Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah tudingan Amerika Serikat (AS) bahwa Indonesia telah mengingkari komitmen dalam perundingan dagang.
Ia menegaskan negosiasi terkait penurunan tarif sejumlah barang Indonesia menjadi 19% masih terus berlangsung, dan tidak ada pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya, termasuk isu tarif digital maupun sektor pertanian.
Pernyataan ini disampaikan untuk merespons laporan media internasional yang menyebut kesepakatan dagang kedua negara terancam runtuh akibat meningkatnya frustrasi di pihak Washington.
"Enggak melanggar, masih jalan negosiasinya,” tegas Budi di Jakarta, Rabu (10/12).
Mendag juga menyatakan belum ada informasi mengenai rencana kunjungan pejabat Amerika Serikat ke Indonesia.
"Belum tahu, mungkin itu bagian dari proses negosiasi," katanya.
Pernyataan serupa disampaikan Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto. Ia menekankan perundingan dagang RI-AS masih berproses dan tidak terdapat persoalan spesifik.
Menurutnya, jika ada dinamika dalam proses negosiasi, itu merupakan hal yang lumrah.
"Kalau ada dinamika dalam proses perundingan, itu adalah hal yang wajar," ucapnya.
Pemerintah Indonesia, katanya, berharap kesepakatan dagang dengan 'Negeri Paman Sam' dapat segera selesai dan menguntungkan kedua belah pihak.
Melansir Financial Times, kesepakatan dagang Indonesia–AS dilaporkan berada di ujung tanduk. Mengutip sumber yang memahami jalannya perundingan, seorang pejabat AS menilai Indonesia mundur dari komitmen yang sempat dicapai pada Juli lalu.
Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer menilai Jakarta menarik diri dari sejumlah kewajiban yang telah disepakati, termasuk penghapusan hambatan non-tarif untuk ekspor industri dan pertanian AS serta komitmen terkait isu perdagangan digital.
Menurut sumber tersebut, pejabat Indonesia menyampaikan beberapa komitmen yang bersifat mengikat tidak dapat dipenuhi sehingga perlu dikemas ulang. Namun, pihak AS menilai usulan perubahan ini berpotensi menghasilkan kesepakatan yang lebih buruk dibandingkan perjanjian terbaru AS dengan Malaysia dan Kamboja.
"Indonesia secara terang-terangan mengatakan mereka tidak dapat melaksanakan apa yang telah disepakati dan perlu menegosiasikan ulang komitmen awal agar tidak mengikat," sebut sumber itu.
"Ini sangat bermasalah dan tidak diterima dengan baik oleh pihak AS. Indonesia bisa saja kehilangan kesepakatan ini," sambungnya.
AS juga meyakini kesepakatan pada Juli lalu telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelum rincian perjanjian tarif impor secara resiprokal dibahas lebih luas oleh pejabat terkait di dalam negeri. Namun, menurut sumber tersebut, dinamika politik domestik menjadi salah satu faktor yang membuat proses finalisasi berjalan lambat. (Ins/E-1)
ISU soal keamanan data pribadi warga negara belakangan ini kembali mencuat.
Pembahasan masih dalam tahap negosiasi bilateral sehingga belum ada kesepakatan final mengenai komoditas apa saja dari Indonesia yang akan dikenakan tarif tambahan tersebut.
Pelaku usaha utamanya industri garmen, tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur diminta menggenjot kapasitas mereka menjelang penerapan tarif resiprokal
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam negara-negara yang mendukung kebijakan anti-Amerika di bawah payung BRICS.
penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sikap terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengecualikan peralatan elektronik dari pengenaan tarif resiprokal.
Ketum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menanggapi positif perkembangan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang dianggap meringankan beban ekspor nasional
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved