Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa laporan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 yang dirilis BPS tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi saat ini.
Menurutnya, ada beberapa data yang janggal. Salah satunya soal pertumbuhan industri pengolahan.
“Selisih datanya terlalu berbeda antara BPS dan PMI Manufaktur. BPS menghitung adanya pertumbuhan 5,68% yoy untuk industri pengolahan. Sementara akhir Juni 2025, PMI Manufaktur turun dari 47,4 menjadi 46,9,” kata Bhima saat dihubungi, Selasa (5/8).
“Bagaimana mungkin PHK massal di padat karya meningkat, terjadi efisiensi dari sektor industri, bahkan di sektor hilirisasi juga smelter nikel ada yang berhenti produksi,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan konsumsi rumah tangga yang tumbuh hanya 4,97% padahal kontribusinya 54,2% terhadap PDB. Idealnya, kata Bhima, konsumsi tumbuhnya di atas 5% agar pertumbuhan ekonomi total jadi 5,12% yoy.
“Ada indikasi politisasi data yang membuat investor dan masyarakat meragukan data BPS,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2025 tumbuh 5,12% secara year-on-year. Sementara bila dibandingkan dengan triwulan I 2025 tumbuh sebesar 4,04%.
Dari sisi produksi, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2025 adalah industri pengolahan, perdagangan, infokom, dan konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 disumbang oleh komponen konsumsi rumah tangga dan PMTB.
Industri pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar yakni 1,13%, diikuti oleh perdagangan 0,70%, informasi dan komunikasi (infokom) 0,53%, serta konstruksi 0,47%.
Dari sisi pengeluaran, pada triwulan II tahun 2025 secara year on year seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah.
Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,25%. Pada triwulan II tahun 2025, komponen ini tumbuh cukup kuat yakni sebesar 4,97%.
“Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/8).
Selain itu, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga memberikan kontribusi yang besar terhadap PDB triwulan II tahun 2025 sebesar 27,83%. Dengan demikian, 82,08% PDB triwulan II berasal dari konsumsi rumah tangga dan PMTB.(H-2)
Pemerintah mengklaim sukses menutup 2025 dengan capaian kinerja perekonomian yang tetap terjaga di tengah tantangan dinamika global.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%.
Sejumlah program yang digulirkan pada akhir tahun ini juga diharapkan mampu mengoptimalisasi dan mendung kinerja positif sejumlah indikator ekonomi tersebut.
Ekonomi di kuartal IV 2025 didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, terutama dari sisi konsumsi masyarakat, yang mulai pulih.
KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) optimistis tahun 2025 bisa ditutup dengan pertumbuhan ekonomi 5,2%. Adapun untuk pertumbuhan kuartal IV 2025 diproyeksikan sebesar 5,5%.
CHIEF Economist Citi Indonesia, Helmi Arman menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi keseluruhan untuk 2025 bakal mentok di angka 5 persen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved