Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai peningkatan pinjaman online (pinjol) yang begitu tinggi menjadi cerminan penurunan daya beli masyarakat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penyaluran pinjaman melalui fintech peer-to-peer lending (P2P lending) pada April 2025 tumbuh 29,01% secara tahunan (yoy), naik dari Maret yang sebesar 28,72%. Sementara itu, skema pembiayaan buy now pay later (BNPL) mencatat pertumbuhan lebih tinggi lagi, yakni 47,11% pada April, meningkat dari 39,28% pada bulan sebelumnya.
Laju pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan kredit perbankan yang hanya mencapai 8,88% secara tahunan dan cenderung terus melambat sepanjang tahun.
"Jika kecenderungan pertumbuhan pinjol yang fantastis ini terus berlanjut, maka bisa diartikan kondisi daya beli masyarakat makin menurun," ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (13/6).
Awalil menjelaskan plihan terhadap pinjol umumnya didorong oleh kemudahan dan kecepatan proses, fleksibilitas yang tinggi, serta minimnya persyaratan dokumen. Namun, biaya dan bunga pinjaman online tergolong paling tinggi dibandingkan opsi pembiayaan lainnya.
Menurutnya, tingginya bunga yang tersalurkan melalui platform digital dapat memperbesar potensi gagal bayar, terutama jika tidak dibarengi dengan kemampuan finansial yang memadai dari para peminjam.
"Dengan tingginya nilai pinjol, risiko gagal bayar pun akan meningkat. Hal ini memberikan dampak buruk bagi pemberi pinjaman maupun peminjam," ungkapnya.
Tingginya suku bunga tersebut sering kali disadari oleh peminjam, sehingga penggunaan pinjol lebih mencerminkan kondisi terpaksa daripada rasionalitas ekonomi.
Faktor keterpaksaan ini diperkuat oleh data mengenai peningkatan rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) pada pinjol, yang kini sudah melebihi rasio kredit macet di sektor perbankan. Berdasarkan data OJK,
tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) juga mengalami sedikit kenaikan ke level 2,93% dari sebelumnya 2,77% pada Maret 2025.
"Adanya faktor keterpaksaan berutang ini diperkuat oleh informasi meningkatnya kredit macet atau yang bermasalah dalam pinjol. Besarannya juga melampaui kredit macet di perbankan," imbuhnya.
Secara umum, Awalil menyebut penggunaan pinjol masih didominasi untuk kebutuhan konsumsi. Hal ini terutama terlihat pada skema BNPL yang difasilitasi oleh berbagai platform e-commerce yang memang berfokus pada penjualan barang konsumsi. Maka, selain menggambarkan daya beli yang melemah, tren ini juga mencerminkan pergeseran preferensi konsumen terhadap sumber pembiayaan yang cepat dan instan, meski mahal dan berisiko tinggi. (Ins/P-1)
Membengkaknya utang pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online (pinjol) hingga Rp94,85 triliun per November 2025, mencerminkan semakin terhimpitnya kondisi keuangan masyarakat.
Empat pilar utama, yaitu kolaborasi data, standardisasi penilaian risiko, skema berbagi risiko, serta platform kolaborasi terintegrasi, menjadi fondasi penting yang perlu diperkuat.
ANGGOTA Komisi III DPR RI Fraksi PKB, Abdullah mengapresiasi Bareskrim Polri yang membongkar dua kasus aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal yang telah menjerat hingga 400 nasabah
Pakar Ekonomi Syariah UMY Satria Utama, judi online (judol) memiliki daya rusak yang lebih tinggi karena menyasar kelompok masyarakat yang rentan secara finansial.
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bersama 97 platform pinjaman daring (pindar) menolak dengan tegas tuduhan adanya kesepakatan untuk menentukan batas maksimum suku bunga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, lonjakan kasus penipuan keuangan atau financial scam di Indonesia semakin mengkhawatirkan.
Polisi ungkap fakta tragis keluarga tewas di Ciputat yang terlilit utang pinjaman online dan akses situs judi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved