Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Netral Karbon tak Cukup, Industri Mesti Kejar Penurunan Emisi Permanen

Insi Nantika Jelita
05/1/2026 21:15
Netral Karbon tak Cukup, Industri Mesti Kejar Penurunan Emisi Permanen
Instalasi panel surya pada pabrik Mowilex di Cikande yang diresmikan pada 2025 diproyeksikan akan menurunkan konsumsi listrik pabrik hingga 25 persen.(Dok Mowilex)

DI tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan, komitmen terhadap netral karbon tidak lagi cukup berhenti pada pencapaian sertifikasi. Dunia usaha kini dituntut melangkah lebih jauh: memastikan bahwa penurunan emisi benar-benar terjadi secara nyata dan permanen di tingkat operasional. Pergeseran inilah yang mulai terlihat dalam strategi sejumlah perusahaan manufaktur di Indonesia.

Sejak pertama kali memverifikasi jejak karbonnya pada 2018, PT Mowilex Indonesia, produsen cat dekoratif dan pelapis premium, memperluas cakupan pengelolaan emisi, meliputi seluruh emisi Scope 1 dan Scope 2, serta elemen-elemen signifikan dari Scope 3. Pendekatan ini menuntut tata kelola operasional yang lebih disiplin, integrasi pengelolaan karbon dalam perencanaan energi, serta kerja sama yang lebih erat dengan mitra dan pemasok.

Seluruh perhitungan emisi Mowilex diverifikasi secara independen oleh SCS Global Services sesuai standar akuntansi gas rumah kaca yang diakui secara internasional. Transparansi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa klaim netral karbon dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan kredibel.

“Seiring berjalannya waktu, pengelolaan karbon tidak lagi menjadi sekadar laporan saja, tetapi sebuah prinsip yang secara langsung memengaruhi cara kami merencanakan penggunaan energi, menjalankan operasi, dan menentukan prioritas investasi,” ujar Chief Supply Chain Officer Mowilex Indonesia Yossy Tresinya Prameswari.

Struktur konsumsi energi menjadi salah satu fokus utama. Sekitar 71% dari total penggunaan energi Mowilex berasal dari listrik, menjadikannya komponen terbesar dalam jejak karbon perusahaan. Karena itu, strategi perusahaan diarahkan pada dua jalur sekaligus: memastikan listrik yang dibeli dipadankan dengan sumber energi terbarukan bersertifikat, serta mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik melalui pembangkit energi terbarukan internal.

Pada 2025, Mowilex meresmikan instalasi panel surya berskala besar di atap pabriknya di Cikande, Banten. Sistem ini diproyeksikan mampu menurunkan konsumsi listrik pabrik hingga 25 persen. Sebelumnya, panel surya atap juga telah dipasang di kantor pusat Mowilex sejak 2023 dan kini menyuplai sekitar seperempat kebutuhan listrik gedung tersebut.

Langkah ini menandai pergeseran penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan: dari pendekatan berbasis sertifikasi menuju penurunan emisi yang bersifat struktural dan jangka panjang. Investasi infrastruktur energi terbarukan dipandang sebagai cara paling efektif untuk memastikan pengurangan emisi tidak bergantung pada mekanisme kompensasi semata.

CEO Mowilex Indonesia Niko Safavi menekankan tantangan terbesar justru berada pada pengelolaan emisi Scope 3, yang mencakup rantai pasok dan aktivitas di luar kendali langsung perusahaan. “Kami menghitung dan melaporkan seluruh emisi Scope 1 dan Scope 2, serta memasukkan bagian-bagian Scope 3 yang saat ini dapat kami ukur secara kredibel. Scope 3 adalah lingkup yang paling menantang, namun mengabaikannya tidak akan membuatnya hilang. Perubahan nyata dihasilkan dari eksekusi dan investasi pada infrastruktur, lebih dari sebuah sertifikat,” ujarnya.

Untuk memperkuat konsistensi dan kredibilitas pelaporan, Mowilex juga telah beralih menggunakan kerangka akuntansi karbon ISO 14064. Standar ini memungkinkan pelacakan emisi yang lebih sistematis serta memudahkan perbandingan lintas periode dan lintas industri. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya