Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR pembangunan sosial dan kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi menduga naiknya angka garis kemiskinan selama setahun terakhir didorong faktor banyaknya bantuan sosial (bansos) yang dikucurkan pemerintah. Program bansos itu antara lain Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH) Bantuan Langsung Tunai (BLT) El Nino dan lainnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat garis kemiskinan Maret 2024 sebesar Rp582.932 per kapita per bulan. Jumlah ini naik 5,9% dibandingkan Maret 2023 dengan Rp550.458 per kapita per bulan. Garis kemiskinan merupakan pengukuran pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Bila penduduk yang memiliki pengeluaran konsumsi per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, maka dikategorikan sebagai penduduk miskin.
"Dengan banyaknya bansos yang diberikan pemerintah, maka daya beli bisa meningkat dan itu berpengaruh ke pengeluaran masyarakat," ungkap Tadjuddin saat dihubungi Media Indonesia, Senin (1/7).
Baca juga : Bansos telah Ditunggangi Kepentingan Politik
Mengutip data BPS, jumlah penduduk miskin di Tanah Air menurun 680 ribu. Tingkat kemiskinan di Maret 2024 sebesar 9,03% atau menjadi 25,22 juta orang. Jumlah ini menurun 0,33% dibandingkan Maret 2023 yang berjumlah 25,90 juta orang.
Tadjuddin menyebut selain bansos, aktivitas kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 juga ditengarai mendorong peningkatan belanja masyarakat dengan perputaran uang yang lebih besar daripada kondisi biasanya.
"Pada saat Pemilu banyak uang beredar di lapisan masyarakat bawah, namun sifatnya hanya sesaat," ucapnya.
Tadjuddin mendorong pemerintah untuk melakukan penanganan jangka panjang untuk pengentasan angka kemiskinan. Pasalnya, dia memprediksi pemerintah akan kesulitan mengejar target tingkat kemiskinan di kisaran 7,5% dengan berbagai faktor yang ada.
"Saya kira target itu tidak masuk akal karena memang sulit menurunkan level 1% saja," pungkasnya. (Ins)
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
FENOMENA alam El Nino yang sedang menyelimuti wilayah Provinsi Aceh sudah berlangsung sekitar tiga bulan.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Selama kemiskinan terus diperlakukan sebagai objek visual dan emosional, upaya untuk memahaminya secara utuh akan selalu terhambat.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) memperkuat pengembangan lahan pertanian di dataran tinggi indonesia yang memiliki potensi mencapai 5,51 juta hektar.
Capaian ini diraih berkat keberhasilan Kabupaten Bekasi menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,44% dan menekan tingkat kedalaman kemiskinan hingga 0,26%.
PEMERINTAH dinilai perlu mendorong pembiayaan ultramikro lebih masif agar menjadi bagian dari upaya mengentaskan kemiskinan.
Riset terbaru mencatat capaian signifikan dalam satu tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved