Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
INFLASI tetap stabil di Amerika Serikat pada bulan lalu. Ini menurut data pemerintah yang dirilis pada Kamis (12/10). Hal itu memberikan kelonggaran bagi para pengambil kebijakan dalam upaya mereka untuk meredam kenaikan harga.
Indeks harga konsumen (IHK)--yang merupakan ukuran inflasi yang diawasi dengan ketat--naik 3,7% dari tahun lalu, kata Departemen Tenaga Kerja, tingkat yang sama seperti pada Agustus. Namun secara bulanan, inflasi melambat dari 0,6% menjadi 0,4%, menurut laporan terbaru.
Selain itu, indeks dengan segmen pangan dan energi yang fluktuatif turun menjadi 4,1%. Ini terendah dalam dua tahun.
Baca juga: ExxonMobil akan Beli Produsen Minyak Pioneer sekitar US$60 Miliar
Melambatnya inflasi akan menjadi kabar baik bagi Federal Reserve yang melakukan kampanye penaikan suku bunga secara agresif sejak Maret tahun lalu untuk menurunkan permintaan dan pada gilirannya laju kenaikan biaya. Meskipun para pengambil kebijakan The Fed masih membuka peluang bagi penaikan suku bunga pinjaman acuan lagi tahun ini, angka inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi kebutuhan penaikan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya.
Selain biaya perlindungan, "Peningkatan indeks bahan bakar juga merupakan kontributor utama," terhadap kenaikan bulanan, kata Departemen Tenaga Kerja. "Sementara indeks komponen energi utama beragam pada September, indeks energi naik 1,5% dalam sebulan," departemen tersebut mencatat.
Meskipun inflasi umum sedikit lebih tinggi dari perkiraan para analis, peningkatan energi, "Belum tentu merupakan sesuatu yang akan menjadi hal yang sangat penting bagi The Fed pada saat ini," kata Kepala Ekonom EY Gregory Daco kepada AFP. "Jika kita melihat ke Oktober, penurunan harga bensin sebenarnya akan membebani angka IHK secara signifikan," tambahnya.
Baca juga: Bank Dunia Sebut Suku Bunga Tinggi Ancam Beberapa Negara
Sementara itu, dengan inflasi inti sebesar 4,1%, Amerika Serikat, "Kembali ke periode sebelum inflasi mulai meningkat secara agresif," kata Daco. Angka inflasi inti bulanan tetap pada 0,3%.
Namun para ekonom mencatat bahwa hal ini tidak berarti tren penurunan terhenti. "Kekuatan yang mendorong inflasi inti--kelebihan permintaan, krisis rantai pasokan, pertumbuhan upah yang cepat, kekacauan yang disebabkan oleh covid-19 di pasar sewa properti, dan melonjaknya harga pangan dan energi--terus mereda," kata ekonom di Pantheon Macroeconomics dalam laporan terbaru.
Para analis juga mewaspadai kemungkinan meluasnya kerusuhan di Timur Tengah yang kaya minyak mentah, setelah kelompok militan Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada akhir pekan. (Z-2)
Jajak pendapat Reuters/Ipsos tunjukkan hanya 25% warga AS dukung serangan ke Iran. Risiko lonjakan harga BBM dan korban jiwa tentara jadi ancaman bagi posisi Trump.
Pemerintah Tiongkok menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan militer terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Sebanyak sembilan orang dilaporkan tewas dan 40 lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan antara aparat kepolisian dan pengunjuk rasa Konsulat Amerika Serikat di Karachi, Pakistan.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat minggu dan memperingatkan kemungkinan korban tambahan.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan setuju dengan AS soal program nuklir Iran, namun peringatkan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
Trump setuju berbicara dengan pemimpin baru Iran. Teheran terbuka untuk upaya serius meredakan ketegangan, kata Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved