Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKADEMI IPB University, Prima Gandhi, menyoroti bahwa dalam beberapa bulan terakhir, industri tembakau mengalami guncangan cukup berat. Penurunan produksi rokok menyebabkan serapan tembakau dari petani menurun drastis, yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
“Petani menghadapi ketidakpastian pasar dan fluktuasi pendapatan yang berpotensi meningkatkan angka pengangguran dan ketidakstabilan sosial terutama di daerah penghasil tembakau seperti Madura dan Jawa Timur,” ujarnya dilansir dari keterangan resmi, Rabu (17/9).
Menurut Gandhi, harga beli tembakau turun signifikan, bahkan menyebabkan penurunan pendapatan petani hingga 30% di beberapa daerah seperti Temanggung. Kondisi ini diperparah oleh ancaman pengurangan tenaga kerja di sejumlah pabrikan besar akibat melemahnya daya beli masyarakat dan maraknya peredaran rokok ilegal.
Gandhi menegaskan bahwa moratorium atau penundaan kenaikan cukai sangat penting untuk memberi ruang pemulihan bagi ekosistem industri tembakau.
“Moratorium ini sangat strategis untuk memberi ruang bagi ekosistem industri tembakau beradaptasi dengan tekanan pasar dan regulasi yang selama ini membebani petani dan pabrikan. Moratorium penting untuk menstabilkan harga dan pasar tembakau serta mencegah penurunan kesejahteraan petani lebih dalam,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini, kebijakan kenaikan cukai rokok berdampak langsung pada volume produksi dan serapan tembakau. Setiap kali tarif cukai naik, volume produksi pabrik rokok cenderung turun, yang pada akhirnya menurunkan pembelian tembakau dari petani.
“Selain itu, kenaikan cukai juga menyuburkan pasar rokok ilegal yang membuat produsen rokok legal harus menekan harga beli tembakau sehingga merugikan petani,” ucapnya.
Gandhi menilai bahwa usulan moratorium ini sejalan dengan keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan pajak pada tahun 2026, sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Keuangan. Dalam konteks ini, optimalisasi penerimaan negara sebaiknya difokuskan pada peningkatan kepatuhan pajak dan penindakan terhadap rokok ilegal, bukan melalui kenaikan tarif cukai yang justru berisiko memperburuk kondisi industri dan petani.
Terlebih dari itu, kebijakan moratorium ini dipandang dapat memberikan kepastian serapan hasil produksi para petani dalam beberapa tahun ke depan.
“Kebijakan moratorium kenaikan cukai mesti segera dilakukan karena dapat memberikan kepastian siklus pertanian tembakau dengan mengurangi fluktuasi harga dan volume pembelian dari pabrikan,” lanjutnya.
Gandhi menutup pandangannya dengan menekankan pentingnya keadilan sosial dalam perumusan kebijakan cukai. Ia berharap pemerintah mempertimbangkan kontribusi besar sektor pertanian tembakau dalam rantai nilai industri tembakau dan perekonomian daerah.
“Keadilan sosial dapat terwujud bila kebijakan cukai tidak menimbulkan tekanan berlebihan pada petani sebagai bagian penting rantai nilai industri tembakau dan menjaga keberlanjutan ekonomi daerah yang mengandalkan cukai rokok,” imbuhnya. (H-2)
Berbagai bentuk penolakan dan keberatan muncul dari berbagai elemen masyarakat dalam penyelenggaraan forum Uji Publik Kajian Penentuan Batas Maksimal Nikotin dan Tar.
Yahya menyoroti adanya tumpang tindih regulasi yang membingungkan pelaku usaha terkait kadar nikotin dan tar.
Di tengah kontribusi cukai yang mencapai ratusan triliun rupiah dan keterlibatan jutaan tenaga kerja, industri hasil tembakau (IHT) menghadapi tekanan kebijakan yang kian kompleks.
Tahun 2024, sektor ini berkontribusi hingga Rp710,3 triliun terhadap Produk Domestik Bruto, devisa ekspor sebesar US$1,8 miliar, serta penerimaan cukai Rp217 triliun.
Pemerintah Kabupaten Pamekasan menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama unsur Forkopimda dan pelaku industri rokok lokal guna membahas kebijakan cukai.
Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional kian tertekan akibat masifnya berbagai regulasi wacana pengendalian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved