Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM senior sekaligus pendiri Segara Institute, Piter Abdullah, menilai kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam 10 tahun terakhir gagal menciptakan perekonomian yang kuat. Itu menurutnya tercuplik dari realisasi pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 5%, alias gagal memenuhi harapan dan membuatnya sukar mencapai visi Indonesia di 2045.
“Kajian kita menunjukkan dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam periode yang panjang, dan itu tidak terpenuhi pada masanya pak Jokowi. Jadi kalau kita tumbuh di kisaran 5%, tidak mungkin kita bisa menjadi negara maju 2030 atau 2045. Jadi, saya katakan Jokowi gagal memenuhi harapan, gagal memenuhi untuk memberikan fondasi pada kita untuk menjadi negara maju pada 2045,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (25/9).
Piter mengatakan, dalam 10 tahun terakhir, stagnasi pertumbuhan ekonomi disebabkan karena pemerintahan Jokowi tak mampu memperbaiki, atau bahkan mengganti mesin perekonomian yang telah usang. Mesin perekonomian Indonesia selama ini dinilai bermasalah, tidak efisien, boros, dan tak memiliki tenaga.
Baca juga : Peta Jalan Ekonomi Kerthy Bali, Langkah Awal Transformasi Ekonomi Indonesia
Mesin ekonomi dimaksud ialah struktur perekonomian dalam negeri yang disebut terjangkit penyakit lama dan tak kunjung ditangani, yaitu praktik korupsi dan persoalan adminsitrasi maupun birokrasi. Hal-hal itu, kata Piter, menjadikan mesin ekonomi Indonesia tak andal.
“Kalau potensi (ekonomi) itu banyak sekali, tapi kalau banyak malingnya, percuma. Mesin ekonomi itu lemah karena banyak malingnya, banyak digerogotil, percuma. Ini berkaitan dengan ICOR. Ekonomi lemah itu ditandai oleh ICOR yang sangat tinggi, kedua suku bunga yang sangat tinggi, itu ukuran yang menunjukkan ada masalah di mesin ekonomi kita,” terang Piter.
“Perubahan struktur ekonomi, reformasi struktural perekonomian Indonesia. perlu reform, perlu perubahan paradigma. Ini dibutuhkan untuk bisa memperbaiki, mengganti mesin ekonomi kita supaya lebih efisien, bertenaga untuk bisa membantu pertumbuhan ekonomi di atas 7%,” tambahnya. (J-3)
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Suharti menerangkan, program pendidikan vokasi selama ini juga membantu menurunkan angka pengangguran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved