, sosial budaya, dan kelestarian lingkungan setempat,” ujar Hera dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (6/1).  

Ia menambahkan, forum ini diharapkan dapat menjadi ruang belajar bagi para pengelola desa wisata untuk meningkatkan daya saing destinasi secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran desa sebagai penggerak ekonomi lokal.

Pemilihan Nicholas Saputra sebagai duta dan narasumber juga didasarkan pada keterlibatannya di sektor pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga keseimbangan antara kualitas layanan, pelestarian lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal.

“Setiap destinasi memiliki karakter dan cerita yang unik, sehingga pendekatan pengelolaannya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Pengembangan destinasi yang menghormati alam dan budaya serta melibatkan masyarakat lokal akan memperkuat keberlanjutan desa wisata,” ungkap Nicholas.

Dari sisi kebijakan, program pembinaan Desa Bakti BCA disusun dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan strategi nasional pengembangan pariwisata yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif di tingkat lokal. Saat ini, BCA secara intensif membina 27 desa wisata di berbagai daerah.

Sejumlah desa binaan tersebut telah mencatatkan capaian nasional dan internasional, termasuk penghargaan di ajang ASEAN Tourism Awards 2025 serta pengakuan dari UNWTO melalui program Best Tourism Villages Upgrade.

Dalam perspektif ekonomi, pendampingan berkelanjutan sepertiini berperan penting dalam mendorong desa wisata naik kelas, bukan hanya sebagai destinasi kunjungan, melainkan sebagai pusataktivitas ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, menjaga nilai budaya, dan memastikan keberlanjutan lingkungan.

Melalui penguatan kapasitas dan tata kelola, desa wisata diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih tangguh dalam jangka panjang. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya